Genderang Perang Piala Dunia

Jum''at, 11 Juni 2010 | 08:23 WIB

TEMPO Interaktif, Bendera-bendera sudah dikibarkan, dari Belanda sampai Argentina, dari Kamerun sampai Jepang. Genderang perang segera ditabuh, terompet segera ditiup, aneka warna segera digelar, dan panggilan tempur segera dikumandangkan. Inilah waktunya: Piala Dunia sepak bola segera dimulai.

Almarhum Rinus Michels, yang dikenal sebagai “Sang Jenderal”, pelatih tim sepak bola Belanda yang nyaris dikalahkan Jerman pada final 1974, pernah berkata “sepak bola itu perang”. Ketika Belanda pada 1988 berhasil mengalahkan Jerman untuk seterusnya tampil sebagai juara Eropa, lebih ramai orang menari-nari di jalan-jalan di Belanda pada hari itu daripada hari-hari berakhirnya perang yang sebenarnya pada Mei 1945.

Pada 1969 sebuah pertandingan sepak bola antara Honduras dan El Salvador benar-benar berakhir dengan konflik militer yang dikenal sebagai Perang Sepak Bola. Ketegangan di antara keduanya sudah memanas. Tapi kemudian para suporter kesebelasan Honduras diserang oleh suporter El Salvador, lagu kebangsaan Honduras dilecehkan, dan bendera putih hijau Honduras diinjak-injak.

Memang perang sepak bola ini langka (sebenarnya, saya tidak menemukan ada contoh lainnya), tapi pandangan bahwa kompetisi olahraga internasional ini bakal memajukan persahabatan--pandangan yang dikemukakan Baron de Coubertin, bapak Olimpiade modern--adalah romantika khayalan semata. Kekerasan yang dilakukan bonek-bonek sepak bola Inggris, misalnya, mencerminkan nostalgia yang aneh. Kehidupan di masa-masa damai bisa membosankan, sementara masa-masa jaya Inggris sudah berlalu. Sepak bola merupakan peluang melampiaskan nafsu bertempur tanpa risiko kecuali beberapa korban yang mengalami patah tulang.

Walaupun sepak bola tidak menimbulkan pertumpahan darah yang sebenarnya, ia mengobarkan emosi yang sangat kuat--emosi primitif dan kesukuan--yang mengingatkan kita akan masa-masa ketika suku-suku yang berperang mengecat muka, menari, dan berjingkrak-jingkrak mengikuti genderang perang, berteriak-teriak bagaikan monyet. Sifat pertandingan sepak bola itu sendiri mendorong perilaku ini: kecepatan serta agresi kolektif.

Tenis tidak menimbulkan emosi seperti ini pada skala nasional. Bahkan tidak juga olahraga tinju, kecuali di masa yang sangat jarang terjadi, seperti saat Joe Louis, si Brown Bomber, mengalahkan Max Schmeling, yang dijagokan Jerman Nazi, pada 1938. Bagaimanapun, bentuk-bentuk olahraga ini cuma melibatkan dua individu, bukan dua suku bangsa.

Arthur Koestler benar ketika ia mengatakan bahwa ada nasionalisme, dan ada nasionalisme sepak bola--dan bahwa nasionalisme sepak bola ini lebih menyentuh emosi yang dalam. Koestler sendiri, yang lahir di Budapest tapi bangga sebagai warga negara Inggris, tetap seorang nasionalis sepak bola Hungaria sepanjang hayatnya.

Memang baik bila rasa permusuhan, luka-luka lama, dan rasa terhina itu disembuhkan, walau secara simbolis. Sulit bagi orang Amerika, yang tidak begitu cekatan di bidang olahraga sepak bola serta tidak terkutuk kebencian historis yang dalam, untuk turut bersukacita bersama orang Belanda ketika kesebelasan Jerman dikalahkan pada 1988, atau ikut bersukacita dengan rakyat Korea ketika mereka mengalahkan Jepang.

Mungkin contoh paling baik dari nasionalisme sepak bola bukan pada sepak bola melainkan pada final hoki es pada 1969, ketika Cekoslovakia mengalahkan Uni Soviet hanya selang satu tahun setelah tank-tank Soviet bergemuruh menerobos Praha. Tim hoki Cekoslovakia mengacungkan tongkat hoki mereka ke arah para pemain Rusia bagaikan mengacungkan senjata api, sementara kemenangan mereka mencetuskan huru-hara anti-Soviet di tanah air mereka

Maka itu jelas, apa pun yang mungkin diharapkan Coubertin, kosmopolitanisme dan persaudaraan lintas-batas lebih sulit timbul secara alamiah pada diri manusia daripada emosi kesukuan yang mendalam. Kesukuan ini bisa dalam bentuk klub, klan, atau bangsa. Sebelum Perang Dunia II, klub-klub sepak bola sering bersifat etnis dan keagamaan: Tottenham Hotspur di London disebut “Yahudi”, sedangkan Arsenal disebut “Irlandia”.

Sisa-sisa penamaan ini masih ada. Ajax di Amsterdam masih diejek oleh lawan-lawannya sebagai “Klub Yahudi”. Dan Glasgow, Celtic, serta Rangers masih terpecah-belah menurut afiliasi agama, Celtic dianggap Katolik dan Rangers Protestan.

Tapi kesamaan ras atau agama tidak penting benar. Pahlawan-pahlawan sepak bola Prancis yang memenangi Piala Dunia pada 1988 terdiri atas banyak pemain yang berdarah Afrika dan Arab, dan mereka bangga akan kemenangan itu.

Klub-klub sepak bola modern yang paling berhasil itu sama ramainya terdiri atas berbagai bangsa seperti ramainya warna dalam iklan Benetton, dengan pelatih dan pemain dari segala penjuru dunia. Tapi ini tampaknya tidak mengurangi antusiasme para suporter setempat. Di beberapa negara, sepak bola merupakan satu-satunya perekat yang mengikat rakyat yang terpecah-belah, Syiah dan Sunni di Irak, atau muslim dan Kristen di Sudan.

Sudah tentu, sebagian besar orang yang berpikiran sehat sepakat dengan Coubertin. Emosi kesukuan itu memalukan dan berbahaya bila dibiarkan bebas tanpa kekangan. Setelah Perang Dunia, karena alasan yang jelas, ekspresi emosi nasionalisme boleh dikatakan tabu di Eropa (tidak kurang ketatnya di Jerman). Kita semua sudah menjadi warga Eropa yang baik, dan nasionalisme dianggap rasis. Namun apa yang dikatakan Koestler benar, emosi-emosi ini tidak bisa dihilangkan begitu saja. Ia harus mendapatkan saluran keluar, dan sepak bolalah yang memberikan saluran keluar itu.

Stadion sepak bola menjadi semacam wilayah tempat gejolak kesukuan dan bahkan antagonisme ras ini bisa dikendurkan, tapi cuma sampai pada satu titik: ketika terjadi kekerasan yang nyata saat para suporter Ajax diejek sebagai Yahudi busuk, kadang-kadang disertai suara yang menyerupai suara keluarnya gas, dan para petugas keamanan terpaksa turun tangan. Ada pertandingan yang terpaksa diselenggarakan tanpa hadirnya suporter yang saling berlawanan itu.

Tidak semua pertandingan sepak bola penuh dengan rasa permusuhan dan kekerasan. Piala Dunia tahun ini mungkin bakal menjadi pesta persaudaraan dan perdamaian. Tidak banyak lagi orang yang peduli, bahkan jika Jerman memenangi pertandingan.
Tapi fakta bahwa olahraga bisa mencetuskan emosi primitif bukan alasan untuk mengutuknya. Mengingat emosi semacam itu tidak bisa ditepis begitu saja, lebih baik membiarkan ekspresi ritual ini, sama seperti kita membiarkan ketakutan akan kematian dan kekerasan, serta pembusukan mendapatkan ekspresi dalam agama atau dalam adu banteng.

Walaupun ada pertandingan sepak bola yang merangsang kekerasan, dan dalam satu kasus bahkan perang, sepak bola ada positifnya dalam mengakomodasi impulse kita yang lebih tidak terkendali dengan mengalihkannya ke pertandingan olahraga. Maka, let the games begin, and may the best team win. Marilah pertandingan dimulai, dan semoga tim terbaiklah yang menang. *




  • Send
  • Print