Usamah, Obama, dan Kita

Kamis, 05 Mei 2011 | 11:41 WIB

TEMPO Interaktif, Usamah bin Ladin telah tewas. Bak sebuah “teks”, sosok Usamah memang menyundut tafsir yang tak manunggal. Secara kasatmata, kematian Usamah telah menghunjamkan sukacita publik dunia, terutama masyarakat Amerika. Betapapun, ada pula “ledakan” kemarahan bagi kelompok-kelompok tertentu yang sedari dini berseberangan dengan Barat. Semasa hidupnya, Usamah menjadi figur simbolis penghubung paling penting jaringan teror yang beraksi di seluruh dunia. Pun Usamah telah menjadi mitos yang memotivasi para pemuda pelaku teror kaum jihadis lewat eksistensinya. “Tak mungkin terlalu banyak kecaman atas keputusan membunuh Usamah daripada menangkapnya hidup," kata Joshua Keating di laman majalah Foreign Policy. Benar bahwa pembunuhan politik pernah dikutuk sebagai dampak Perang Dingin dan dilarang pada 1970-an. Tapi, setelah serangan 11 September 2001, gerakan menjelma menjadi pembangkit perlawanan umum.

Pulung Obama
Ada frase lain yang mungkin lebih cocok untuk melukiskan kematian Usamah, yaitu Usamah tewas di tangan Obama. Kita ingat, dalam kampanyenya pada 2008, Obama berjanji memulangkan pasukan AS dari Irak sembari meningkatkan kegiatan perang di Afganistan serta perburuan terhadap Usamah. Dengan berhasilnya pasukan AS menewaskan Usamah, Obama bisa menepuk dada bahwa dia telah berhasil memenuhi janjinya yang ia umbar semasa kampanye.

Obama mempunyai banyak momen penting selama menjabat sebagai orang nomor satu di Negeri Abang Sam. Selama ini, pengaruh politik Obama dilemahkan oleh meroketnya harga BBM dan ekonomi AS yang terus merosot. Pengumuman kematian Usamah akan mengubah perhatian warga AS dari masalah ekonomi ke keberhasilan Obama sebagai komandan Angkatan Bersenjata AS yang sukses menampilkan citra kuat.

Partai Republik selama ini dipandang sebagai partai yang lebih kuat dibanding Partai Demokrat di bidang keamanan dalam negeri. Keberhasilan operasi militer AS yang menewaskan Usamah berarti Obama sukses merebut kekuatan Partai Republik untuk dirinya dan Partai Demokrat. Bahkan Obama berhasil melakukan apa yang selama ini gagal dilakukan pendahulunya, George W. Bush, yang berasal dari Partai Republik.
Begitulah, kematian Usamah menjadi momen yang terpenting. Sama seperti 11 September 2001 menjadi momen yang menentukan dalam karier George W. Bush, kematian Usamah menjadi momen menentukan dalam karier Obama. Pengumuman Obama ihwal tewasnya Usamah oleh operasi militer Amerika di Pakistan dipandang sebagai kemenangan penting yang akan mengantar Obama menuju popularitas berarti. Kita pun ingat kembali rasa patriotisme yang memuncak pasca-serangan 11 September yang telah memastikan Bush terpilih lagi sebagai Presiden AS. Kini, Obama menyeru warga AS agar bersatu seperti yang terjadi pada 2001. Meningkatnya sentimen patriotisme dan juga simpati korban WTC akan melambungkan dukungan untuk Obama. Ini bisa menjadi “kampanye gratis” bagi Obama menghadapi Pemilu 2012 nanti.

Nasib Indonesia
Naif untuk percaya bahwa, dengan tewasnya Usamah bin Ladin, momok teror akan lenyap dari muka bumi. Usamah memang telah disingkirkan. Tapi jaringannya sendiri masih terus menerima peminat. Kematiannya adalah sepotong keberhasilan penting dalam pemberantasan teror di seluruh dunia. Dan kita tak bisa berlama-lama merasa aman. Uri Ra''anan dalam Hydra of Carnage, International Linkages of Terrorism (1986) telah mengingatkan kemungkinan kaum teroris membikin bom nuklir yang bisa dibawa-bawa dalam koper atau bahan ledakan nuklir sederhana yang bisa dipasang di jantung sebuah kota dan meledakkannya.

