Senjata Baru Rafael Nadal

Rabu, 21 Januari 2009 | 15:42 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:BISAKAH gaya “bawaan” seorang pemain tenis kelas dunia diubah di tengah jalan? Banyak orang ragu. Tapi inilah proyek ambisius yang sedang dikerjakan Rafael Nadal dan Toni, pelatih yang sekaligus pamannya. Dunia akan menyaksikan adakah proyek mengubah permainan Nadal mendatangkan hasil maksimal. Seperti iklan, adakah gaya baru Nadal bekerja baik untuk melawan pemain tipe apa saja, di atas permukaan lapangan apa saja, dan mungkin dalam cuaca apa saja.

Tak ada yang tak mungkin dicapai. Bahkan Toni sudah berhasil mengubah anak Majorca, sebuah pulau di Spanyol, itu dari petenis yang bermain dengan tangan kanan menjadi pemain tangan kiri. Sekarang sejumlah perubahan dirancang. Servis Nadal akan diubah lebih mematikan, untuk menghasilkan aces (servis tanpa bisa dikembalikan lawan) lebih banyak. Maestro seperti Roger Federer sepanjang tahun lalu mencetak 695 aces, sedangkan Nadal hanya 283 aces. Caranya: mengurangi unsur putar (spin) bola dan menambah kekuatan pukulan.

Pukulan forehand juga dirombak. Seperti ditulis Eben Harrell untuk Majalah Time edisi 19 Januari, pukulan forehand spin Nadal menghasilkan 3200 putaran per menit, bola Nadal jauh lebih berputar dibandingkan Federer yang 2700 kali per menit, bahkan jauh di atas Andre Agassi yang juga ”raja top-spin” yang putaran bolanya 1900 kali per menit. Tapi Toni tahu, pukulan spin sangat menguras tenaga, jadi ia mengurangi unsur spin forehand Nadal, tentu dengan menambah kekuatan pukulan anak muda 22 tahun itu.

Kebiasaan Nadal sebagai pemain lapangan lambat untuk menunggu bola di garis belakang akan sedikit diubah. Dia akan lebih sering maju menghabisi lawan dengan pukulan voli. Sebagai latihan, beberapa tahun ini Nadal juga bermain double, yang mengharuskannya lebih banyak bermain dengan pukulan voli. Keputusan Toni pasti ada hubungannya dengan hemat tenaga. Bisa dibayangkan betapa besar tenaga diperlukan jika harus bermain tiga jam di udara 40 derajat Celcius dengan terus adu pukul dari garis belakang. Ini sebuah perubahan besar bagi Nadal.

Pada dasarnya Nadal merupakan seorang baseliners – pemain yang lebih suka menunggu bola datang di belakang garis dan menghunjamkan pukulan keras dari garis belakang. Ini khas tipe pemain lapangan lambat seperti lapangan tanah liat. Nadal sangat menyukai suasana adu-pukul dan adu tahan pukulan berlama-lama di lapangan ini. Selain tipe Nadal, dunia mengenal  tipe volleyers,   pemain yang lebih suka menyerbu ke jaring dan melayani lawan dengan pukulan voli. Permainan memang lebih cepat dan singkat. John Mc-Enroe dan Pete Sampras adalah contoh pemain voli itu. Ada lagi tipe all-court players, tipe di antara dua pertama tadi. Pemain tipe ini akan menyesuaikan strategi sesuai kemampuan dan kelemahan lawan.

Perubahan ini jelas arahnya: membawa Nadal juara di lapangan cepat. Data mencatat, pada 2008 Rafa mencatat hasil spektakuler: ia juara di lapangan tanah liat Perancis Terbuka, juara di lapangan rumput dengan bola yang mudah ”selip”, juara Olympiade, dan merebut peringkat satu seri tenis putra dunia ATP. Rupanya Toni dan Nadal akan membuat satu terobosan besar: juara lapangan ”pelan” (tanah liat atau clay, dan rumput) harus bisa juara di lapangan cepat (hard court). Nadal agaknya tak puas hanya dengan julukan ”King of Clay”, ia ingin menjadi ”King of Hard Court”.

Rekayasa Toni kelihatannya berhasil di ronde pertama. Anak muda yang suka memakai celana tiga perempat dan kaos tangan kutung itu mudah saja melewati Christophe Rochus, peringkat asal Belgia, di ronde pertama, dengan 6-0, 6-2, 6-2. Beda peringkat keduanya memang jauh. Rafa kini peringkat satu dunia, lawannya peringkat 75. Prestasi terbaik Rafa di turnamen berhadiah Rp 175 miliar di Melbourne Park ini adalah semifinalis tahun lalu, sementara Rochus pernah masuk ronde ke-empat pada 2000.

Yang sangat mencolok terlihat berhasil dari proyek Toni adalah pukulan servis Nadal. Dia banyak mendapatkan aces dari pertandingan pembuka itu. Bahkan, di set kedua, Nadal pernah menghasilkan tiga kali aces dalam satu game. Kalau saja Nadal bermain seperti di set pertama, ketika ia tak memberi satu angka pun pada lawan, rasanya dia bakal sulit dijinakkan siapapun di Melbourne Park. Tapi di set ketiga, kelihatan pukulan Nadal mulai melemah dan gampang dibaca.

Sesungguhnya proyek mengubah Nadal ini akan mulai diuji pada ronde ketiga. Kemungkinan ia akan ketemu Tommy Haas, petenis 30 tahun asal Jerman, yang merupakan semifinalis turnamen ini pada 1999, 2002 dan 2007. Seandainya Haas bisa dilewati, ujian lebih berat akan datang: Fernando Gonzales, peringkat 9, yang di ronde pertama memukul pujaan Australia, Llyeton Hewitt.

Satu hal yang mungkin dilupakan Toni, ia boleh memberikan penambahan daya bunuh pukulan Nadal, tapi jangan sampai menghilangkan ciri khas anak muda itu. Setiap pemain akan dikenang karena ia punya sesuatu yang tak dimiliki orang lain. Bagi saya, Nadal adalah seorang slugger di ring tinju – petarung yang selalu maju merangsek lawan.

Di bulutangkis, Nadal setipe dengan pemain speed and power seperti Liem Swie King atau Yang-Yang dari Cina. Dia bukan seorang Rudy Hartono yang anggun. Di tenis dia bukan Roger Federer yang tenang dengan follow-thrugh (ancang-ancang) yang sempurna dan indah. Nadal adalah remaja binal yang menggoda, bukan lelaki matang yang anggun. Nadal -- seperti iklan yang mengontraknya – identik dengan peralatan olahraga Nike yang dipakai massal, sedangkan Roger Federer adalah jam tangan kualitas tinggi Rolex yang dibuat khusus untuk para VVIP dan yang berkelas tinggi.

Tapi apa yang tak mungkin di dunia tenis. Ada dua orang yang sudah menyandang calender year grand slam, pemain yang merebut empat gelar juara turnamen grand slam dalam satu tahun – artinya mampu juara di lapangan pelan dan cepat sekaligus. Dia adalah Don Budge, petenis Amerika yang menyabetnya pada 1938, dan pahlawan Australia Rod Laver yang dua kali merebut gelar itu pada 1962 dan 1969.

Ada yang merebut empat gelar itu tidak dalam tahun yang sama (non calender year grand slam). Dialah Roger Federer, petenis Swiss yang sekarang peringkat ke-2. Kalau Nadal mampu mengalahkan Federer, mungkin ia bisa bermimpi mengoleksi gelar-gelar grand slam itu.
Tapi di Melbourne Park, ia harus melewati para begitu banyak petarung tangguh.

Selain Fernando Gonzalez, di jalur yang harus dilewati Nadal sudah menghadang Gael Monfils (Perancis), Andy Murray (Inggris) atau Jo Wilfred Tsonga (Perancis) – yang mengalahkan Nadal di semifinal tahun lalu. Kalau ia masih ”hidup”, ujian lebih hebat akan datang. Di jalur yang lebih dekat ke tangga juara, sudah berdiri Andy Roddick (AS), Novac Djokovic, petenis Serbia yang juara tahun lalu, dan tentu saja Roger Federer.

Apapun, juara atau tidak, kita sudah terhibur dengan anak muda baby face asal Majorca yang ekspresif dan eksplosif itu. Rafa adalah dinamit yang selalu meledak-ledak dan menjadi daya tarik setiap turnamen, termasuk Australia Open kali ini.

Toriq Hadad

Sumber: Wikipedia, AustraliaOpen.com, Time, berbagai website lain

  • Send
  • Print