POLITIK TENIS RUSIA
Rabu, 28 Januari 2009 | 22:17 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: TIGA petenis Rusia dan hanya seorang Serena Williams dari Amerika Serikat, di semifinal Australia Open sudah cukup menunjukkan betapa dominan negerinya Vladimir Putin itu di cabang tenis sekarang ini.
Pada tahun 1984, tidak seorang pun petenis Rusia di daftar peringkat 100 besar dunia. Tapi awal tahun ini Rusia punya 12 petenis putra dan 5 putra di daftar itu. Petenis putri Justin Henin-Hardenne berseloroh, ia kini lebih banyak mendengar percakapan bahasa Rusia di kamar ganti ketimbang bahasa Inggris.
Seperti juga olahraga basket di daerah kumuh dan miskin seperti Bronx di Amerika Serikat, tenis merupakan olahraga untuk mengubah hidup di Siberia, sebuah daerah Rusia tempat beberapa petenis handal berasal. Namun kemiskinan bukan satu-satunya alasan untuk mengayun raket. Setelah ekonomi Rusia booming -- antara lain karena harga minyak melonjak -- banyak anak muda Rusia berlatih tenis di berbagai akademi tenis seperti Nick Bollettieri di Florida, Amerika Serikat.
Alasan terpenting maraknya tenis di Rusia ternyata soal politik. Sebagai negara yang dulu dikenal tertutup dan totaliter, politik banyak berpengaruh pada perkembangan olahraga ini. Tenis di Rusia, yang tahun ini genap 100 tahun, tidak lepas dari politik pemimpin negeri.
Sekali waktu, di masa pemerintahan Lenin -- ketika Rusia masih bagian dari Uni Soviet – tenis pernah diberi stempel ”olahraga kaum borjuis” oleh para pemimpin pemerintahan. Padahal, di waktu istirahatnya Lenin bermain tenis, begitu juga Menteri Luar Negeri Viacheslav Molotov. Dampak pernyataan itu mematikan. Bertahun-tahun tak ada petenis Rusia yang bertanding di luar negeri. Petenis Soviet pertama yang boleh bertanding di luar negeri adalah Anna Dmitriyeva, yang menjadi juara kedua yunior Wimbledon pada 1956.
Kemenangan Anna – yang sekarang menjadi komentator tenis di televisi -- membawa berkah. Dalam kunjungan ke London, pemimpin Soviet, Nikita Khurschev, ditanya pemimpin Inggris: mengapa petenis Soviet tidak banyak bertanding di Wimbledon? Meskipun ketika ditanya Khurschev menjawab,”Apa itu Wimbledon,” tapi ia kemudian mengijinkan petenis Soviet bertanding di Eropah dan Amerika.
Peran presiden pertama Rusia, Boris Yeltsin, dalam booming tenis Rusia juga besar. Ia penggemar tenis. Ketika ia memerintah, para pengusaha mulai melirik olahraga raket ini dan semakin banyak uang masuk tenis ketimbang di cabang olahraga lain. Di masa Yeltsin, kalaupun bukan untuk mencari gelar juara, banyak orang bermain tennis untuk bisa masuk ke lingkungan orang-orang kaya. Yeltsin berjasa memberikan atmosfir yang baik bagi tumbuhnya tenis Rusia. Kemenangan tim putri Rusia di Fed Cup, kejuaraan tenis putri beregu se-dunia, tahun lalu merupakan hasil era Yeltsin itu. Kemenangan Elena Dementieva di Kremlin Cup tahun lalu juga demikian – Dementieva di Australia Open masuk semifinal melawan Serena Williams.
Salah satu tonggak sukses tenis Rusia era Yeltsin adalah lahirnya Anna Kournikova. Anak Moscow, 27 tahun, itu memasuki tenis profesional pada 1995. Ia tinggal di Miami Beach, AS, dan pernah mencapai semifinal Wimbledon yunior dan ranking 8 dunia. “Anna banyak menginspirasi anak-anak muda Rusia,” kata Elena Dementieva.
Sekarang ini, pemimpin Rusia Vladimir Putin tidak terlalu suka tennis. Ia lebih suka olahraga ski atau menikmati karya seni. Banyak orang bilang tenis Rusia bakal sedikit surut. Tapi dengan uang bergelimang, dan begitu banyak pemain Rusia malang melintang di dunia tenis, sangat mungkin lebih banyak lagi anak muda mengikuti jejak Maria Sharapova, Elena Dementieva, atau Dinara Safina. Tenis Rusia diramalkan akan lebih semarak.
Di era yang lebih terbuka, pengaruh pemimpin politik mungkin sudah ”kalah” dengan daya tarik imbalan miliaran di cabang tenis. Satu lagi bukti, kapitalisme memang sudah
berurat berakat di mana-mana -- termasuk di bekas tanah pusat komunisme itu.
Toriq Hadad