Mencermati Potensi Risiko Ekonomi Indonesia
Selasa, 18 Mei 2010 | 12:10 WIB
TEMPO Interaktif, Sri Mulyani Indrawati (SMI) telah secara resmi mengundurkan diri sebagai Menteri Keuangan dan menerima tawaran sebagai Managing Director Bank Dunia. Banyak beredar spekulasi di balik pengunduran diri SMI tersebut. Tulisan ini tidak akan membicarakan spekulasi tersebut. Penulis justru mengajak kita untuk mencermati fakta-fakta ekonomi, khususnya yang terjadi belakangan ini, baik terkait maupun tidak dengan berhentinya SMI. Ini penting, karena selain kini kita memiliki momentum ekonomi yang bagus, kita juga tidak bisa mengabaikan potensi risiko yang bisa mengancam perekonomian kita.
Momentum pertumbuhan
Pada 10 Mei lalu, Badan Pusat Statistik mengumumkan kinerja ekonomi Indonesia triwulan I 2010 yang tumbuh 5,7 persen dibanding pada triwulan I 2009. Salah satu sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah ekspor-impor. Ekspor tumbuh 19,6 persen dan impor tumbuh 22,6 persen, yang merupakan indikator mengalir derasnya barang modal ke Indonesia. Sementara itu, konsumsi rumah tangga tumbuh 3,9 persen dan investasi tumbuh 7,9 persen. Satu-satunya kontributor yang mengalami penurunan adalah konsumsi pemerintah.
Pencapaian kinerja triwulan I 2010 ini membuat kita lebih optimistis bahwa perekonomian tahun ini bisa lebih menjanjikan. Ini mengingat perekonomian kita memiliki pola kenaikan pada triwulan II, III, dan IV. Pencapaian triwulan I 2010 ini memperkuat keyakinan penulis bahwa target pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2010 sebesar 5,8 persen sejatinya terlalu pesimistis. Kalau mau lebih realistis, target pertumbuhan ekonomi 2010 dapat dipatok setidaknya 6 persen.
Membaiknya kinerja ekonomi triwulan I 2010, khususnya ekspor-impor, sejatinya tak lepas dari membaiknya perekonomian global. Pada akhir April lalu, Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi naik angka proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2010 dari 3,9 persen (yoy) menjadi 4,2 persen (yoy). Proyeksi naik tersebut tak terlepas dari membaiknya perekonomian negara-negara yang menjadi pilar ekonomi dunia, seperti Amerika Serikat, Jepang, dan negara Asia lainnya.
Perekonomian Amerika mengalami peningkatan yang terindikasi dari membaiknya kinerja sisi konsumsi dan produksi. Konsumsi rumah tangga Amerika kian membaik seiring dengan mulai meredanya laju pemutusan hubungan kerja (PHK). Bahkan angka nonfarm payroll Amerika pada Maret 2010 tercatat tumbuh positif.
Di Asia, ekonomi Cina tumbuh pesat dan memicu pertumbuhan ekonomi Asia, terutama melalui jalur perdagangan. Pada triwulan I 2010, ekonomi Cina tumbuh 11,3 persen (yoy), pertumbuhan tertinggi dalam 3 tahun terakhir. Perekonomian Jepang juga menunjukkan kinerja yang menguat. Perbaikan kinerja ekonomi Jepang ini didukung oleh kinerja ekspor yang meningkat di tengah menguatnya permintaan domestik Jepang. Situasi ini akhirnya berimbas pada peningkatan kinerja industri Jepang dan meredakan laju PHK.
Selain perekonomian global yang membaik, harga-harga komoditas di pasar internasional mengalami peningkatan. Tak dapat dimungkiri, kombinasi perkembangan eksternal inilah yang turut mendorong kinerja ekspor kita tumbuh lebih tinggi. Berbagai kinerja positif ini tentunya merupakan momentum positif bagi ekonomi kita. Fakta-fakta ekonomi tersebut tentunya perlu dijaga, setidaknya agar mengikuti pola yang berlaku, di mana nanti triwulan selanjutnya akan meningkat.
Potensi risiko
Perlu diketahui bahwa sekalipun ekonomi dunia mengalami pemulihan, sejatinya hal itu belum terjadi secara merata. Pemulihan ekonomi global masih dibayangi risiko dalam kaitan dengan krisis utang di Eropa, khususnya Yunani, Portugal, dan Spanyol. Secara fundamental, ekonomi Eropa sejatinya membaik, baik di sisi penawaran maupun permintaan. Hal itu tecermin dari indikator konsumsi rumah tangga yang relatif membaik. Di sisi industri, purchasing manager index, baik sektor manufaktur maupun jasa, sudah berada pada fase ekspansi (di atas 50).
Namun krisis defisit fiskal yang terjadi di Eropa berpotensi menahan proses pemulihan. Implikasinya, situasi ekonomi Eropa tersebut menimbulkan sentimen negatif bagi pasar keuangan dunia, tidak terkecuali pasar keuangan kita. Para spekulan rupanya memanfaatkan pengunduran diri SMI di saat krisis Eropa sedang tidak menentu untuk melepas asetnya di pasar keuangan kita. Dan kita saksikan, indeks harga saham gabungan dan kurs rupiah pada minggu pertama Mei 2010 mengalami kejatuhan. Beruntung, pada 10 Mei 2010, IMF dan bank sentral Eropa mengumumkan paket penyelamatan sekitar US$ 1 triliun kepada Yunani dan negara Eropa lainnya, sehingga mendongkrak kembali kinerja pasar keuangan dunia, termasuk Indonesia.
Pesan yang hendak penulis sampaikan dari (sekali lagi) fakta-fakta ekonomi di atas adalah bahwa tahun ini kita memiliki momentum untuk tumbuh lebih baik. Namun kita jangan abai bahwa kita juga memiliki potensi risiko yang bisa mengancam ekonomi kita, khususnya dari jalur pasar keuangan. Dan penulis mengingatkan bahwa jangan menganggap remeh krisis yang berasal dari jalur pasar keuangan ini. Supaya kita yakin akan pentingnya jalur pasar keuangan ini, ingatlah krisis yang terjadi pada akhir 2008, yang kemudian berbuntut munculnya kebijakan <I>bailout<I> Bank Century senilai Rp 6,7 triliun.
Penulis ingat betul berbagai pernyataan dari para pemilik otoritas, fiskal dan moneter, yang waktu itu kerap menyatakan bahwa situasi ekonomi kita relatif baik sehingga tak perlu khawatir sekalipun ada krisis di Amerika dan Eropa. Alasan mereka: (i) kontribusi perdagangan internasional kita relatif kecil, ekspor sekitar 30 persen dari produk domestik bruto; (ii) krisis Amerika dan Eropa hanya akan berimbas pada pasar keuangan kita; dan (iii) kontributor terbesar ekonomi kita dari sisi konsumsi domestik. Tapi kita tetap saja ketakutan dengan situasi eksternal saat itu karena faktanya krisis Amerika dan Eropa telah menimbulkan volatilitas di pasar keuangan kita. Dan kita saksikan bahwa buntut dari ketakutan tersebut, kita pun "terpaksa" mem-<I>bailout<I> Bank Century, yang kini menjadi bumerang bagi pemerintah.
Mengingat adanya potensi risiko tersebut, perlu kita waspada bahwa apa yang terjadi di Eropa saat ini bisa jadi akan mengulang krisis 2008, berikut implikasinya bagi Indonesia. Karena itu, untuk mengantisipasi potensi risiko tersebut, penulis melihat saat ini adalah waktu yang tepat untuk memperkuat institusi moneter dan fiskal. Terus terang, dengan kekosongan pucuk pimpinan Bank Indonesia, selaku penguasa moneter, yang begitu lama, penulis mulai khawatir bahwa situasi ini bisa memunculkan beragam spekulasi dengan memanfaatkan momentum ketidakstabilan pasar keuangan global. Dengan kata lain, kenapa kita tidak segera mendefinitifkan Gubernur BI yang saat ini masih dilaksanatugaskan kepada Darmin Nasution?
Dalam konteks yang sama, penulis juga khawatir dengan "kekosongan" di Kementerian Keuangan yang akan ditinggalkan SMI. Apakah dengan membiarkan <I>status quo<I> Menteri Keuangan , sekalipun SMI masih menjabat Menteri Keuangan, adalah hal yang baik? SMI memang masih memiliki legitimasi sebagai Menteri Keuangan. Namun, demi tujuan meraup keuntungan, para spekulan jahat pun bisa mengembangkan beragam spekulasi dengan memanfaatkan situasi seperti ini.
Karena itu, kelirukah bila kita berpikir: apakah tidak sebaiknya status quo ini segera diakhiri demi menciptakan kepastian? Semoga ini menjadi pemikiran bagi para elite kita.