Pelajaran dari Teluk Meksiko

Kamis, 24 Juni 2010 | 10:35 WIB

TEMPO Interaktif, Sudah dua bulan lewat sedikit, semburan minyak dari dasar laut Teluk Meksiko keluar dari eksploitasi milik British Petroleum (BP). Sebuah permainan kata bisa meringkas apa yang telah terjadi: besaran polutan bekas perusahaan berpredikat progesif Beyond Petroleum bikin pusing banyak pihak. Ada banyak pelajaran yang penting disimak dari peristiwa tersebut, yang bukan hanya penting untuk industri migas, tapi juga bermanfaat untuk industri lain yang sedang mengalami kecelakaan--meski dalam skala yang jauh lebih kecil sekalipun--atau yang hendak mengelola risikonya. Pelajaran-pelajaran yang penting disimak itu sebagai berikut.

Pertama, jangan pernah menyalahkan pihak lain. Reaksi pertama dari BP adalah menyatakan bahwa kontraktor mereka, Transocean, adalah pihak yang bertanggung jawab atas masalah tersebut. Belakangan ditengarai bahwa perintah-perintah dan keputusan operasi sesungguhnya langsung berasal dari BP. Dalam perspektif tanggung jawab sosial perusahaan dan manajemen pemangku kepentingan, bukan hanya tak elok menyalahkan kontraktor begitu saja, namun juga salah.

Perusahaan bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang terjadi di sepanjang rantai pasokannya. Kini perusahaan tidak bisa lagi lepas tangan untuk berbagai keburukan yang terjadi di kontraktornya, karena mereka diharapkan untuk memastikan bahwa kinerja sosial dan lingkungan dijalankan dengan konsisten. Apalah artinya sebuah perusahaan mengaku memiliki tanggung jawab sosial tinggi, namun mengambil manfaat dari perusahaan yang mengabaikan nilai-nilai itu? BP lebih parah lagi, mereka diduga memegang kendali penuh, namun malah menyalahkan kontraktornya.

Kedua, jangan sekali-sekali meremehkan risiko. Ada dokumen BP yang menyatakan bahwa kemungkinan terjadinya kecelakaan sebagaimana yang sekarang terjadi adalah "hampir mustahil". Pada kenyataannya, kecelakaan tersebut terjadi. Perusahaan harus mawas diri bahwa di samping dampak--yang bisa diduga dengan presisi--ada juga risiko dan ketidakpastian. Ilmu pengetahuan belumlah lagi bisa memastikan segala sesuatu (bahkan pada esensinya, pengetahuan itu selalu mengakui adanya ketidakpastian). Karena itu, prinsip kehati-hatian selalu harus ditegakkan. Tampaknya BP mengabaikan hal ini dengan memilih menggunakan pilihan teknologi yang lebih "efisien". Nyatanya, teknologi yang lebih murah itu kemudian menyebabkan kerugian luar biasa besar.

Ketiga, terbuka soal besaran dampak. Para petinggi Amerika Serikat layak mengamuk. Tak kurang dari Presiden Barack Obama, Menteri Keamanan Dalam Negeri Janet Napolitano, dan pemimpin Badan Perlindungan Lingkungan Lisa Jackson menyatakan secara terbuka kegeraman mereka. Di awal kejadian, BP merilis angka 1.000 barel per hari (bph), kemudian berubah segera menjadi 5.000 bph. Menurut perhitungan independen pada saat itu, angkanya lebih dekat ke 70 ribu bph. Belakangan sebuah dokumen internal BP yang dipaksa diungkap menunjukkan bahwa mereka telah memperkirakan skenario terburuk tumpahan hingga 10 ribu bph--jauh melampaui versi yang mereka nyatakan ke publik. Perusahaan memang memiliki kecenderungan ini: mereka doyan mengobral dampak positif dan membesar-besarkannya, sementara dampak negatif jarang diungkapkan atau dinyatakan sekecil mungkin. Dapat dipastikan bahwa perusahaan akan menuai badai amarah apabila tertangkap basah menyembunyikan informasi mengenai dampak negatifnya.

