Ongkos 9/11 *)

Senin, 12 September 2011 | 06:56 WIB

TEMPO.CO, Serangan teror pada 11 September 2001 oleh Al-Qaidah dimaksudkan untuk mencelakakan Amerika Serikat. Dan memang mereka berhasil, tapi dengan cara yang mungkin tidak pernah terbayangkan oleh Usamah bin Ladin. Respons Presiden George W. Bush terhadap serangan itu telah merusak reputasi prinsip-prinsip dasar negara Amerika, merusak ekonominya, dan memperlemah keamanannya.

Serangan terhadap Afganistan yang dilancarkan setelah 9/11 bisa dipahami, tapi invasi yang dilakukan setelah itu di Irak sama sekali tidak ada hubungannya dengan Al-Qaidah--kendati Bush mencoba mengaitkannya. Perang pilihan Bush ini dengan cepat menjadi perang yang sangat mahal harganya--lebih dari US$ 60 miliar pada awalnya--sementara ketidakmampuan yang mencolok bertemu dengan penggambaran keadaan yang tidak jujur.

Sesungguhnya, ketika Linda Bilmes dan saya menghitung biaya perang Amerika ini tiga tahun yang lalu, angka yang konservatif kami peroleh sekitar US$ 3-5 triliun. Sejak saat itu, biayanya telah melonjak tinggi. Dengan kembalinya dari medan perang hampir 50 persen pasukan yang berhak menerima tunjangan penderita cacat dan lebih dari 600 ribu personel yang sampai saat ini dirawat di sarana-sarana medis veteran perang, maka kami perkirakan sekarang biaya tunjangan penderita cacat dan perawatan medis itu bakal mencapai US$ 600-900 miliar. Namun social cost atau ongkos sosialnya, yang tecermin pada jumlah veteran yang bunuh diri (18 orang per hari pada tahun-tahun terakhir ini) dan perceraian keluarga, tidak terhitung banyaknya.

Bahkan jika Bush bisa dimaafkan karena menyeret Amerika, dan banyak negara lainnya di dunia, ke dalam perang dengan alasan yang palsu, dan karena memberi gambaran yang tidak jujur mengenai ongkos petualangannya ini, tapi tidak ada excuse baginya atas caranya membiayai perang itu. Perang yang dilancarkannya itu merupakan perang pertama dalam sejarah yang dibiayai seluruhnya dari utang. Sementara Amerika maju ke medan perang, dengan defisit yang sudah melonjak tinggi akibat dipangkasnya pajak oleh Bush pada 2001, ia bahkan memutuskan maju terus dengan memberi lagi "keringanan" pajak untuk orang-orang kaya di negeri itu.

Dewasa ini Amerika terpaku pada persoalan pengangguran dan defisit. Kedua ancaman terhadap masa depan Amerika ini bisa ditelusuri balik, sebagian besar, pada perang di Afganistan dan Irak. Belanja perang yang melonjak, beserta pemangkasan pajak yang dilakukan Bush, merupakan alasan utama mengapa Amerika terperosok--dari memiliki surplus fiskal sebesar 2 persen produk domestik bruto ketika Bush terpilih sebagai presiden sampai pada posisi defisit dan utangnya yang berbahaya saat ini. Belanja langsung pemerintah untuk perang di Afganistan dan Irak sampai saat ini sudah mencapai sekitar US$ 2 triliun--US$ 17 ribu untuk setiap rumah tangga di Amerika--dengan tagihan yang terus mengalir yang akan meningkatkan jumlah ini sebesar lebih dari 50 persen.
 
Lagi pula, seperti yang kami (Bilmer dan saya) tulis dalam buku The Three Trillion Dollar War, perang di Afganistan dan Irak menyumbang kepada melemahnya makroekonomi Amerika, yang pada gilirannya memperparah defisit dan beban utang. Ketika itu, dan sekarang juga, disrupsi yang terjadi di Timur Tengah telah meningkatkan harga minyak, sehingga memaksa rakyat Amerika membelanjakan uangnya untuk impor minyak yang, jika tidak, bisa dibelanjakan mereka untuk membeli barang-barang produksi dalam negeri.