Ada pandangan bahwa terorisme adalah skenario untuk melegitimasi benturan peradaban. Hassan Hanafi (2000), misalnya, menguraikan bahwa epistemologi Barat berdasar pada subyek yang tunggal, yakni “Aku” yang mengetahui dan mengakui diri melalui “yang lain” (the other). Dalam logika ini, Barat hendak menegaskan identitas dirinya melalui komparasi dan penghadapan dengan identitas lain. Pembandingan dengan the other, menurut Hanafi, membuat Barat terlihat superior.

Aksi teror memang seusia sejarah peradaban manusia sendiri. Ancaman terorisme berkembang semakin cepat dan kompleks seiring dengan kemajuan peradaban dan teknologi. Dan perkembangan teror justru semakin menemukan ruang ekspresinya dalam habitat demokrasi yang serba bebas. Fritjof Chapra dalam The Turning Point (1982) menyebutnya sebagai “penyakit peradaban”. Chapra membaca penyakit peradaban tersebut sebagai patologi sosial yang lahir dari bias anomali ekonomi dan krisis budaya.
Bagaimana Indonesia? Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia sedari lama telah menjadi salah satu medan pertarungan ideologi yang signifikan. Berbagai ideologi, baik kanan, kiri, atau tengah, pernah mewarnai perjalanan bangsa ini. Pertarungannya pun tak kalah seru hingga berdarah. Dan kini, Indonesia sudah menjadi lahan aksi teror berskala internasional dengan musuh yang diidentifikasi sebagai sekuler, Barat, musuh Islam, dan seterusnya. Semakin tinggi intensitas perlawanan kelompok teroris, semakin Indonesia berpeluang menjadi lahan pertarungan ideologi sampai pertumpahan darah.

Terorisme di Indonesia, dilihat dari peta gerakan terorisme global, sebenarnya tergolong baru. Namun guncangannya luar biasa, membuat Indonesia kelimpungan. Memang masih sulit diketahui persis kapan Indonesia mulai terperangkap dalam jaring terorisme. Ada yang berkeyakinan, peledakan bom Malam Natal 24 Desember 2000 merupakan indikasi awal kerja jaringan terorisme. Keyakinan tentang kehadiran jaringan terorisme internasional di Indonesia semakin meningkat setelah tragedi bom Bali 12 Oktober 2002. Dari pengalaman sejumlah kasus teror, dibuktikan bahwa Indonesia adalah "medan jihad" bagi kelompok jihadis.

Sebagai pembanding, coba kita lihat negara-negara yang sudah kadung diinvasi oleh Amerika dan sekutunya, seperti Irak dan Afganistan. Mereka tak kunjung menuai kedamaian. Dan kita tahu, para teroris yang ada di Indonesia banyak di antaranya adalah alumnus Afganistan. Jika Indonesia tidak mewaspadai semua kemungkinan yang mengiringi, bukan mustahil Indonesia akan menjadi lahan subur persemaian teroris.
Di sisi lain, kita menjadi masygul manakala melihat fakta sepak-terjang Amerika dalam “menginjeksi” sekaligus “eksekutor” perang, terutama di negeri-negeri muslim, yang membawa korban rakyat sipil sekaligus menginjak-injak hak asasi manusia dan kedaulatan sebuah negara. Peperangan yang tak ada ujungnya lewat kampanye perang terhadap terorisme(war against terrorism) sepertinya menjadi bagian dari kepentingan dalam negeri Amerika. Di balik itu, tujuan penjualan senjata secara massif, membangun negara sebagai sasaran uji coba persenjataan, menaikkan anggaran perang, menciptakan persenjataan mutakhir, dan menguasai energi. Jadinya, terorisme tidak mudah dibumihanguskan. Sebab, akar persoalannya tak lain adalah ketidakadilan negara kuat terhadap negara-negara berkembang dan dunia Islam.

Akhirnya, kita masih bisa berbangga bahwa Indonesia menawarkan versi Islam yang pluralistik kepada dunia, yang bertolak belakang dengan bentuk Islam yang “monolitik”, terutama yang datang dari Timur Tengah. Islam di Indonesia bisa menjadi barometer untuk Islam di dunia saat ini. Dengan penguatan visi keislaman yang rahmatan lil alamin ini, kita yakin bisa mengatasi terorisme. *



  • Send
  • Print