Ilustrasi. TempoAndry Prasetyo
Berita Terkait
Pesantren Syiah di Sampang Dibakar
TEMPO.CO, Sampang - Sekitar pukul 10.00 tadi, Kamis, 29 Desember 2011, ratusan orang dari berbagai desa di Kecamatan Omben dan Karang Penang menyerbu Kompleks Pesantren Islam Syiah di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Madura. Sambil mengumandangkan takbir, massa membakar musala, madrasah, asrama, dan rumah pemimpin Syiah Sampang Ustad Tajul Muluk.
Sementara jemaah Syiah hanya bisa menyaksikan amuk massa. Mereka tidak melawan untuk menghindari jatuhnya korban. Mereka terpaksa menahan marah ketika melihat massa merusak pesantren mereka.
"Pengrusakan berlangsung cepat, kami memang sengaja tidak melawan," kata satu pimpinan Pesantren Syiah Sampang Ustad Iklil Al Milal.
Menurut Iklil yang juga kakak Pimpinan Islam Syiah Sampang Ustad Tajul Muluk, saat massa merusak pesantrennya, jemaah Syiah tidak mengungsi. "Banyak jamaah kami yang emosi, mau membalas, tapi berhasil kami redam agar tidak ada korban jiwa," ujarnya.
Dia menegaskan tidak akan membalas amuk massa itu selama yang diamuk sebatas bangunan. Kendati begitu, dia meminta aparat kepolisian tetap mengusut siapa otak di balik penyerangan pesantren Syiah itu. "Kami tetap utamakan jalur musyawarah, negara ini negara hukum semua ada aturannya," tegasnya.
Dua kompi aparat Kepolisian Resor Sampang sempat tidak bisa masuk ke lokasi. Pasalnya, massa memblokir jalan menuju Nangkernang. Massa melengkapi diri dengan berbagai senjata. Bahkan, aparat Komando Rayon Militer Omben dikabarkan sempat diserang massa karena masuk ke lokasi.
"Orang dari luar desa dan tidak dikenal warga diancam akan dihabisi," kata Muhammad Alim, warga Karang Gayam, kepada Tempo.
Kepala Bagian Operasional Kepolisian Resor Sampang, Komisaris Zainuri, mengatakan karena kalah jumlah, polisi belum bisa masuk ke lokasi. Polisi masih menunggu bantuan dari Kepolisian Daerah Jawa Timur dan Kepolisian Resor Pamekasan, kabupaten di sebelah timur Sampang. "Situasi tidak memungkinkan kami ke lokasi," ungkapnya.
Soal terlambatnya aparat keamanan melakukan pencegahan, Iklil memaklumi karena lokasi Dusun Nangkernang memang terpencil dan tidak bisa dilalui kendaraan roda empat.
Akan tetapi akhirnya polisi dan TNI berhasil mengamankan lokasi kejadian. Lima ratusan orang yang merusak berkumpul sekitar 500 meter dari tempat kejadian perkara.
Kepala Kepolisian Resor Sampang Ajun Komisaris Besar Solehan belum berani berkomentar soal penyebab amuk massa itu. "Nanti tunggu Polda Jatim dulu," katanya.
Kejadian tersebut bukan yang pertama diderita warga Syiah di Madura. Pada 18 Desember 2011, rumah Matsiri, seorang pengikut aliran Syiah di Desa Bluguran, Kecamatan Karang Penang, terbakar. Menurut kabar yang beredar, terbakarnya rumah Matsiri itu terjadi beberapa hari setelah tokoh syiah Sampang Ustad Tajul Muluk pulang ke pesantrennya di Dusun Nangkernang, Kecamatan Karang Gayam.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur Kiai Abdushomad Buchori menilai konflik antara Syiah dan Suni di Sampang Madura sangat sulit untuk didamaikan. Saat ini Sampang merupakan basis Suni militan yang sulit menerima adanya aliran Syiah di kawasan itu.
"Tidak mungkin didamaikan karena Syiah itu memang tak cocok kalau dikembangkan di Madura," kata Abdushomad kepada Tempo, Kamis, 29 Desember 2011. Ketidak cocokan inilah, yang menurut Abdushomad memicu adanya konflik berkepanjangan di antara Suni dan Syiah di Sampang.
MUSTHOFA BISRI| FATKHURROHMAN TAUFIQ
Berita terkait
Suni vs Syiah di Sampang, Polda Klaim Belum Diminta Turun