foto

Marzuki Alie. ANTARA/Andika Wahyu



Marzuki Alie Dituding Cuci Tangan Soal Ruang Banggar

TEMPO.CO, Jakarta - Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) menyatakan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Marzuki Alie tidak bisa lepas tangan dari kekisruhan proyek renovasi ruang Badan Anggaran berbiaya lebih dari Rp 20 miliar. "Marzuki juga harus tanggung jawab," kata Koordinator Investigasi dan Advokasi Fitra, Uchok Sky Khadafi, di Jakarta kemarin.

Menurut Uchok, sebagai Ketua Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR, Marzuki seharusnya mengetahui setiap perencanaan renovasi ruang baru di lingkungan kerjanya--termasuk rencana renovasi ruang Badan Anggaran itu. Secara normatif perencanaan renovasi ruang tersebut diusulkan anggota Badan Anggaran kepada BURT.

Dari BURT dilanjutkan ke Sekretaris Jenderal DPR. "Biasanya, dalam hitung- hitungan, anggota BURT juga dilibatkan oleh Sekjen," kata Uchok. Meski begitu, dia menilai mustahil Marzuki tak tahu adanya program renovasi itu. Ketidaktahuan Marzuki justru menunjukkan buruknya kinerja politikus Partai Demokrat ini dalam menjalankan tugas sebagai Ketua BURT.

Cendekiawan muslim Komaruddin Hidayat mengatakan mewahnya ruang rapat Badan Anggaran menguatkan dugaan DPR merupakan lembaga untuk mencari duit semata. Dengan demikian, lembaga ini merasa butuh penampilan megah agar menimbulkan kesan menjadi anggota DPR harus kaya. "Orang pun berupaya menjadi anggota DPR dengan mengeluarkan duit untuk partai ataupun konstituennya," ujar Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, ini.

Bagi mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Amien Rais, yang patut diperiksa dalam hal ini adalah Sekretaris Jenderal DPR Nining Indra Saleh. "Agar ketahuan siapa oknum yang suka gegabah mendongkrak harga toilet dan ruang Banggar," ujarnya di Jakarta kemarin.

Pendapat yang sama diungkapkan politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Eva Kusuma Sundari. Ia menyebut Sekretariat Jenderal merugikan citra DPR. Menurut dia, selama ini Setjen seolah menunggangi anggota DPR untuk mengerjakan proyek. Eva juga melihat proyek itu sebagai proyek politik, yaitu pembusukan terhadap DPR oleh pihak-pihak tertentu. "Itu sudah kurang ajar sekali," kata Eva. "Setjen DPR cuma bisa bikin kami digebuki," kata anggota Komisi Hukum DPR itu.

Ketua DPR Marzuki Alie juga menuding Sekretaris Jenderal Nining sebagai penyebab perkara ini. Menurut dia, Nining mengkoordinasi proyek renovasi tersebut. Sejak disepakati, Marzuki mengaku tidak pernah mendapat laporan pengerjaan dan detail pelaksanaan proyek. "Saya baru tahu setelah masuk, seusai reses. Itu pun setelah ditanya wartawan," ujarnya kemarin.

Dalam proyek ini, kata Marzuki, BURT awalnya menyampaikan adanya permintaan renovasi dari Badan Anggaran. Permintaan tersebut lantas disampaikan BURT kepada Sekjen agar dilakukan pembahasan anggarannya. Lalu Sekjen membentuk tim teknis. Adapun BURT diwakili tim kecil yang dibentuk di bawah wakil ketua bidang Pius Lustrilanang. Dalam posisi sebagai Ketua BURT, Marzuki menyatakan hanya mengerjakan tugas-tugas ex officio. Sebagai Ketua DPR, Marzuki menyatakan lebih berfokus pada tugas legislasi.

IRA GUSLINA | ANANDA W TERESIA | DIMAS SIREGAR | SUNUDYANTORO



Berita terkait:



Eva Sundari Kritik DPR Makin Tak Peka
Marzuki Akan Laporkan Sekjen DPR ke KPK
DPR Janji Beri Rincian Renovasi Banggar

  • Send
  • Print