Jam Gadang di Buki Tinggi, Sumatera Barat. TEMPO/Febrianti



Zona Waktu Ideal Bagi Indonesia Sebaiknya Dua

TEMPO.CO, Jakarta  - Rencana pemerintah menyatukan zona waktu menuai beragam reaksi. Pengamat ekonomi A. Tony Prasetiantono menilai penyatuan waktu nasional tak masuk akal. Ia mengakui rencana itu akan berdampak positif terhadap perekonomian karena memudahkan transaksi perbankan. "Tapi saya pesimistis karena Indonesia terlalu luas. Ada faktor geografis yang harus diperhatikan," katanya.

Ia mengusulkan agar zona waktu disederhanakan menjadi dua saja. "Misalnya, Sumatera sampai Kalimantan Timur berada di zona barat, sedangkan Sulawesi-Jayapura zona timur. Beda sejam lebih masuk akal," ujarnya.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo juga meminta rencana itu dikaji dengan cermat. "Untuk menyatukan zona waktu Indonesia yang begini luas, harus dilakukan dengan hati-hati," ujarnya tadi malam.

Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan Antariksa Thomas Djamaludin mengatakan penyatuan zona waktu harus mempertimbangkan dampak sosial, politik, ekonomi, psikologis, dan biologis masyarakat. Pada negara dengan luas wilayah yang besar seperti Amerika Serikat dan Cina, zona waktu juga tak diseragamkan.

Thomas sepakat dengan Tony bahwa dua zona ideal bagi Indonesia. "Tiga zona tidak efektif bagi Kalimantan, dua zona ideal karena dibagi berdasarkan lautan," ujar dia. Keragaman zona, katanya, bisa disederhanakan.

Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution justru memilih rencana satu zona waktu. Sebab menurut dia akan memudahkan transaksi bisnis di pasar modal. "Bila zona waktu menjadi satu, biaya transaksi dan lain-lain bisa lebih murah," katanya kemarin.

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia Eddy Sugito mengatakan satunya zona waktu untuk menyamakan jam perdagangan dengan negara tetangga, seperti Malaysia, Hong Kong, dan Singapura. Bursa Efek Indonesia sebelumnya berencana memajukan perdagangan sekitar 30 menit dari yang berlaku saat ini pukul 09.30 WIB. "Kami butuh penyesuaian. Selama ini kami menggunakan waktu Indonesia bagian barat agar, ketika berdagang, tidak jauh berbeda dengan negara tetangga," katanya kemarin.

Pemerintah berencana menyatukan zona waktu dari semula tiga menjadi satu. Dengan penetapan zona waktu tunggal menjadi Greenwich Mean Time (GMT)+8, waktu Indonesia akan sama dengan Malaysia dan Singapura. Melalui GMT+8, penduduk Indonesia yang tinggal di kawasan timur dan tengah bakal memiliki waktu transaksi yang lebih banyak dengan masyarakat yang tinggal di kawasan barat.

Penyatuan zona waktu ternyata tak mempengaruhi penerbangan. Wakil Ketua Bidang Keselamatan, Keamanan, dan Lingkungan Indonesia National Air Carriers Association Novianto Herupratomo mengatakan penerbangan menggunakan dua penunjuk waktu, yaitu waktu internasional (GMT) dan waktu lokal.

Waktu internasional digunakan untuk komunikasi antara pilot dan petugas Air Traffic Controllers, ataupun antarpilot. Waktu internasional itu pula yang digunakan dalam laporan atau catatan pilot. Adapun waktu lokal digunakan untuk menjadwalkan penerbangan. Jadi pengaruh hanya ke jadwal penerbangan.



l MARTHA THERTINA | SUTJI DECILYA | GADI MAKITAN | M RIZKY | DIANING SARI | DEWI RINA | SUBKHAN




Pengusaha Setuju Penyatuan Zona Waktu



Negara Hemat Triliunan Rupiah Jika Zona Waktu Disatukan



Ada Dampak Penyatuan Tiga Zona Waktu



Penyatuan Zona Waktu Bisa Akibatkan Inefisiensi



Penyatuan Zona Waktu Lupakan Faktor Non-Ekonomi



BI: Rencana Penyatuan Zona Waktu Ide Bagus 



Zona Waktu Bikin Jadwal Terbang Lebih Simpel

Komentar


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan