Bob Hasan dan Mantan Narapidana yang Terpenjara

Sabtu, 21 Agustus 2010 | 19:10 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta - Tawa dan canda Bob Hasan masih seperti dulu. Lepas, pedas, kadang menyakitkan, tapi tetap saja menyenangkan. Ketika melepas canda, Bob--dia pernah mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan--tidak peduli siapa yang ada di sekelilingnya. Dia juga tidak pernah peduli persoalan yang sedang menghadangnya karena pernah menjalani cobaan paling sulit dalam hidupnya. Dan, ketika isu pasal kriminal yang tercantum dalam AD/ART Komite Olimpiade Indonesia, yang kini berkembang dan menyerang dirinya, dihadapi Bob dengan tidak emosional. "Lebih baik tidak banyak omong, kita kerja saja," katanya.
Ini pula yang membedakan Bob dengan Nurdin Halid, Ketika Bob mendapat simpati dari banyak orang, Nurdin malah mengumbar amarah. Orang nomor satu di Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia yang akhir-akhir ini sedang mempertontonkan pengaruhnya itu seolah ingin mengatakan tidak pernah berbuat salah dan harus bebas dari segala ketentuan. Padahal aturan itu jelas-jelas mengatakan pengurus olahraga harus sehat dan tidak pernah tersangkut perkara pidana dan/atau dijatuhi hukuman penjara. Mantan narapidana yang pernah dua kali bermalam di Rutan Salemba itu pasti tidak akan pernah bisa mengubah kata "tidak pernah" menjadi "tidak sedang", seperti yang ada dalam statuta PSSI.
Bob tentu saja tidak bisa disejajarkan dengan Nurdin. Bob--lahir di Semarang dengan nama The Kian Seng dan tahun ini berusia 80 tahun--telah menghabiskan separuh hidupnya untuk olahraga Indonesia, terutama cabang atletik. Dia telah melahirkan banyak atlet dan membawa ratusan medali ke Indonesia. Pelari jarak jauh Ali Sofyan Siregar, sprinter Purnomo, Mardi Lestari, Christian Nenepath, Henny Maspaitella, dan Emma Tahapari lahir di awal-awal kepengurusan Bob. Hingga kini muncul nama Suryo Agung Wibowo.
Semua tidak lepas dari buah pembinaan yang dia lakukan di Stadion Madya. Bob juga telah memberangkatkan ratusan atlet berlatih di sejumlah negara, di antaranya Jerman dan Amerika Serikat. Dia juga telah mengirim ratusan atlet ke berbagai event internasional. Bob mengantar Purnomo (nomor 100 meter, nomor paling bergengsi di lintasan atletik) dan empat pelari Indonesia--Johanes Kardiono, Purnomo, Christian Nenepath, dan Ernawan Witarsa (nomor 4 x 100 meter)--tampil di semifinal Olimpiade Los Angeles 1984.
Bob pernah menjadi Ketua Umum PB PABBSI, Percasi, Persani, Presiden Asosiasi Atletik Amatir Asia (AAAA), anggota kehormatan Komite Olimpiade Internasional (IOC), dan Wakil Presiden Komite Olimpiade Asia (OCA). Di KONI Pusat, Bob empat periode menjadi pengurus teras. Di era Wismoyo Arismunandar, ia duduk sebagai wakil ketua umum. Bob juga pernah menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan di masa Kabinet Pembangunan VII (1998).
Pada 1980 dan 1984, Bob menerima penghargaan sebagai Pembina Olahraga terbaik versi SIWO/PWI Jaya, penghargaan Kalpataru pada 1997, dan penghargaan Goldene Ehren Packeten dari Persatuan Atletik Jerman untuk jasa-jasanya meningkatkan atletik Indonesia dengan Jerman. Sebelumnya, pada 1985, dia menerima penghargaan dari pemerintah sebagai Pembina Olahraga Terbaik. Sungguh prestasi-prestasi yang tidak akan pernah bisa diraih Nurdin Halid sekalipun dia ingin memimpin PSSI seumur hidup.
Saya mengenal Bob pada 1983 ketika ikut mengelola majalah Sportif miliknya. Dari sini kemudian saya mengenal orang yang bernama Mohammad Bob Hasan sebagai manusia yang ingin sempurna, mengabdi untuk negeri ini, dan kelak bakal dikenang. Tapi jalan lain harus ditempuh Bob. Dia dinyatakan bersalah dalam kasus korupsi proyek pemetaan hutan senilai Rp 2,4 triliun dan harus mendekam di LP Nusakambangan selama enam tahun.
Tujuh tahun lebih Bob menjalani hidup sebagai orang bebas. Setiap Senin, Rabu, dan Kamis, dia lari sore di Stadion Madya di kawasan Senayan. Ini merupakan kegiatan yang sudah bertahun-tahun dia lakukan. Selasa dan Minggu, Bob main golf di Padang Golf Matoa. Bob selalu menyambangi kedua "rumahnya" itu dan tak seorang pun bisa mengusir dia dari sana. Bob bisa saja pergi dari PASI bertalian dengan pasal kriminal itu. Tapi siapa pun pasti mengatakan Bob tidak akan pernah tergantikan. "Pengorbanan dan sumbangsih beliau di dunia atletik sangat luar biasa dan belum tentu ada orang yang bisa melakukan itu," kata Purnomo.
Tawa dan canda Bob masih seperti dulu. Tawa dan canda ini pula yang membedakan Bob dengan Nurdin Halid, mantan narapidana yang hatinya terpenjara lantaran hidupnya masih saja dipenuhi caci maki. Yon Moeis, Wartawan Tempo

  • Send
  • Print