indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Popsci.com

Keluarga Menunggu Otopsi Ulang 3 TKI

TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Luar Negeri segera melakukan koordinasi dengan Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat untuk mengusut kematian tiga tenaga kerja Indonesia (TKI) asal NTB. Ketiganya diduga menjadi korban pengambilan organ tubuh di Malaysia.

"Tidak usah didesak-desak. Kami melakukan koordinasi dengan semestinya. Tanpa desakan pun kami akan bekerja," kata Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Bantuan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri, Tatang Budi Utama Razak, di kantor Kemenlu, Jakarta, Selasa, 24 April 2012.

Menurut Tatang, permintaan keluarga ketiga TKI untuk melakukan otopsi ulang terhadap jenazah sanak-saudara mereka yang sudah dimakamkan itu memang belum ditanggapi secara positif oleh Polda NTB. "Karena itu, kami akan koordinasi (dengan Polda NTB). Jadi cuma masalah koordinasi saja," ujarnya.

Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah, mengatakan  izin otopsi ulang sudah dimasukkan keluarga korban pada Polda Nusa Tenggara Barat kemarin. Dia berharap izin itu cepat ditanggapi. "Mudah-mudahan hari ini keluar jadi bisa langsung diotopsi."

Saat ini, kata Anis, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa berjanji akan memerintahkan otopsi ulang ketiga jenazah TKI itu. Ia mendesak agar otopsi ulang dilakukan secepatnya karena tubuh korban telah dimakamkan sejak 6 April lalu. Ia khawatir jenazah telanjur rusak dan membusuk jika tidak segera diotopsi ulang.

Anis juga berharap pemerintah membantu membiayai otopsi tersebut serta mengurus perizinannya dengan lebih cepat. Kepolisian NTB, menurut dia, enggan melakukan otopsi dengan cepat karena masih menunggu perizinan dan koordinasi dengan KBRI dan pemerintah.

Tiga orang TKI asal Nusa Tenggara Barat dipulangkan dalam keadaan meninggal. Ada dugaan ketiga TKI itu menjadi korban perdagangan orang dan penjualan organ tubuh. Mereka adalah Herman asal Desa Pancor Kopong, Kecamatan Pringgasela Selatan; Abdul Kadir Jaelani asal Desa Pancor Kopong, Kecamatan Pringgasela Selatan; dan Mad Noon asal Desa Pengadangan, Kecamatan Pringgasela. Ketiga TKI meninggal dunia akibat ditembak oleh polisi Malaysia di daerah Port Dickson. Mereka dianggap membahayakan karena membawa parang dan menyerang polisi.

Menurut Hirman, kakak Abdul Kadir Jaelani, saksi yang secara langsung melihat kondisi korban di rumah sakit Malaysia, ketiga korban sudah dijahit pada dua matanya, bagian dada melintang dari dada dekat lengan kanan kiri ke dada dekat lengan kanan. Pada bagian tengah perut secara vertikal terjahit dari dada hingga perut bagian bawah pusat, serta di bagian perut dari sebelah kanan perut hingga sebelah kiri juga terjahit secara melintang.

Terkait kasus ini, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa menyatakan akan mengirim tim khusus ke Malaysia. "Pagi hari ini saya memutuskan untuk mengirimkan tim khusus dari Jakarta untuk bergegas ke Malaysia guna meminta informasi yang cukup dan menyeluruh mengenai masalah ini," kata Marty di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Selasa, 24 April 2012.

PRIHANDOKO | IRA GUSLINA SUFA



Berita Terkait
Migran Care: KBRI Teledor Tangani Kematian TKI
Tiga TKI Korban Penjualan Organ Diotopsi Ulang
Keluarga TKI Desak Pemerintah Selesaikan
Kronologi Kematian 3 TKI Terduga Korban Jual Beli Organ
Menteri Agung: Jual Beli Organ Tubuh Tak Bermoral
Migran Care: TKI Jadi Korban Pencurian Organ Tubuh
Malaysia Akui Tembak 3 TKI Asal Lombok
KBRI Malaysia Usul 3 TKI Lombok Diotopsi Ulang

Komentar


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan