Pelajaran Moral dari Bencana Nuklir Jepang

Senin, 28 Maret 2011 | 12:21 WIB

TEMPO Interaktif, Persoalan yang dihadapi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima--dan reaktor nuklir lainnya--di timur laut Jepang telah memberi pukulan berat kepada industri nuklir global, kartel besar yang terdiri atas kurang dari selusin perusahaan milik negara atau bimbingan negara yang gembar-gembor akan datangnya renaisans tenaga nuklir.

Tapi risiko yang dihadapi reaktor di tepi pantai, seperti Fukushima, dari bencana alam sudah dikenal luas. Risiko ini tampak jelas enam tahun yang lalu ketika tsunami di Lautan Hindia pada Desember 2004 melanda PLTN kedua terbesar di India, sehingga menyebabkan ditutupnya instalasi nuklir di Madras tersebut.

Banyak PLTN terletak di sepanjang garis pantai, karena ia membutuhkan banyak pasokan air. Namun bencana alam, seperti badai, topan, dan tsunami, semakin sering terjadi karena perubahan cuaca. Meningkatnya ketinggian permukaan air laut membuat reaktor nuklir itu semakin rentan. Misalnya, banyak PLTN di Inggris berada di sepanjang pantai pada ketinggian hanya beberapa meter di atas permukaan laut. Pada 1992, topan Andrew menimbulkan kerusakan besar pada PLTN Turkey Point di Teluk Biscayne, Florida, tapi untungnya tidak menyentuh sistem yang kritis pada pembangkit tenaga nuklir tersebut.

Semua pembangkit tenaga listrik, termasuk yang menggunakan batu bara dan gas alam, banyak menyedot air. Tapi PLTN bahkan membutuhkan lebih banyak air. Sebagian besar tenaga nuklir di dunia dihasilkan oleh reaktor air ringan (LWR), seperti yang terdapat di Fukushima, yang menggunakan air sebagai pendingin utamanya. Air setempat yang dikonsumsi LWR dalam operasinya menjadi air panas, yang kemudian dipompakan kembali ke dalam sungai, danau, dan laut.

Karena reaktor yang terletak jauh di daratan banyak menguras air tawar setempat--dan merusak pertanian serta perikanan--negara-negara yang letaknya tidak terpencil di daratan mencoba mencari lokasi-lokasi di tepi pantai. Tapi sama saja, apakah terletak jauh di daratan atau di tepi pantai, PLTN tetap rentan terhadap perubahan cuaca.

Sementara pemanasan global menyebabkan naiknya rata-rata suhu dan permukaan air laut, reaktor yang dibangun jauh di daratan menyebabkan semakin berkurangnya pasokan air dan menimbulkan dampak kurangnya pasokan ini. Selama terjadinya gelombang panas yang memecahkan rekor pada 2003 di Prancis, 17 reaktor nuklir komersial di negeri itu terpaksa menurunkan tingkat atau menghentikan operasinya akibat naiknya dengan cepat suhu di sungai dan danau. Reaktor di Santa María de Garoña, Spanyol terpaksa ditutup selama sepekan pada Juli 2006, setelah tercatatnya suhu yang tinggi di Sungai Ebro.

Paradoksnya, kemudian, justru kondisi yang tidak memungkinkan industri nuklir sepenuhnya memenuhi permintaan akan tenaga listrik itulah yang menyebabkan melonjaknya permintaan akan listrik di Eropa pada 2003 dan 2006 akibat meningkatnya penggunaan penyejuk udara.

Selama terjadinya gelombang panas pada 2003, Électricité de France (EDF), yang mengoperasikan 58 reaktor--sebagian besar terletak di daerah sungai yang sensitif lingkungan seperti Loire--terpaksa membeli pasokan listrik dari spot market di Eropa. EDF milik negara yang biasanya mengekspor listrik itu akhirnya membayar 10 kali lipat harga listrik di dalam negeri dan menanggung ongkos pengadaan 300 juta euro.

Demikian halnya, walaupun gelombang panas Eropa pada 2006 tidak separah pada 2003, persoalan air dan gelombang panas ini telah memaksa Jerman, Spanyol, dan Prancis mengistirahatkan beberapa PLTN serta mengurangi operasi pada pembangkit listrik lainnya. Menyadari rentannya tenaga nuklir terhadap pola perubahan lingkungan atau cuaca ekstrem, pada 2006 operator PLTN di Eropa Barat dibebaskan dari regulasi yang melarang mereka membuang air yang sudah terlalu panas dalam reaktor mereka ke dalam ekosistem dengan dampak yang merugikan perikanan.

Prancis sering membanggakan industri tenaga nuklirnya yang memasok 78 persen kebutuhan listrik di negeri itu. Tapi, begitu besarnya jumlah air yang dikonsumsi industri nuklir ini, sehingga EDF sendiri membutuhkan sampai 19 miliar kubik meter air per tahun yang disedot dari sungai dan danau, atau sekitar separuh dari total konsumsi air tawar di Prancis. Kelangkaan air tawar merupakan tantangan yang semakin besar di dunia, dan mayoritas negara di dunia tidak lagi bisa menerima dibangunnya PLTN yang menguras banyak air tawar jauh di daratan.

PLTN yang terletak di dekat laut tidak menghadapi persoalan serupa dalam keadaan cuaca yang panas, karena air laut tidak menguap secepat air tawar di sungai dan danau. Dan, karena ia bergantung pada air laut, PLTN semacam ini tidak menyebabkan terjadinya kelangkaan air tawar. Tapi, seperti yang dibuktikan di Jepang, PLTN yang dibangun di tepi pantai dihadapkan pada bahaya yang lebih serius.

Ketika terjadi tsunami di Lautan Hindia, inti reaktor di Madras bisa ditutup dengan aman karena sistem kelistrikannya terpasang di suatu kawasan yang lebih tinggi daripada letak PLTN itu sendiri. Dan, berbeda dengan Fukushima, yang menerima dampak langsung, Madras terletak jauh dari titik pusat gempa yang memicu terjadinya tsunami itu.

Dilema sentral tenaga nuklir di dunia yang cemas dengan semakin langkanya air ini adalah bahwa PLTN itu bukan hanya haus air, tapi juga rentan terhadap air. Dan puluhan tahun setelah Lewis L. Strauss, Ketua Badan Tenaga Atom Amerika Serikat, mengklaim bahwa tenaga nuklir bakal menjadi "terlalu murah sehingga sulit diukur", industri nuklir di mana-mana ternyata masih bergantung pada susbsidi pemerintah.

Walaupun daya tarik tenaga nuklir sudah menurun di Barat, ia justru meningkat di antara apa yang dinamakan nuclear latecomers, negara-negara pendatang baru yang membawa tantangan baru, termasuk kekhawatiran akan proliferasi senjata nuklir. Lagi pula, di dunia dengan hampir dua perlima dari penduduknya tinggal di daratan yang letaknya 100 kilometer dari garis pantai, mendapatkan lokasi yang tepat untuk memulai atau memperluas suatu program tenaga nuklir bukan lagi sesuatu yang mudah dilakukan.

Fukushima kemungkinan besar bakal memandulkan daya tarik tenaga nuklir seperti halnya kecelakaan yang terjadi pada PLTN Three Mile Island di Pennsylvania pada 1979, untuk tidak menyebut meltdown yang jauh lebih parah pada reaktor di Chernobyl pada 1986. Namun, jika yang terjadi setelah kecelakaan-kecelakaan ini bisa dijadikan pegangan, para penganjur tenaga nuklir itu pada akhirnya bakal kembali lagi ke tengah-tengah kita.  Hak cipta: Project Syndicate, 2011

  • Send
  • Print