Keempat, mintalah pertolongan segera. BP dipandang banyak pihak bersikap jumawa ketika berusaha mengatasinya sendirian. Mungkin juga karena takut terungkap bahwa besaran dampak yang mereka nyatakan itu ternyata adalah angka yang jauh lebih kecil daripada yang sesungguhnya. Pada kasus-kasus ketika perusahaan merasa tak mampu menangani masalahnya, walaupun merekalah yang harus bertanggung jawab, ada baiknya segera berteriak minta tolong. Mungkin perusahaan akan dianggap tidak kompeten, namun demi kebaikan pemangku kepentingan, sebaiknya seluruh pihak yang kompeten bisa mengetahui diperlukannya bantuan mereka sesegera mungkin.  

Kelima, berkomunikasilah selalu dengan rendah hati. Ada banyak pernyataan para petinggi BP--terutama dari CEO-nya, Tony Hayward--yang membuat banyak pihak tak habis pikir. Mulai perumpamaan kedatangannya di Amerika seperti "pendaratan pasukan Sekutu di Normandia" yang memastikan kemenangan; pernyataan bahwa mereka memiliki cukup banyak uang untuk memberi ganti rugi; perbandingan bahwa tumpahan minyak itu kecil dibandingkan dengan banyaknya air di samudra; hingga perhatian BP kepada "rakyat kecil" telah menimbulkan banyak amarah. Dalam kondisi ketika semua pihak berpersepsi bahwa perusahaan itu bersalah--bahkan apabila pada kenyataannya tidak--perusahaan haruslah berusaha sesantun mungkin. Sikap santun perusahaan mungkin akan membuat impresi lebih positif daripada santunan kepada korban operasi mereka.

Keenam, mencegah lebih baik daripada "mengobati". Joel Bakan pernah menuliskan dalam The Corporation (2004) bahwa BP dan hampir seluruh industri migas melakukan kesalahan besar dengan menghitung biaya safety sebagai proporsi atas jumlah migas yang dihasilkan. Akibatnya, sumur-sumur tua yang telah mengalami penurunan produksi malah dipelihara dengan standar yang lebih rendah. Padahal seharusnya sumur-sumur tua itu dijaga dengan lebih serius karena risiko yang semakin membesar. Kita semua tahu bahwa cara perhitungan tersebut banyak juga dilakukan oleh industri ekstraktif lainnya, dan kita tahu bahwa itu mengundang risiko yang besar. Kalau kita biarkan cara perhitungan seperti itu terus, kita sedang menanti ledakan bencana. Perusahaan yang mau dianggap bertanggung jawab sosial tinggi harus menunjukkan kepemimpinan dalam pencegahan kecelakaan dengan berhitung lebih baik.

Terakhir, siapkan jalan keluar dari industri yang berbahaya. Luc Zandvliet dan Marry Anderson dalam Getting It Right (2009) mengutip pernyataan seorang eksekutif puncak perusahaan migas yang dengan jujur mengakui bahwa minyak di seluruh tempat yang mudah telah habis. Eksploitasi minyak kini berada di tempat-tempat berisiko lingkungan dan sosial yang tinggi, sehingga membutuhkan kehati-hatian ekstra. Yang mungkin perlu diingat adalah bahwa yang kita butuhkan adalah energi, bukan bahan bakar fosil. Sudah jelas bahwa masa depan ada di energi terbarukan. Jadi, walaupun bahan bakar fosil masih akan kita lihat perannya beberapa dekade mendatang, perhitungan akan risiko dan ketidakpastian yang membesar seharusnya membuat kita menyegerakan transisi ke energi terbarukan. Industri lain yang juga membawa banyak risiko lingkungan sudah seharusnya pula ditinggalkan. 

  • Send
  • Print