Gesang di Tanah Gersang

Selasa, 25 Mei 2010 | 07:21 WIB

TEMPO Interaktif, Gesang, maestro keroncong penggubah lagu Bengawan Solo yang monumental itu, meninggal pada Kamis pekan lalu. Lagu itu, tutur Gesang, diciptakan pada musim kemarau 1940 ketika dia melihat Sungai Bengawan Solo kering airnya, padahal pada musim hujan airnya berlimpah. "Dua keadaan yang sangat berlainan ini memberikan kesan yang dalam sekali bila dihubungkan dengan kehidupan manusia dan alam. Dimulai dengan senandung, saya goreskan pensil pada secarik kertas bekas pembungkus rokok dan terciptalah lagu Bengawan Solo."

Pada 1940, Gesang sudah merasakan "gersangnya" alam, yang telah mengubah pola ekosistem di Bengawan Solo. Saat musim hujan, air Bengawan Solo meluap, tapi di musim kemarau airnya kering. Padahal, sejatinya, sungai tercipta untuk "menampung air di musim hujan agar tidak meluap ke daratan, dan menyediakan air di musim kemarau agar daratan tidak kering". Tapi kondisi tersebut berubah, bertolak belakang dengan kodrat alam tersebut. Akibat ulah manusia yang semena-mena (membabat hutan, memakai bahan bakar yang mengeluarkan gas rumah kaca, dan aktivitas lain yang merusak bumi), alam pun murka. Dampaknya, suhu bumi makin panas (global warming), iklim kacau, banjir di mana-mana, serta kekeringan "membakar" flora dan fauna yang ada.

Bengawan Solo
Tiap tahun, beberapa daerah di sekitar lembah Bengawan Solo pada musim hujan kebanjiran. Pada Februari dan Maret 2010, misalnya, ribuan hektare sawah dan ladang di lembah Bengawan Solo di Jawa Tengah dan Jawa Timur terendam air. Ribuan rumah juga tenggelam. Kerugian mencapai ratusan, bahkan triliunan, rupiah.

Bengawan Solo adalah sungai yang sangat istimewa. Sejarah sungai sepanjang 600 kilometer ini sama dengan sejarah manusia di Jawa, bahkan di dunia. Fosil-fosil manusia purba yang ditemukan di Sangiran, misalnya, sangat berkait dengan keberadaan Bengawan Solo. Sepanjang sejarah, sungai ini menjadi saksi bisu keberadaan kerajaan-kerajaan Jawa (Hindu, Buddha, dan Islam), yang silih berganti. Keberadaan Bengawan Solo memang amat penting. Ini karena Bengawan Solo menjadi "sarana utama" pemenuhan kebutuhan air untuk 20 kabupaten di dua provinsi: Jawa Tengah (Wonogiri, Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Boyolali, Sragen, Blora, Rembang, dan Kota Surakarta); serta Jawa Timur (Ngawi, Cepu, Magetan, Ponorogo, Madiun, Pacitan Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik, dan bermuara di Kota Surabaya).

Menurut berbagai survei, aliran Bengawan Solo bermula dari sejumlah sungai musiman di kaki Gunung Ukirata, Pacitan, Jawa Timur. Sungai-sungai kecil itu kemudian menyatu di perbatasan Pacitan dan Wonogiri. Dari situlah awal mula Bengawan Solo. Sayangnya, kini hulu Sungai Bengawan Solo yang amat penting itu rusak. Pinggiran sungai di hulu Bengawan Solo, yang kemiringannya 30-40 persen, kini menjadi lahan pertanian. Nyaris tak ada lahan yang tersisa untuk hutan atau daerah resapan, yang amat penting untuk kelestarian sumber mata air Bengawan Solo.

Di pihak lain, daerah sempadan Bengawan Solo, yang luasnya mencapai 1,9 juta hektare, kini hilang karena dihuni oleh 7,1 jiwa. Dari jumlah penduduk yang mendiami sempadan Bengawan Solo itu, 2,1 juta di antaranya berpendidikan sekolah dasar. Karena kurangnya pengetahuan penduduk atas kelestarian lingkungan Bengawan Solo, mereka tak peduli, dan merusak sungai terbesar di Pulau Jawa itu. Sebagai gambaran, dari 1,9 juta hektare luas sempadan sungai, 1,13 juta hektare di antaranya dipakai untuk lahan pertanian.
Sisanya, 0,77 juta hektare, juga mulai rusak karena dikonversi untuk lahan pertanian, perkebunan, perumahan, dan lain-lain. Dari gambaran itu, bisa dimengerti mengapa air Sungai Bengawan Solo meluap setiap musim hujan. Penyebabnya, pertama, aliran sungai mulai dangkal karena ada sedimentasi dari lahan pertanian. Kedua, hilangnya sempadan sungai menyebabkan air hujan yang jatuh langsung menuju sungai.

