Gempa Jepang dan Peradaban Masa Depan
Selasa, 15 Maret 2011 | 12:49 WIB
TEMPO Interaktif, Apa yang menarik dari tindakan bangsa Jepang dalam menangani bencana gempa bumi dahsyat, 8,9 skala Richter? Mereka tampak terlatih, profesional, dan terencana. Dengan magnitude gempa 8,9 skala Richter dan gelombang tsunami setinggi 10 meter, korban Jiwa terhitung sangat minim, hanya berkisar ribuan orang. Padahal gempa besar di Aceh dan Haiti yang magnitude-nya hampir sama, korbannya mencapai ratusan ribu orang.
Tak hanya itu. Bangsa Jepang juga sudah siap dengan semua perlengkapan untuk meminimalisasi jumlah korban gempa dan tsunami. Bahkan dokumentasi datangnya tsunami pun sudah dipersiapkan matang sehingga awal munculnya tsunami, perjalanannya, dan dampak-dampaknya bisa terekam dengan baik melalui foto dan video satelit. Pada saatnya nanti, dokumen rekaman itu bisa dikaji ulang dan diteliti untuk mendapatkan formula yang tepat dalam mengatasi fenomena gempa dan tsunami secara ilmiah.
Respons bangsa Jepang mengatasi gempa dahsyat tersebut--meminjam istilah fisikawan Freeman J. Dyson, pakar elektrodinamika kuantum dari Institute for Advanced Study, Princeton University, Amerika Serikat--merupakan fenomena transisi masyarakat Jepang menuju peradaban tipe satu. Menurut Dyson, bangsa Jepang, yang sudah amat maju sekalipun, saat ini masih berada dalam peradaban tipe O (nol) karena output energinya masih jauh dari cukup untuk mengantisipasi gempa besar dan mencegah hantaman meteor. Ciri-ciri manusia peradaban tipe O, menurut Dyson: mereka masih mendapatkan energi dari sumber-sumber konvensional, seperti bahan bakar minyak, batu bara, dan gas (energi karbon). Output energi konvensional ini ber-magnitude amat kecil sehingga tidak akan mampu meng-counter energi gigantik dari gempa tektonik dan gelombang tsunami. Meski hampir 50 persen kebutuhan energi bangsa Jepang diperoleh dari energi nonkonvensional (nuklir), pemanfaatan energi nuklirnya masih sebatas untuk memenuhi kebutuhan energi rumah tangga dan industri. Belum ada reaktor superraksasa di Jepang yang output energinya bisa dipakai untuk membendung tsunami dan mengubah iklim. Namun, memperhatikan bagaimana bangsa Jepang mengantisipasi gempa besar dan tsunami jauh sebelum kejadiannya muncul, hal itu mengisyaratkan mereka sedang menuju transisi ke peradaban tipe satu. Isyarat itu diperkuat oleh makin majunya bahasa dan komunikasi planetari (Inggris dan Internet) di Jepang.
Bagaimana gambaran peradaban tipe satu ini, Machio Kaku, fisikawan Amerika berdarah Jepang, penemu string field theory dalam bukunya, The Physics of Extraterrestrial Civilization, menyatakan sebuah peradaban maju harus tumbuh lebih cepat daripada frekuensi bencana-bencana yang mengancam kehidupannya. Jika tumbukan meteor dan komet terjadi sekali dalam orde ribuan tahun, manusia berperadaban tipe satu sudah harus menguasai perjalanan antariksa untuk menyimpangkan puing-puing angkasa dalam kurun waktu tersebut (Ioanes Rakhmat, 2011). Begitu pula dengan proses munculnya fenomena kekacauan iklim akibat pemanasan global, manusia pada peradaban tipe satu harus mampu merekayasa iklim dengan mengubah sistem atmosfer bumi untuk menepis kenaikan suhu bumi itu. Menurut Dyson, kegundahan manusia terhadap pemanasan global dan kekacauan iklim saat ini adalah ciri manusia peradaban tipe nol dalam menghadapi fenomena alam. Di masyarakat peradaban tipe satu, masalah-masalah tersebut sudah bisa diatasi.
Untuk itu, manusia pada peradaban tipe satu membutuhkan energi yang luar biasa. Energi ini bisa diperoleh dari panas surya dan sumber-sumber energi nonkonvensional lain di bumi. Saat ini, pemanfaatan energi surya oleh penduduk bumi, menurut astronom Berkeley, Don Goldsmith, masih sangat sedikit. Bumi, tulis Goldsmith, hanya menerima satu per semiliar energi surya. Adapun manusia di bumi hanya memakai sepersejuta energi surya yang diterima bumi. Jadi manusia bumi saat ini hanya memanfaatkan sepersejuta miliar energi surya. Jika manusia bumi mampu memanfaatkan energi surya secara kreatif dan maksimal, energi yang didapatkannya mampu untuk mendukung peradaban tipe satu.
Setelah beberapa ribu tahun, sebuah peradaban tipe satu pun akan kehabisan energi. Mereka telah mengkonsumsi seluruh output energi surya yang berkisar semiliar triliun erg per detik. Untuk mengatasi kekurangan energi karena bertambahnya penduduk dan tantangan alam, manusia harus masuk peradaban tipe dua. Menurut Dyson, manusia pada peradaban tipe dua ini harus bisa membangun kawasan gigantik di sekitar bintang untuk mendapat output energi yang amat besar. Karena konsumsi energinya yang luar biasa besar, tempat kehidupan manusia pada peradaban tipe dua ini akan terlihat seperti planet bercahaya dari pesawat angkasa luar, yang saat itu sudah menjadi transportasi publik.
Namun manusia dengan peradaban tipe dua yang telah menjalani kehidupan sehari-hari secara ekstraterestrial itu, tulis Dyson, akan mendapat ancaman dari ledakan supernova dari bintang terdekat, sehingga planet yang mereka tempati akan habis terbakar. Untuk mengatasi ledakan supernova itu, manusia harus membangun tempat tinggalnya di antara bintang-bintang yang bersifat mobile. Inilah peradaban tipe tiga: manusia sudah mampu membuat teknologi supercanggih untuk memanen energi megagigantik dari bintang-bintang yang ada di alam raya (universe). Peradaban tipe tiga ini, Dyson mengungkapkan, bersifat kekal karena tak ada bencana alam yang menghancurkan mereka (Ioanes Rakhmat, 2011).
Mimpikah itu? Tidak! Sebab, usia spesies manusia sekarang ini, bila ditarik dari konsep sejarah Judeo-Kristiani dengan basis manusia cerdas berkesadaran spiritual, seperti Adam dan Hawa, baru sekitar 10 ribu tahun saja (Sangkot Marzuki, 2011). Padahal tiap kehidupan spesies di bumi umumnya bertahan sekitar 10 juta tahun. Ini artinya, spesies manusia cerdas yang ada sekarang usianya masih sangat muda (Ryu Hasan, 2011). Melihat perkembangan ilmu dan teknologi dalam satu abad terakhir yang amat cepat, prediksi munculnya peradaban tipe tiga, ketika manusia hidup di angkasa luar dengan teknologi yang lebih maju dibanding cerita fiksi Flash Gordon, niscaya akan jadi kenyataan.
Mimpikah itu? "Anda harus bermimpi sebelum mimpi itu jadi kenyataan," kata Abdul Kalam, bapak teknologi India. Melalui mimpi, kita bisa membayangkan masa depan manusia di antara bintang-bintang. Pelukis Pablo Picasso menulis: semua yang dapat Anda bayangkan niscaya akan jadi kenyataan.
Jika manusia di peradaban tipe tiga kekal, Tuhan di mana? Tuhan tetap ada. Buktinya, Dia telah membuktikan firman-Nya: Tuhan tidak akan mengubah nasib manusia kecuali manusia sendiri yang mengubahnya (QS 13:11). Ini artinya, meski berada pada peradaban tipe tiga, manusia tidak harus ateis.
Syaefudin Simon, Alumnus Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada, Periset di Institute for Peace and Islamic Studies