Usamah bin Ladin dan Arab Saudi
Senin, 09 Mei 2011 | 11:21 WIB
TEMPO Interaktif, Tewasnya Usamah bin Ladin di tempat persembunyiannya di Pakistan diibaratkan seperti dicabutnya tumor dari dalam tubuh dunia muslim. Tapi terapi kelanjutan perlu dilakukan agar sel-sel Al-Qaidah tidak menyebar dan merekrut lebih banyak lagi pengikut yang percaya pada kekerasan sebagai jalan memurnikan dan memberdayakan Islam.
Tewasnya Usamah tiba tepat pada saat banyak kawasan di dunia Islam tengah mengalami pergolakan yang diharapkan bakal meredakan model fanatisme yang dibawakannya, yaitu apa yang dinamakan Musim Bunga Arab dengan tuntutan rakyat yang mendesak diberdayakannya demokrasi (tanpa tuntutan, setidak-tidaknya sampai saat ini, diberlakukannya model pemerintahan Islam seperti yang diinginkan Al-Qaidah).
Tapi mampukah demokrasi yang sekarang sedang dibangun di Mesir dan Tunisia, serta yang sedang diperjuangkan di Bahrain, Libya, Suriah, Yaman, dan tempat-tempat lainnya di kawasan itu, menghindari ancaman yang dibawakan kaum ekstremis Islamis tersebut? Terutama mampukah ia mengalahkan pemikiran-pemikiran Salafi/Wahhabi yang telah membesarkan Usamah bin Ladin dan sejenisnya, dan yang merupakan ideologi yang dianut dan dilindungi Arab Saudi?
Sebelum operasi militer Amerika Serikat untuk membunuh Usamah, simbol utama Al-Qaidah, bangkitnya revolusi demokrasi di negara-negara Arab telah, dalam waktu hanya beberapa bulan, berbuat sama banyaknya untuk memarginalkan dan memperlemah gerakan teroris Usamah di dunia Islam seperti yang tercapai dalam perang melawan teror selama satu dekade. Revolusi di dunia Arab ini, apa pun akhirnya nanti, telah menelanjangi falsafah dan perilaku Usamah dan para pengikutnya sebagai sesuatu yang tidak hanya tak punya legitimasi dan tak manusiawi, tapi sebenarnya juga tidak pantas dalam upaya memperbaiki nasib umat Islam.
Apa yang dikumandangkan jutaan rakyat Arab, sementara mereka berdiri tegak bersatu dalam protes damai ini, adalah bahwa cara yang mereka lakukan untuk menaikkan harkat Arab dan Islam itu adalah jauh lebih baik dalam arti tidak banyaknya nyawa yang dikorbankan. Dan, yang lebih penting lagi, cara yang mereka lakukan itu pada akhirnya akan mencapai semacam harkat yang mereka benar-benar inginkan, bukan cara dengan perang teror yang tidak ada akhirnya untuk membangun kembali khilafah yang dijanjikan Usamah bin Ladin.
Bagaimanapun para pemrotes Musim Bunga Arab tidak perlu menggunakan--dan menyalahgunakan--Islam untuk mencapai tujuan mereka. Mereka tidak mau menunggu Tuhan mengubah nasib mereka, tapi mengambil inisiatif dengan secara damai mengkonfrontasi penindas-penindas mereka. Revolusi Arab ini menandai munculnya bendera pluralis, pasca-Islamis bagi umat. Sesungguhnya, satu-satunya golongan yang telah menggunakan nama agama dalam menghadapi gejolak protes ini adalah para penguasa, seperti mereka yang berkuasa di Bahrain, Yaman, Libya, dan Suriah, yang telah mencoba menggunakan ketakutan akan kaum Syiah atau kaum Sunni di pihak lainnya guna memecah dan menguasai kedua komunitas.
Karena sekarang Amerika telah berhasil menyingkirkan kehadiran fisik Usamah bin Ladin, ia jangan menunda proses terapi selanjutnya itu. Amerika telah dengan pilih-memilih--dan tanpa pandangan ke depan--menyinarkan radiasi hanya pada kanker yang dibawakan Al-Qaidah, sementara membiarkan sel-sel ganas Wahhabisme dan Salafisme Arab Saudi tidak tersentuh. Sesungguhnya, kendati perang melawan teror yang dilakukan negara-negara Barat selama sepuluh tahun terakhir ini serta aliansi jangka panjang Arab Saudi dengan Amerika, kaum Wahhabi di kerajaan itu terus mendanai ideologi-ideologi ekstremis Islamis di seantero dunia.
Usamah bin Ladin, yang dilahirkan, dibesarkan, dan dididik di Arab Saudi, adalah produk dari ideologi yang menyebar di mana-mana ini. Usamah bukan seorang pembawa inovasi, ia adalah produk Wahhabisme yang diekspor oleh rezim Wahhabi sebagai seorang jihadi.
Selama 1980-an, Arab Saudi telah membelanjakan US$ 75 miliar untuk menyebarkan Wahhabisme, mendanai sekolah, masjid, dan badan-badan amal di seluruh dunia Islam dari Pakistan sampai Afganistan, Yaman, Aljazair, dan lain-lain. Arab Saudi terus melaksanakan program itu setelah dilakukannya serangan teror pada 11 September 2001, dan bahkan setelah mereka menyadari "seruan" yang mereka kumandangkan itu tidak bisa mereka kendalikan karena teknologi yang sudah mengglobalisasi. Tidak mengejutkan, diciptakannya gerakan politik Islamis transnasional, yang didorong oleh ribuan situs web bawah tanah jihadi, telah berembus kembali ke Arab Saudi.
Seperti para pembajak 9/11, yang juga merupakan ekspor ideologis Saudi/Wahhabi (15 dari 19 pelaku serangan teroris itu dipilih oleh Usamah bin Ladin karena mereka sama-sama keturunan Arab Saudi dan memperoleh pendidikan yang sama seperti dia sendiri), begitu juga kelompok-kelompok cadangan potensial teroris yang ada di Arab Saudi tetap terpelihara, karena pabrik yang menghasilkan pikiran-pikiran fanatik Wahhabi itu tetap utuh.
Maka itu pertempuran sejati (the real battle) bukan dengan Usamah bin Ladin, melainkan dengan pabrik ideologi yang didukung Arab Saudi tersebut. Usamah cuma mencerminkan kekerasan yang sudah kokoh tertanam dalam ideologi resmi kerajaan itu.
Tewasnya Usamah bin Ladin mungkin meniadakan pembenaran agama yang selama puluhan tahun telah digunakan beberapa diktator, dari Muammar Qadhafi di Libya sampai Ali Abdallah Saleh di Yaman, untuk menindas rakyatnya. Tapi Amerika pasti tahu bahwa bagi Saleh dan sekutu-sekutu Amerika lainnya di kawasan ini, Al-Qaidah cuma dianggap sebagai enemy of convenience, bukan musuh sebenarnya. Dan bahwa dalam banyak kasus, terorisme telah digunakan sebagai alasan untuk menindas rakyat yang menuntut dilakukannya perubahan. Sebenarnya Amerika Serikat mendorong ditindasnya Musim Bunga Arab di Yaman dan Bahrain, tempat aparat keamanan membunuh pemrotes damai yang menuntut ditegakkannya demokrasi dan hak asasi.
Al-Qaidah dan demokrasi tidak bisa hidup berdampingan. Kematian Usamah bin Ladin harus membuka mata masyarakat internasional akan sumber dari gerakan yang dipimpinnya, yaitu rezim represif Arab dan ideologi ekstremis yang mereka anut. Jika tidak, contoh yang diberikan Usamah bin Ladin akan terus menghantui dunia.
*) Mai Yaman, pengarang buku Cradle of Islam
Hak cipta: Project Syndicate 2011