Padahal, jika sempadan itu asli (berupa hutan), jatuhan air hujan tak langsung menyentuh permukaan tanah. Hujan mengenai daun pepohonan, lalu jatuh ke tanah, dan diserap akar-akar pohon. Akar-akar pohon ini, di samping bisa menyimpan air hujan (menghambat banjir), pada gilirannya memasok air untuk Bengawan pada musim kemarau. Itulah sebabnya, Bengawan Solo dulu airnya jernih dan tak pernah kering.

Sekarang kondisinya terbalik. Di sepanjang hulu dan sempadan Bengawan Solo terjadi erosi. Erosi ini tampak jelas, siapa pun bisa melihatnya sendiri: air sangat keruh, warnanya cokelat sejak dari hulu. Menurut ahli tanah dari Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta, Dr Supriyadi, erosi di kawasan hulu ini tidak dapat dihindarkan karena kurangnya penutupan kawasan hulu oleh vegetasi tanaman keras.

Di kawasan hulu tersebut justru didominasi tanaman semusim, seperti kacang tanah, ketela rambat, atau jagung. Sistem terasering yang salah juga menyumbang erosi tanah ke sungai. Erosi di kawasan hulu akhirnya berdampak pada masalah berikutnya, yakni sedimentasi yang parah di Bendungan Serbaguna Wonogiri atau Waduk Gajah Mungkur.

Hasil studi Japan International Cooperation Agency pada Februari 2007 menyebutkan, rata-rata sedimen tahunan yang masuk ke waduk mencapai 3,18 juta meter kubik. Jumlah itu kira-kira setara dengan 265 ribu truk dengan kapasitas bak 12 meter kubik. Sedimentasi di Waduk Gajah Mungkur ini menggambarkan parahnya erosi di hulu Bengawan Solo.

Sedimentasi ini ternyata juga tak berhenti di Waduk Gajah Mungkur. Di Bendung Colo, Sukoharjo, juga terjadi sedimentasi. Selepas Bendung Colo hingga muara sungai, sedimentasi tak terhindarkan. Ini terjadi karena erosi tebing sungai atau longsoran akibat pengikisan lereng. Erosi tebing ini diperparah oleh masalah berikutnya, yakni maraknya berbagai penambangan pasir, terutama yang diusahakan secara besar-besaran dengan mesin penyedot. Lubang-lubang besar di dalam sungai menyebabkan ketidakstabilan tebing, yang ujungnya menimbulkan longsor.

Akibatnya, bangunan-bangunan di sekitarnya, seperti jembatan, juga terancam ambruk. Di pihak lain, sedimentasi di muara sungai, baik akibat kiriman lumpur dari hulu maupun dari laut, terus bertambah. Sedimentasi di hulu ini menyebabkan sungai makin dangkal. Jika hulunya dangkal, air sungai pun tak bisa masuk ke laut dengan lancar. Akibatnya, bila musim hujan, banjir tak terhindarkan.

Setiap masalah pasti ada solusinya. Begitupun dengan kasus banjir Bengawan Solo. Seperti digambarkan di atas, penyebab banjir Bengawan Solo adalah rusaknya daerah hulu, erosi di sepanjang sempadannya, dan pendangkalan di muara sungai. Penyebabnya memang klasik. Namun, pemerintah menghadapi kesulitan besar untuk mengatasinya. Di samping harus mengeruk lumpur yang mendangkalkan sungai, pemerintah mesti memindahkan 7,1 juta orang dari sempadan Bengawan Solo. Ini memang tidak mudah. Begitu juga mengusir petani di hulu sungai.

Namun, yang jelas, pemerintah sebetulnya sudah punya undang-undang tentang perlindungan sempadan sungai. Menurut Keutusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung dan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999, sempadan (bagian kanan-kiri) sungai harus bervegetasi pohon. Lebar sempadan sungai ini bervariasi. Untuk sungai besar, lebarnya paling sedikit 100 meter dari tepi sungai. Jika undang-undang ini ditegakkan, niscaya permasalahan rusaknya sempadan Bengawan Solo akan teratasi. Begitu juga tentang pengelolaan kawasan lindung.

Daerah hulu Bengawan Solo termasuk kawasan lindung, yang harus dijaga dari kerusakan. Undang-undangnya sudah ada, tinggal bagaimana implementasinya. Dengan demikian, permasalahan rusaknya daerah hulu dan sempadan Sungai Bengawan Solo tak lain karena penegakan hukumnya yang lemah. Akibatnya, masyarakat awam yang tidak tahu dan buta hukum dengan mudah memanfaatkan kawasan lindung di hulu sungai dan sempadan Bengawan Solo untuk pertanian.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah harus terus-menerus mensosialisasi Keppres dan Undang-Undang tentang Kawasan Lindung dan Sempadan Sungai kepada masyarakat seraya mencari solusi ekonomi dan sosial untuk warga yang akan terusir karena menempati kawasan terlarang tersebut. Jika itu dilakukan, niscaya Bengawan Solo akan kembali selaras dengan irama alam. Gesang pun akan tersenyum di alam sana setelah melihat bengawannya benar-benar kembali ke kodrat alaminya. 

Komentar


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan