Jejak-jejak Rosihan Anwar
Rabu, 20 April 2011 | 10:51 WIB
TEMPO Interaktif, Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia wafat meninggalkan nama, dan Rosihan Anwar mangkat meninggalkan jejak. Wartawan multizaman yang lahir di Kubang Nan Dua, Sumatera Barat, 10 Mei 1922, itu menghadap Sang Khalik pada Kamis (14 April) pukul 08.15 di Rumah Sakit Metropolitan Medical Center, Jakarta.
Jejak apa saja yang ditinggalkan Rosihan Anwar untuk negeri ini? Yang paling menonjol, pertama, kritisisme seorang jurnalis. Tulisan-tulisan suami dari Siti Zuraida binti Moh. Sanawi ini pada umumnya memang terkesan lembut dan datar-datar saja. Tapi, pada momen-momen tertentu, ia bisa sangat kritis. Sebagai orang Minang, ia tak pernah sungkan untuk mengkritik siapa pun dan dalam kondisi apa pun. Ciri tulisannya khas dengan bahasa yang sangat lugas, logis, dan konsisten dengan kaidah yang baik dan benar.
Kritisisme Rosihan bukan tanpa risiko. Sejak awal kariernya sebagai wartawan, yakni pada masa perjuangan melawan penjajah, ia sudah harus berhadapan dengan rezim hingga dibui oleh Belanda di Penjara Bukit Duri, Jatinegara, Jakarta, yang waktu itu masih bernama Batavia. Pasca-kemerdekaan, salah satu pemimpin yang ia hormati pun, Sukarno, tak luput dari kritik pedasnya sehingga pada 1961 surat kabar yang didirikan dan dipimpinnya, Pedoman, dibredel.
Pada awal-awal Orde Baru berdiri, karena jasa-jasanya sebagai jurnalis yang dianggap punya andil besar mengobarkan revolusi dan ikut berperan pula dalam menenggelamkan rezim Orde Lama, Rosihan mendapat anugerah Bintang Mahaputera III. Tapi itu tak membuatnya kehilangan daya kritis. Sehingga, belum genap satu tahun setelah mendapatkan anugerah itu, koran yang dipimpinnya, Pedoman, dibredel kembali pada 1974.
Selain kritisisme, jejak Rosihan yang punya andil besar dalam menegakkan pilar-pilar kebebasan pers adalah sikap dan pandangannya yang obyektif dalam melihat berbagai peristiwa. Pers, kata Rosihan, tidak mempunyai kekuasaan untuk memaksakan kehendak, karena pers hanya mencari informasi dan akses untuk menyiarkannya kepada masyarakat.
Di tengah kondisi pers nasional seperti sekarang, yang bebas namun masih miskin obyektivitas, jejak Rosihan ini terasa begitu urgen untuk tetap dihidupkan dalam setiap lubuk hati dan jiwa setiap jurnalis. Pada saat umumnya media berada dalam genggaman para politikus, obyektivitas menjadi barang mahal yang tidak mudah dibangun. Sepanjang kariernya selama kurang-lebih 70 tahun menjadi wartawan, dalam menulis, Rosihan tak pernah sejengkal pun beranjak dari kode etik jurnalistik. Ia selalu menjaga jarak dengan kekuasaan. Ia selalu obyektif pada saat mengapresiasi atau menyikapi dengan kritis rezim yang tengah berkuasa.
Kesetiaan
Selain kritisisme dan obyektivitas, jejak lain yang patut diteladani, terutama oleh segenap jurnalis, adalah kesetiaannya kepada profesi. Tiga perempat dari hidupnya ia habiskan dalam dunia jurnalistik. Rosihan memulai karier jurnalistiknya sejak beberapa saat setelah lulus dari AMS (Algemene Middelbare School)--setara SMA--di Yogyakarta pada 1942 dengan menjadi reporter Asia Raya (1943-1945).
Pada awal-awal kemerdekaan, ia menjadi redaktur harian Merdeka (1945-1946), pendiri dan Pemimpin Redaksi Majalah Siasat (1947-1957). Pada 1948, ia mendirikan dan memimpin harian Pedoman hingga ditutup Sukarno (1961). Dan pada era Orde Baru, ia memimpin (kembali) Pedoman hingga ditutup (kembali), kali ini oleh Soeharto pada 1974.
Selain berkarier di media nasional, Rosihan sempat menjadi koresponden beberapa media asing, seperti harian yang baru-baru ini meramaikan jagat politik Indonesia, The Age, yang bermarkas di Melbourne, Australia. Ia juga menjadi kontributor harian Hindustan Times di New Delhi, India, Kantor Berita World Forum Feature di London, Inggris, mingguan Asian yang terbit di Hong Kong (1967-1971), The Straits di Singapura, dan New Straits Times di Kuala Lumpur, Malaysia (1976-1985).
Sebagai jurnalis, Rosihan juga tergolong sangat aktif dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Ia sempat menjadi Ketua Umum PWI Pusat (1970-1973), Ketua Pembina PWI Pusat (1973-1978), dan Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat dari tahun 1983 sampai akhir hayat.
Dalil “an old journalist never dies, neither fades out” tampaknya benar-benar melekat pada diri Rosihan. Ia adalah jurnalis gaek yang tak pernah mati ataupun basi. Sampai ajal menjemput, ia tetap setia sebagai wartawan yang produktif menulis.
Buku
Produktivitas Rosihan sebagai wartawan bisa dilihat dari banyaknya buku yang dilahirkan. Lebih dari 20 buku telah ditulisnya. Tema-temanya amat beragam, dari soal politik, ekonomi, sosial, budaya, agama, hingga yang paling banyak menyangkut kisah perjalanan serta kisah hidup orang-orang yang pernah dikenal atau dikaguminya. Hampir setiap ada tokoh yang wafat, Rosihan menulis memori (obituari) untuk mengenang masa-masa hidupnya. ”Saya ini wartawan spesialis menulis obituari teman-teman saya yang meninggal... ha-ha-ha,” selorohnya suatu ketika.
Di antara buku-bukunya: India dari Dekat (1954); Dapat Panggilan Nabi Ibrahim (1959); Islam dan Anda (1962); novel Raja Kecil (1967); Ihwal Jurnalistik (1974); Kisah-kisah Zaman Revolusi (1975); Profil Wartawan Indonesia (1977); Kisah-kisah Jakarta Setelah Proklamasi (1977); Jakarta Menjelang Clash ke-I (1978); Menulis Dalam Air, Sebuah Autobiografi (1983); Musim Berganti (1985); Perkisahan Nusa (1986); dan masih banyak lagi.
Karya Rosihan yang paling monumental adalah Sejarah Kecil (Petite Histoire) Indonesia dari jilid I hingga IV. Dalam buku ini, nyaris tak ada satu pun peristiwa penting di Tanah Air yang terlewat dari catatan Rosihan, bahkan hingga kejadian-kejadian yang remeh-temeh tapi mengesankan dan mengandung pelajaran bagi siapa pun yang membacanya. Dari jejak-jejaknya yang kita cermati di atas, kiranya tak salah jika tokoh pers dan ahli hukum senior S. Tasrif, SH, menjuluki Rosihan Anwar sebagai "A Footnote of History" (sebuah catatan kaki dalam sejarah). Selamat jalan, Pak Cian….
*) Jeffrie Geovanie, Anggota Komisi I DPR RI