Close

Kongsi Dua Sejawat Lama Luthfi-Fathanah

Senin, 04 Februari 2013 | 09:11 WIB

Kongsi Dua Sejawat Lama Luthfi-Fathanah
Wartawan mengerubuti Luthfi Hasan Ishaaq saat digiring masuk ke dalam mobil tahanan di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Kamis (31/1). TEMPO/Seto Wardhana

TEMPO.CO, Jakarta  - Banyak yang bertanya-tanya, ada hubungan apa antara Ahmad Fathanah dengan bekas Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaaq hingga menyeretnya menjadi tersangka kasus dugaan suap impor daging sapi di Kementerian Pertanian.

Sebab, KPK menetapkan Luthfi sebagai tersangka kasus suap setelah operasi tangkap tangan terhadap Fathanah di Hotel Le Meridien, Selasa lalu.

Fathanah —disebut-sebut orang dekat Luthfi—ditangkap karena menerima suap Rp 1 miliar dari Juard Effendi dan Arya Abdi Effendy, bos PT Indoguna Utama, importir daging sapi. Fathanah dan kedua bos PT Indoguna itu pun sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Luthfi dan Fathanah bukan baru kenal kemarin sore. Keduanya sejawat lama dan pernah melakukan bisnis bersama dengan mendirikan sebuah perusahaan bernama PT Atlas Jaringan Satu.

Sayangnya, bisnis penyedia voucher telekomunikasi ini pernah dilaporkan ke polisi karena dianggap ingkar janji kepada PT Osami Multimedia pada 2005. “Ketika itu masih ada tanggung jawab senilai Rp 5,5 miliar yang belum mereka penuhi,” ujar komisaris Osami yang enggan disebutkan namanya, Jum’at, 1 Februari 2013.

Tak juga dilunasi, Osami membawa kasus ini ke Kepolisian dan berujung di persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Hasilnya, Fathanah yang memiliki nama lain Olong Achmad Fadeli Luran, ditahan. Tapi hingga kini, duit Rp 5,5 miliar itu tak juga dilunasi.

"Ketika itu kasus jadi rumit karena isu yang berkembang justru tandatangan Luthfi dipalsukan Olong. Kami sudah pasrah dengan keadilan, polisi pun tidak membuktikan tandatangan Luthfi itu dengan pemeriksaan di labolatorium forensik,” kata dia.

Dari sumber lain terungkap bahwa Luthfi dan Fathanah adalah kawan sekolah. Keduanya pernah sama-sama menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Gontor hingga ke King Saud University, Riyadh, Arab Saudi. Namun Zainuddin Paru, pengacara Luthfi, menyangkal bahwa Fathanah adalah teman Luthfi. Menurut dia, Fathanah justru utusan perusahaan importir daging. “Bukan staf, apalagi teman Luthfi,” ujarnya (selengkapnya lihat majalah Tempo edisi 3-10 Februari).

Sepertinya bukan hanya dua kawan lama ini yang dibidik KPK. Lembaga antirasuah ini juga menengarai dugaan keterlibatan Suswono, Menteri Pertanian. Sebelum penangkapan, ada percakapan antara Suswono dan Lutfhi. Dalam percakapan itu, Suswono—juga salah satu petinggi PKS—memberitahukan akan ada duit “tanda terima kasih” dari Indoguna.

Suswono membantah terlibat dalam kasus suap tersebut. ”Tidak pernah, saya bekerja profesional,” katanya. Meski begitu, Suswono mengakui sempat berkomunikasi melalui telepon dengan Luthfi beberapa jam sebelum Fathanah ditangkap KPK, tapi membicarakan soal partai.

Tim pengacara Luthfi juga bergerak mencari tahu detail kasus suap izin impor daging sapi. Pengacara senior M. Assegaf mengatakan telah menjadwalkan bertemu dengan kliennya pada Senin siang ini di Penjara Guntur, tempat Luthfi ditahan. ”Pada pagi hari, tim akan ke KPK meminta surat izin masuk ke rumah tahanan Guntur,” ujar Assegaf saat dihubungi kemarin.

Assegaf mengatakan, dalam pertemuan itu, tim akan mengorek informasi secara detail dari Lutfhi ihwal kasus dugaan suap impor daging sapi. Tim pengacara, dia melanjutkan, akan menanyakan keterkaitan dan peranan kliennya. ”Kami ingin mendengar langsung dari klien, karena selama ini informasi tentang kasus tersebut hanya diperoleh dari pemberitaan di media massa,” ujar dia.

RUSMAN PARAQBUEQ | MUHAMAD RIZKI | SUKMA

Berita terpopuler lainnya:
Detik-detik Terakhir Praja IPDN Masih Ditertawakan

Yusuf Supendi: Konspirasi Suap Daging, PKS Mabuk

20 Tahun, Habibie Cicil Rumah di Patra Kuningan

Anis Matta: PKS Ibarat Logo Nike

Spanduk Sapi, Anis Matta: Kami Bukan Makhluk Suci

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan

Berita Terbaru