Fenomena Nasional Demokrat
Rabu, 01 September 2010 | 07:25 WIB
TEMPO Interaktif, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical) semakin resah dan mulai menabuh genderang perang secara terbuka terhadap organisasi masyarakat Nasional Demokrat (Nasdem) pimpinan Surya Paloh. Ical mengancam akan memecat fungsionaris Golkar yang menjadi anggota Nasdem dan menginstruksikan kepada seluruh jajaran Partai Golkar di daerah untuk melarang anggotanya menjadi anggota Nasdem (Koran Tempo, 25 Agustus 2010).
Keresahan serupa sebelumnya juga dikemukakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam pidatonya pada suatu acara, SBY mengeluhkan adanya kelompok yang gencar melakukan gerakan kampanye keliling Indonesia menjelek-jelekkan pemerintah. Meskipun pernyataan SBY ini bersayap dan tanpa menyebutkan nama pihak yang dimaksudkan, sulit untuk tidak mengatakan bahwa sindiran SBY itu ditujukan kepada Nasdem, yang memang sangat agresif dan marak mendeklarasikan diri di berbagai daerah belakangan ini.
Kegundahan kedua tokoh penting ini tentu memunculkan pertanyaan penting pula: Mengapa SBY merasa perlu mengomentari keberadaan dan kegiatan Nasdem, bukankah selama ini juga banyak pihak oposisi lainnya yang sangat kritis dan bersuara lebih keras daripada Nasdem? Lalu, mengapa pula Ical begitu serius dan sangat memperhitungkan keberadaan Nasdem? Padahal organisasi ini hanya berbentuk ormas, bukan atau belum menjadi partai politik. Respons SBY dan Ical--yang juga pengendali dua partai terbesar Demokrat dan Golkar--ini justru menunjukkan bahwa keberadaan Nasdem memang fenomenal dan layak diperhitungkan.
Potensi
Keresahan SBY paling tidak dapat dibaca dari besarnya potensi Nasdem tumbuh menjadi kekuatan politik yang kuat, dan menjadi kekuatan oposisi sekaligus lawan politik bagi Demokrat di Pemilu 2014. Alasan kekhawatiran Ical lebih spesifik dan mendasar lagi. Jika Nasdem bermetamorfosis menjadi partai, Golkar adalah kekuatan politik yang paling dirugikan karena organisasi itu berpotensi besar akan menggerus kekuatan elektoral Golkar di Pemilu 2014. Pasalnya, para tokoh berpengaruh dan figur kuat Golkar, seperti Sri Sultan Hamengku Buwono X, Surya Paloh, Siswono Yudhohusodo, dan Syamsul Muarif, merupakan penggerak utama Nasdem. Tidak hanya itu, posisi strategis di Nasdem juga banyak ditempati kader-kader muda potensial Golkar, seperti Ferry Mursyidan Baldan, Jeffrie Geovanie, dan Meutya Hafidz.
Jadi, alasan keresahan SBY maupun Ical ada kemungkinan seragam, karena Nasdem bukan murni ormas, melainkan berpotensi besar akan menjadi partai politik. Apalagi, sebagai organisasi, Nasdem memiliki peluang dan beberapa potensi yang cukup menjanjikan menjadi partai secara bervariasi: kekuatan gagasan (ide) Restorasi Indonesia sebagai platform dan roh perjuangan partai; memiliki massa pendukung yang berpotensi terus berkembang; memiliki kekuatan finansial cukup mumpuni; memiliki kekuatan infrastruktur dan jaringan organisasi yang dapat diandalkan; memiliki media dan tokoh (figur) potensial secara elektoral.
Meskipun Nasdem memiliki potensi dan peluang besar untuk bertransformasi menjadi partai politik, ia juga akan menghadapi tantangan-tantangan yang juga tidak ringan. Paling tidak ada empat tantangan bagi Nasdem jika akan bertransformasi menjadi partai. Pertama, kemampuan melakukan konsolidasi internal untuk mengantisipasi potensi hengkangnya pengurus dan kader setelah Nasdem menjadi partai. Karena itu, kemampuan dan kepiawaian Surya Paloh dalam menyatukan kelompok dan kepentingan di lingkup internal Nasdem akan menjadi ujian terdekat bagi kualitas kepemimpinannya.
Kedua, konsolidasi institusi (organisasi) dalam rangka menjadikan Nasdem sebagai partai modern dan demokratis. Modernisasi dan demokratisasi internal ini ditempuh melalui pelembagaan sistem kepemimpinan kolektif-kolegial (modern party)--sembari berhati-hati agar tidak terjebak mengalami ketergantungan pada figur Surya Paloh--serta menerapkan prinsip meritokrasi dalam sistem kaderisasi dan rekrutmen.
Ketiga, konsolidasi ide dalam rangka mentransformasikan gagasan Restorasi Indonesia menjadi gagasan besar partai. Konsolidasi ideologi berupa agenda pengakaran partai (party rooting)--dengan mengintensifkan hubungan antara partai dan konstituen--agar ideologi, platform, dan program dapat diterima masyarakat mutlak diperlukan. Keempat, konsolidasi elektoral untuk memenuhi angka parliamentary threshold (PT) di pemilu legislatif. Karena itu, Nasdem memerlukan strategi jitu untuk menembus angka PT dalam situasi multipartai kompetitif saat ini.
Apalagi, dilihat dari nama-nama para deklaratornya, Nasdem juga didukung oleh para politikus lintas partai dan tokoh-tokoh yang selama ini dikenal independen dan berintegritas tinggi, seperti Buya Syafi''i Ma’arif dan Anies Baswedan. Keberadaan para tokoh independen dan akademisi ini tentu semakin menunjukkan bahwa keberadaan Nasdem memang menarik. Hal ini memunculkan pertanyaan lanjutan: kekuatan apa yang menyebabkan Nasdem berhasil menghimpun dukungan dari para tokoh independen dan para politikus lintas partai?
Politik gagasan
Setidaknya ada satu jawaban yang dapat diajukan untuk menjawab pertanyaan tersebut, yaitu karena kekuatan gagasan (ide). Gagasan segar tentang Restorasi Indonesia setidaknya menjadi roh pemersatu bagi tokoh-tokoh tersebut untuk berhimpun dan mendukung Nasdem. Politik gagasan memang menjadi menarik dan “seksi” di tengah perkembangan praktek politik uang dan politik patron di berbagai partai politik belakangan ini. Faktor inilah yang ada kemungkinan menjadi pertimbangan para tokoh-tokoh independen tersebut tertarik bergabung di Nasdem.
Kalau ternyata Nasdem bertransformasi menjadi partai dan tetap menjaga konsistensinya dengan mengusung politik gagasan di tengah deru politik uang dan politik patron (politik dinasti) saat ini, maka kehadiran Nasdem layak menjadi harapan dan angin segar bagi masa depan kepartaian Indonesia. Tentu dengan satu catatan amat penting: tetap konsisten mengusung politik gagasan, sekaligus mampu mengantisipasi jebakan politik uang dan politik patron. Tantangan inilah yang akan menjadi ujian dan pembuktian bagi Nasdem.
Namun, seandainya tantangan itu gagal diantisipasi dan ternyata, setelah menjadi partai, Nasdem juga terjebak dalam politik uang dan syahwat kekuasaan, kehadiran Nasdem sejatinya belum layak disambut dengan sukacita, melainkan baru pantas dirayakan para elite ormas Nasdem. *