Namun kemudian US Federal Reserve menyembunyikan kelemahan-kelemahan ini dengan merekayasa gelembung perumahan yang menyebabkan terjadinya booming konsumsi. Bakal makan waktu bertahun-tahun untuk mengatasi utang yang berlebihan serta ancaman di sektor perumahan yang terjadi sesudah itu.

Ironisnya, perang di Afganistan dan Irak telah merusak keamanan Amerika (dan dunia), sekali lagi dengan cara yang tidak terbayangkan oleh Bin Ladin. Suatu perang yang tidak populer bakal menyulitkan rekrutmen militer dalam keadaan apa pun. Tapi, sementara Bush mencoba menipu rakyat Amerika mengenai ongkos perang yang dilancarkannya, ia tidak cukup menyediakan dana untuk pasukan-pasukan di medan perang, menolak bahkan untuk menyediakan dana buat pengeluaran yang mendasar--seperti misalnya untuk kendaraan yang tahan ranjau guna menyelamatkan nyawa tentara Amerika, atau dana yang memadai untuk para veteran yang kembali dari medan perang. Sebuah pengadilan di Amerika baru-baru ini menyatakan hak-hak para veteran telah dilanggar (Hebatnya, pemerintahan Barack Obama mengklaim bahwa hak para veteran untuk mengajukan permohonan banding ke pengadilan harus dibatasi!).

Jangkauan militer yang terlalu jauh telah menimbulkan kegugupan mengenai penggunaan kekuatan militer, dan diketahuinya hal ini oleh pihak-pihak lain bakal memperlemah keamanan Amerika juga. Namun kekuatan riil Amerika, lebih daripada kekuatan militer dan ekonominya, terletak pada soft power negeri itu, yakni otoritas moralnya. Dan soft power ini juga telah diperlemah. Ketika Amerika melakukan pelanggaran terhadap hak asasi manusia, seperti habeas corpus dan hak tidak disiksa, maka komitmennya kepada hukum internasional telah dipertanyakan.

Di Afganistan dan Irak, Amerika dan sekutunya tahu bahwa kemenangan jangka panjang memerlukan dimenanginya simpati rakyat. Namun kesalahan-kesalahan yang dilakukan pada tahun-tahun awal perang tersebut menambah sulitnya perang yang memang sudah sulit itu. Kerusakan sampingan perang ini sangat masif. Menurut perkiraan, lebih dari 1 juta rakyat Irak telah terbunuh, langsung atau tidak langsung, akibat perang ini. Menurut beberapa penelitian, selama 10 tahun terakhir ini, paling tidak 137 ribu rakyat sipil telah tewas dalam kekerasan d Afganistan dan Irak; di kalangan rakyat Irak saja ada 1,8 juta pengungsi dan 1,7 juta rakyat yang tercabut dari tempat tinggalnya.

Tidak semua akibat perang ini membawa bencana. Defisit akibat perang yang dibiayai dengan utang yang begitu besar sekarang memaksa Amerika menghadapi realitas kendala anggaran. Dua dekade setelah berakhirnya Perang Dingin, belanja militer Amerika masih hampir menyamai belanja militer semua negara lainnya di dunia. Sebagian dari pengeluaran yang meningkat ini digunakan untuk perang yang mahal di Irak dan Afganistan serta Perang Global Melawan Teror yang luas itu, tapi yang banyak terbuang sia-sia untuk pengadaan senjata-senjata yang ternyata tidak berguna melawan musuh yang tidak ada. Sekarang, akhirnya, sumber daya itu mungkin sebagian besar bakal dialihkan penggunaannya dan Amerika mungkin bakal memperoleh keamanan dengan biaya yang lebih murah.

Al-Qaidah, walaupun tidak dikalahkan, bukan lagi merupakan ancaman yang tampak begitu besar setelah 9/11. Namun harga yang dibayar untuk tiba pada titik ini, di Amerika dan di mana -mana di dunia, sangat mahal--dan sebagian besar sebenarnya dapat dihindari. Warisan yang kita terima dari semua ini bakal beserta kita untuk waktu yang lama. Karena itu, sebaiknya berpikir dulu sebelum bertindak. Hak cipta: Project Syndicate, 2011.



*) Joseph E. Stiglitz, Guru Besar pada Columbia University, peraih Hadiah Nobel Ekonomi, pengarang buku Freefall: Free Markets and the Sinking of the Global Economy

  • Send
  • Print