Mengapa Agama Perlu Dikaji Secara Saintifik
Jum''at, 24 September 2010 | 09:56 WIB
TEMPO Interaktif, Belakangan ini, di banyak bagian dunia, para agamawan dari berbagai macam agama sedang berusaha kuat untuk memasukkan pengaruh dan pandangan-pandangan keagamaan mereka sebanyak-banyaknya ke dalam kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara mereka, dan bahkan dunia luas pada umumnya. Pandangan-pandangan keagamaan yang bercorak fundamentalistik literalis skripturalis malah sedang dipaksakan di banyak tempat untuk menggantikan penjelasan-penjelasan sains modern mengenai banyak hal yang menyangkut kehidupan makhluk-makhluk di planet Bumi, asal-usulnya, serta asal-usul alam semesta dan isi seluruh kosmos.
Para agamawan yang sedang berperang dengan sains modern malah sedang berjuang untuk merebut kendali atas perjalanan dunia dan kehidupan manusia dan masa depan semua makhluk dari tangan para saintis. Menghadapi situasi semacam ini, sudah saatnya orang mulai memikirkan untuk menyelidiki dan menilai agama-agama dari sudut sains. Berikut ini enam pertimbangan yang dapat diajukan mengenai mengapa agama-agama perlu dibedah oleh pisau tajam sains.
Pertama, agama bukanlah suatu fakta suprarasional atau supernatural, melainkan suatu fakta sosial antropologis, karena setiap agama memiliki minimal lima unsur sosiologis antropologis berikut ini: (a) ada suatu komunitas sosial (community); (b) ada berbagai ritual yang dijalankan (cult); (c) ada sekumpulan kitab atau dokumen yang dipandang suci oleh komunitas sosial (canon); (d) ada sekumpulan doktrin yang dirumuskan secara sosial dan dinyatakan sebagai syahadat (creed); (e) ada sekumpulan kaidah moral yang disusun bersama (code). Semua komunitas keagamaan di muka planet Bumi ini memiliki lima unsur sosial antropologis ini. Jadi, setiap agama adalah sebuah fakta sosial antropologis yang umum dalam dunia ini. Sebagai suatu fakta sosial antropologis, setiap agama terbuka untuk dipelajari dan diselidiki oleh para ilmuwan sosial yang banyak jenisnya.
Kedua, setiap orang beragama adalah seorang manusia konkret, bukan seorang manusia bayangan. Sebagai seorang manusia konkret, setiap orang beragama memiliki rasionalitas yang timbul karena kerja organ otak. Karena beriman adalah juga suatu kemampuan yang bersumber pada otak manusia (kecuali si manusianya mengklaim beriman dengan jantung atau levernya!), dan pasti melibatkan rasionalitasnya, maka setiap klaim keagamaan atau keimanan apa pun harus juga bisa diselidiki secara rasional, untuk melihat apakah rasionalitas dan organ otak si orang beragama sehat dan normal.
Ketiga, karena seorang beragama mengklaim pengalaman spiritual mereka dengan sang Tuhannya sangat konkret dan riil, dan sekian mukjizat juga diklaim dialami dengan konkret, dan semua pengalaman ini berlangsung dalam dunia riil sehari-hari (bukan dalam mimpi!), maka semua pengalaman spiritual dan semua klaim tentang mukjizat harus terbuka juga untuk diselidiki, dipelajari, dan dinilai menurut kaidah-kaidah penyelidikan saintifik. Tanpa penyelidikan saintifik atas semua klaim tentang mukjizat, mukjizat yang diklaim banyak terjadi akan membuat suatu masyarakat hancur berantakan karena semua orang secara bertahap akan kehilangan rasionalitas mereka.
Keempat, karena semua kitab suci agama apa pun lahir dalam dunia riil (bukan dalam dunia antah-berantah!), dan ditulis oleh manusia yang bertangan dan berotak (bukan oleh jin-jin atau malaikat-malaikat yang tidak kelihatan dan tidak bertangan dan tak berotak!), maka semua pesan kitab suci apa pun dan semua klaim tentang kejadian historis apa pun dan tentang tokoh apa pun di dalam setiap kitab suci apa pun harus bisa diselidiki dan dijelaskan secara saintifik.
Kelima, sebagaimana semua klaim sains suatu saat bisa kedapatan keliru dan bisa salah (lalu diperbaiki dengan pengajuan bukti-bukti baru dan teori-teori baru yang lebih andal), maka klaim imaniah apa pun, termasuk klaim imaniah tentang adanya satu atau banyak Allah supernatural yang tak kelihatan, harus juga dipandang sebagai klaim-klaim sementara. Atau lebih tepat sebagai klaim-klaim hipotetikal yang memerlukan penyelidikan lebih jauh untuk dapat diverifikasi atau difalsifikasi secara saintifik. God selalu merupakan sebuah hipotesis! Jika seorang beragama menolak klaim-klaim imannya (tentang keberadaan suatu Allah atau tentang mukjizat atau tentang hal lain apa pun) diselidiki secara saintifik, maka klaim-klaim ini harus dinyatakan sebagai klaim-klaim apologetik dan dogmatis, yang tak memiliki nilai kebenaran apa pun; dan karenanya harus dipandang hanya sebagai klaim-klaim <I>mumbo-jumbo<I>, klaim-klaim omong kosong saja.
Keenam, mengingat kitab-kitab suci agama-agama juga berisi ajaran-ajaran dan kisah-kisah yang keras dan buruk, yang membela pertumpahan darah dan perang antarmanusia, yang mendesakkan banyak nilai moralitas primitif yang bertabrakan dengan nilai-nilai moral modern yang humanistik dan demokratis, yang mempertahankan pandangan-pandangan tentang kosmos dan kehidupan yang bertabrakan dengan pandangan-pandangan sains modern, maka sangatlah riskan jika planet Bumi dan jagat raya diserahkan begitu saja untuk dijelaskan, diatur, dan diurus oleh para agamawan. Karena itu, untuk memperlihatkan bahwa kemampuan para agamawan sangat patut diragukan jika mereka hendak mengurusi planet Bumi ini, sudah saatnya kini isi perut agama-agama juga diselidiki, dipelajari, dan dinilai secara saintifik oleh para ilmuwan yang membela penyelidikan-penyelidikan yang empiris obyektif atas fenomena sosial antropologis yang dinamakan agama.
Nah, dengan enam pertimbangan di atas, harus dinyatakan: sekaranglah saatnya agama apa pun diletakkan di atas meja bedah para ilmuwan modern, untuk dilihat jantung, hati dan otak, serta isi perut yang sebenarnya dari apa yang dinamakan agama. Hanya dengan lulus dari ujian operasi di meja bedah saintifik, sebuah agama layak dipertahankan dan dikembangkan dalam dunia modern. Jika tidak lulus, tempat agama yang sebenarnya adalah museum.*