Spanduk Selamat Puasa yang Ikut Puasa  

Kamis, 10 September 2009 | 09:03 WIB

TEMPO Interaktif, Setiap mau masuk Ramadan, ucapan selamat datang bertubi-tubi, baik melalui SMS maupun e-mail. Si pengirim kadang mengejutkan; bisa datang dari teman yang sudah sekian lama tidak bersua atau kawan-kawan yang berbeda agama. Mengharukan dan kadang menggelikan karena isinya macam-macam, dari pantun religi hingga gaya jenaka sembari mohon maaf. Padahal si pengirim tidak pernah berbuat salah pada saya, bertemu saja belum pernah, misalnya kenal di Facebook. Terasa aneh saja.

Berlebihankah? Mungkin saja, kalau tradisi ini dipahami secara harfiah. Pengakuan salah adalah kesadaran manusia sebagai insan yang tidak bisa lepas dari kesalahan. Sabda Nabi, "Al-insân mahallul khatha'' wa al-nisyân (manusia tempat salah dan lupa)."

Manusia yang berbuat salah pada sesamanya akan menerima ampunan Allah setelah ia minta maaf kepada manusia.

Kesadaran ini positif--meskipun tampak berlebihan--daripada manusia yang hanya mencari kesalahan pada diri orang lain dan merasa dirinya paling suci. Biasanya manusia jenis terakhir ini berlindung di balik dalil "Al-amru bil ma''rûf wa al-nahy ''anil munkar (mengajak pada kebaikan dan mencegah keburukan)."

Ia merasa bersih dengan "membersihkan" kesalahan yang ada pada orang lain--tak jarang dengan paksaan--bukan ia membersihkan dirinya sendiri atau mengajak orang lain untuk membersihkan kesalahan itu.

Selain itu, saya merasa ada yang hilang dari puasa tahun ini dibanding tahun lalu: spanduk-spanduk dari partai politik yang biasanya memenuhi jalan-jalan Jakarta. Tahun lalu, hampir seluruh partai politik memasang spanduk ucapan selamat, satu partai bisa memasang ratusan spanduk. Alhamdulillah tahun ini bisa dikatakan tidak ada: Jakarta indah dan bersih dari spanduk basa-basi itu.

Saya pernah iseng menulis status di Facebook tentang fenomena ini. Responsnya macam-macam, di antaranya: "Pemilu sudah usai, tahun lalu spanduk selamat puasa sambil kampanye terselubung," atau "Uangnya sudah habis buat pemilu." Saya baru sadar, tahun ini puasa memang setelah pemilu, berarti tidak ada alasan bagi partai politik untuk menggelar spanduk ucapan selamat Ramadan. Tidak perlu kampanye lagi, bukan? *

Mohamad Guntur Romli, Penggiat Kesenian di Komunitas Salihara

 

  • Send
  • Print