Agama dalam Kultur Pop
Jum''at, 08 Juli 2011 | 11:07 WIB
TEMPO.CO, Agama adalah manifestasi manusia sebagai hamba yang menyembah kepada Sang Pencipta. Ia menjadi kesadaran mental, spirit, dan sikap yang menghiasi kehidupan umat beragama. Ketika ajaran dan nilai agama belum menjadi sikap umatnya, umat tersebut akan dituduh tak menjalankan ajaran agama dengan baik. Sikap keberagamaan seseorang membuat hubungan dia dengan manusia, alam, dan Tuhan berjalan seimbang, harmonis. Ketiganya merupakan trisula kesalehan yang dapat membawa manusia ke puncak keimanan yang esensial.
Perkembangan agama adalah sejarah perkembangan kebudayaan manusia itu sendiri. Tanpa Tuhan menurunkan nabi pun, manusia sudah "beragama" dan mempercayai ada zat yang maha, yang menciptakan alam raya, meski mereka tidak tahu menyebutnya dengan nama apa. Agama-agama lokal adalah contoh bagaimana beragama itu sejatinya adalah fitrah manusia. Peradaban dan kebudayaan manusia selalu berkembang. Kebudayaan manusia dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai perkembangan teknologi, filsafat, politik, hingga ekonomi, yang terjadi pada sebuah masyarakat. Dinamika perubahan itu membuat agama juga berkembang sesuai dengan konteks zaman.
Kita kini memasuki abad cahaya (Piliang, 2005), yang mengandaikan bahwa struktur kebudayaan, komunikasi, serta relasi antarmanusia banyak terjadi dengan bantuan alat-alat teknologi canggih yang menihilkan batas dan waktu. Komunikasi manusia berlangsung simultan (serentak) tanpa tahu siapa memulai dan mendominasi wacana/opini. Teknologi juga "dimanfaatkan" agama untuk melakukan ekspansi dan dianggap sebagai cara baru melakukan syiar keagamaan. Di televisi, kita menjumpai banyak acara yang memenuhi hasrat manusia akan ilmu-ilmu keagamaan. Beragam dai ada, dari yang mirip pelawak, artis sinetron, tukang khotbah, hingga dai yang serius. Penonton yang punya kuasa untuk memilih "belajar" dengan dai yang banyak itu.
Kini tak sulit menjumpai Al-Quran digital, yang bisa diaplikasikan di komputer atau telepon seluler. Al-Quran, yang sebelumnya ditulis di kertas sehingga sangat dijunjung tinggi kesakralannya, kini berbaur dengan isi dalam komputer dan ponsel yang mungkin banyak yang tidak "suci". Simbol-simbol keagamaan (salib, patung Buddha, patung dewa, dan kaligrafi), yang dulu disakralkan, berjalin kelindan dengan benda-benda profan.
Ruang virtual
Pemanfaatan teknologi oleh agama memang memudahkan umat menjalankan aktivitas keagamaan. Mereka tak perlu membawa Al-Quran yang besar untuk mengaji. Cukup membuka laptop atau ponsel. Kitab-kitab kuning juga banyak yang berupa PDF sehingga memanjakan masyarakat dalam mengaksesnya, tak perlu keluar banyak biaya dan tempat. Namun ada konsekuensi yang tidak begitu disadari. Teknologi hanya dipandang sebagai konsekuensi perkembangan peradaban kemanusiaan. Sisi negatif teknologi--sejauh ketika teknologi itu tidak bebas nilai--patut digugat untuk "membersihkan" agama-agama dari "noda-noda duniawi".
Piliang (2011) menyebutkan agama adalah sejenis hasrat manusia untuk melakukan eksistensi diri. Eksistensi itu mewujud saat bagaimana manusia semaksimal mungkin mampu "merengkuh" zat yang transendental, yakni Tuhan. Aktivitas keagamaan yang berlangsung sekarang juga mengambil sufisme sebagai nilai jual agama. Dalam kultur pop, agama tak ubahnya barang konsumsi. Atribut dan simbol agama menjadi barang yang diperjualkan. Popularisme dan postmodernisme membuat agama diselingkuhi nilai-nilai yang bersifat imanen-profan. Agama menjadi medan penampakan simbol-simbol eksternal. Kita acap terbuai oleh kesalehan seseorang hanya karena melihat ia memakai baju koko, berkopiah, dan datang ke pengajian.
Benda-benda dan ruang virtual kerap mampu mengubah seseorang. Jeff Zaleski menuturkan keberagamaan seseorang juga ditentukan oleh teknologi komputer. Kita melihat banyak anak muda yang gemar akan terorisme hanya karena mereka rajin membuka Internet yang banyak memajang dalil-dalil perang untuk menebarkan kebencian terhadap kelompok lain. Atau seseorang yang menjadi alim karena idolanya menjadi alim pada Ramadan. Di sisi lain, muncul net religions, yakni moda spiritualitas yang menjadikan Internet sebagai ruang yang melebihi spiritualitas yang hakiki di ruang nyata.
Dalam kajian cultural studies, semua penampakan simbol hanya merupakan penampakan citra (image). Citra belum tentu merupakan serpihan dari realitas yang sebenarnya. Namun masyarakat begitu mudah percaya pada simbol-simbol yang artifisial. Simbol-simbol ini dianggap akan mengantarkan mereka pada substansi agama dan menemukan Tuhan. Ciri-ciri agama di era keberagamaan kontemporer adalah sifatnya yang masif dan simultan (serentak), tak ubahnya kebudayaan massa. Kalau kita mengikuti perspektif budaya massa oleh mazhab Frankfurt, hanya merupakan bentuk kebudayaan rendah.
Agama dalam kultur pop adalah perayaan terhadap pencitraan, pendangkalan, artifisialitas yang massal dengan bungkus agama. Di situlah ketegangan eksistensi manusia dan agama terjadi; antara mencari kebenaran dan nilai transendental agama atau sekadar ikut arus dalam pseudoreligiositas (keberagamaan palsu).
*) Junaidi Abdul Munif, Peneliti El-Wahid Center, Universitas Wahid Hasyim, Semarang