Sampai Kapan Kami Bersabar?

Rabu, 26 Mei 2010 | 07:21 WIB

TEMPO Interaktif, Dalam Musyawarah Nasional Partai Golkar di Pekanbaru pada 3-8 Oktober 2009, saya berperan menjadi manajer kampanye Yuddy Chrisnandi. Tema yang kami usung adalah regenerasi. Yuddy mendapatkan nilai 0 (nol) dari 538 suara. Itulah harga regenerasi di tubuh Partai Golkar. Usia Yuddy 42 tahun saat itu.

Kemenangan Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat dalam Kongres Bandung mengkonfirmasi alasan majunya Yuddy di Partai Golkar. Regenerasi tidak bisa ditolak. Anas masih berusia 41 tahun. Gairah kehidupan politik di kalangan anak-anak muda membuncah. Sekalipun memiliki figur sentral, Susilo Bambang Yudhoyono, Partai Demokrat telah menyiapkan jenjang kepemimpinan nasional yang tangguh.

Sekarang, bagaimana dengan partai-partai politik lain? Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie berusia 63 tahun. Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri berusia 63 tahun. Ketua Umum Partai Amanat Nasional Hatta Rajasa berusia 57 tahun. Sementara itu, Ketua Umum Partai Hanura Wiranto berusia 59 tahun. Partai Demokrat menjadi satu-satunya partai politik paling besar yang dipimpin oleh anak muda di negara demokrasi ketiga terbesar di dunia ini.

Memang di jajaran kepengurusan partai politik masih terdapat sejumlah anak muda. Tapi relatif sedikit dibandingkan dengan keseluruhan fungsionaris. Terdapat nama Fadli Zon, 39 tahun, di Partai Gerindra. Juga nama-nama lain, seperti Bima Arya Sugiarto di DPP PAN atau Puan Maharani di DPP PDI Perjuangan. Namun Budiman Sudjatmiko, 40 tahun, gagal menjadi pengurus DPP PDI Perjuangan, sekalipun mewakili generasi paling otentik dalam riwayat perjuangan untuk kebebasan dan demokrasi. Jangankan untuk menjadi Ketua Umum PDI Perjuangan, masih diperlukan lima tahun lagi bagi Budiman masuk DPP PDI Perjuangan.

Reshuffle kepengurusan
Apa yang bisa dilakukan dalam menatap kehidupan politik 2014-2019, termasuk dalam konteks regenerasi kepemimpinan nasional? Partai Demokrat telah selangkah di depan, namun partai lain bukan berarti ada dalam posisi tertinggal. Saya kira inilah saat yang tepat bagi semua partai politik untuk menyusun ulang barisan kepemimpinan di tubuh masing-masing kepengurusan. Caranya, segera melakukan langkah reshuffle. Daun-daun yang berwarna cokelat dan kuning sebaiknya dipangkas agar udara tersedia bagi daun-daun hijau dalam pohon politik.

Bukan berarti kami yang muda-muda diam. Saya mengikuti dengan dekat aktivitas kalangan muda di setiap partai politik. Dalam bentuk eksperimentasi, sejumlah politikus muda lintas partai menyusun Kabinet Indonesia Muda (KIM) yang kaya akan gagasan. KIM diisi oleh anak-anak muda lain dari kalangan ilmuwan, pengusaha, aktivis lembaga swadaya masyarakat, kaum profesional, dan analis-analis andal. Gerak KIM bagi bangsa ini memang belum maksimal, tetapi sebagai komunitas yang heterogen dan dinamis sungguh terasa. Sekalipun tidak menggunakan nama KIM, pemikiran anggota-anggota KIM tersebar di banyak media.

Pada level yang lain, dalam perjalanan ke banyak daerah, saya menemukan aktivitas kalangan muda politik itu. Sebagai generasi yang bergairah, tentu menjelajahi wilayah Indonesia yang luas adalah bagian dari semangat kami. Penjelajahan dunia pemikiran juga menjadi wajib. Setiap masalah bisa ditelisik dengan informasi yang lebih valid dan beragam. Di dunia maya, terutama Twitter dan Facebook, kaum muda politikus dan aktivis ini paling berisik. Semua hal bisa ditanggapi dengan posisi beragam, namun juga bisa berubah dalam semalam, tanpa harus merasa sakit hati atau misuh-misuh.

Partai hakikatnya mencari talenta-talenta yang baik ini, lalu memasukkan ke satu sistem organisasi yang lebih rapi. Partai selayaknya menampung upaya pengorganisasian pemikiran dan aktivitas, hingga berwujud menjadi program yang bertujuan bagi kepentingan rakyat dan negara. Dan partai tidak selamanya menjadi organ kekuasaan, mengingat pemilihan umum tidak tiap hari digelar. Bagi saya, reshuffle kepengurusan di semua partai politik adalah cara agar terdapat dinamika politik yang lebih segar.

Bukan hanya politikus
Ini juga bukan semata-mata di level politikus. Terlalu mengada-ada kalau regenerasi hanya soal politik. Saya menemukan banyak sekali nama tua dan lama di kalangan ilmuwan yang bicara di media, begitu juga di kalangan lembaga swadaya masyarakat dan bahkan dunia pengusaha. Mereka seperti Candi Borobudur yang merasa paling mampu menciptakan keindahan, ketika anak-anak muda justru mengoleksi benda-benda lain, seperti komik atau piringan hitam. Mereka menjadi sosok yang nyinyir, ketika sumber daya anak-anak muda lain menjadi gagu dalam jumlah banyak dan menumpuk.

Saya tentu tidak menggugat, melainkan memaparkan realitas. Sejumlah kawan saya, bahkan junior saya, sudah berhasil meraih gelar doktor dan profesor di kampus. Namun mereka seperti kehilangan elan akademis ketika hanya beraktivitas di dunia kampus. Beberapa yang mengambil pilihan keluar dari dunia kampus itu, misalnya menjadi aktivis, lalu harus berhadapan dengan beragam peraturan akademik yang menyebabkan mereka harus memilih yang satu dan meninggalkan yang lain. Mereka tidak boleh menjalankan dua hal sekaligus, sekalipun mereka sangat mampu.

Coba cek nama-nama pemimpin di banyak organisasi, dari organisasi pengusaha, olahraga, kesenian, media massa, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, sampai komentator dan analis. Yang muda-muda paling-paling terdapat di kalangan pengamat pasar atau ekonomi mikro. Sisanya, mereka yang terus-menerus tampil sejak saya masih anak sekolah menengah.

Sampai kapan hal ini akan terus menjadi bagian dari realitas kepemimpinan di Indonesia? Kepala-kepala daerah, menteri, sampai presiden adalah contoh lain. Jarang yang muda diberi kesempatan, mengingat yang tua memiliki segalanya. Padahal dunia sudah banyak berubah. Apa bisa kalangan senior itu bermain di Twitter selincah anak-anak muda yang mudah mengadopsi teknologi baru?

Idealnya, setelah menjadi pensiunan, seorang pemimpin masih bisa menjalankan aktivitas lain, seperti menulis buku atau memberikan pelatihan tentang kepemimpinan berdasarkan pengalaman. Yang terjadi di Indonesia bukan seperti itu. Lebih banyak kita menemukan kabar sedih tentang seseorang yang baru saja melepaskan jabatan publik. Kalau bukan kabar tentang kematian, kabar lain adalah tidak ada kabar sama sekali. Untuk apa pengabdian yang lama itu kalau tidak ada yang mereka tularkan setelah pensiun?

Sungguh, saya bertanya: sampai kapan kami bersabar?



  • Send
  • Print