Dari 11/9 ke Musim Bunga Arab *)
Senin, 19 September 2011 | 08:06 WIB
TEMPO.CO, Lingkungan operasi Al-Qaidah sekarang ini berbeda jauh dengan lingkungan saat ia melancarkan operasi teror 11/9 yang tersohor itu. Usamah bin Ladin, pendiri Al-Qaidah dan pemimpinnya yang karismatik, tewas terbunuh pasukan komando Amerika Serikat di Pakistan pada Mei lalu. Tiga kediktatoran yang brutal di Timur Tengah dijatuhkan tahun ini--dua dengan perlawanan sipil tanpa senjata dan satu oleh pemberontakan bersenjata yang dibantu NATO. Serangan oleh pesawat tak berawak telah menewaskan banyak di antara para panglima Al-Qaidah yang paling berpengalaman, termasuk paling akhir ini, Atiyah Abd al-Rahman.
Apakah dengan demikian jihadisme militan sudah gagal sehingga Al-Qaidah diragukan bisa bertahan? Jihadisme merupakan ideologi revolusioner modern yang berpegang pada pendirian bahwa kekerasan politik merupakan cara yang dibenarkan secara teologis dan efisien secara taktis untuk mewujudkan perubahan sosio-politik. Terorisme mendominasi kegiatan dari banyak kelompok yang memegang pandangan ini, termasuk, sudah tentu, Al-Qaidah.
Namun, sementara Al-Qaidah tetap berpegang pada ideologi yang dianutnya ini setelah 11/9, pengorganisasiannya telah berubah dengan dramatis. Dari organisasi yang tersentralisasi secara hierarkis, ia sudah menjadi bangunan yang terdesentralisasi, dengan cabang-cabang di berbagai kawasan yang bertindak sebagai pemain-pemain yang dominan.
Al-Qaidah di Jazirah Arab (AQAP) muncul pada akhir 2002 sebagai suatu kekuatan di Arab Saudi, yang mengatur serangan yang spektakuler di Riyadh pada 2003. Serangan ini diikuti oleh lahirnya Al-Qaidah di Irak (AQI) pada 2004. Menjelang 2007, muncul pula Al-Qaidah di Magribi Islam (AQIM). "Model waralaba" ini berkembang pesat. Namun, 10 tahun setelah 11/9, waralaba-waralaba ini berhenti di tempat, bukan semakin luas.
Paralel dengan model "waralaba" itu, Al-Qaidah juga telah mengadopsi pendekatan model "sarang laba-laba", yang tidak mementingkan pengorganisasian, melainkan pembentukan sel-sel kecil yang melancarkan serangan dan kemudahan membubarkan diri. Mereka yang melakukan serangan di Madrid dan London beberapa waktu lalu mewakili model ini.
Kemudian ada model "front ideologi", yang pada mulanya dianjurkan oleh strategi jihadi yang terkenal, Abu Musab al-Suri. Premisnya, seperti pendekatan model sarang laba-laba, adalah bahwa cara paling baik untuk mengorganisasikan diri adalah dengan melakukannya tanpa organisasi. "Cara ini mengalahkan pengaturan security apapun," demikian Al-Suri dalam buku pegangan paramiliter setebal 1.600 halaman yang ditulisnya dengan judul Seruan Perlawanan Global Islam.
Model ini bertumpu pada naratif yang melukiskan ketidakadilan dan kehinaan yang diderita umat Islam, naratif ideologi yang menunjukkan cara untuk menghapus semua ketidakadilan dan kehinaan ini, serta membukakan jalan bagi para simpatisan untuk merekrut diri mereka sendiri ke dalam Al-Qaidah atau memprakarsai operasi mereka sendiri. Inilah model yang diikuti dalam kasus Mayor Angkatan Darat Amerika Serikat Nidal Hasan, yang menewaskan 13 rekan seangkatannya di Fort Hood, Texas, pada 2009. Juga oleh Roshonara Choudhary, yang menikam anggota parlemen Inggris, Stephen Timms, pada 2010.
Al-Qaidah tak hanya sudah bermutasi secara struktural, tapi ideologinya pun menghadapi tantangan yang tidak terduga. Setelah 11/9, beberapa gerakan, faksi, jihadi utama, dan individu militan mengecam dengan keras perilaku Al-Qaidah, dan mulai bergeser ke arah upaya tanpa kekerasan yang menyebabkan hilangnya puluhan ribu pendukung Al-Qaidah. Pergeseran ini berujung pada transformasi organisasi Al-Qaidah di Mesir, Libya, dan Aljazair serta sejumlah milisi individu di Arab Saudi, Yaman, Irak, Afganistan, Malaysia, Singapura, Indonesia, dan negara-negara lainnya.
Di Mesir, Al-Jamaah al-Islamiyyah (Islamic Groups/IG), mantan sekutu Al-Qaidah yang bekerja sama dalam pembunuhan Presiden Anwar al-Sadat pada 1981, telah meninggalkan dan mendelegitimasi kekerasan politik. IG, yang memimpin pemberontakan di Mesir Hulu dari 1992 sampai 1997 dan terlibat dalam pengeboman World Trade Center di New York pada 1993, mulai meninggalkan taktik bersenjata pada 1997 dan mengonsolidasi perubahan ini dengan menerbitkan 25 jilid argumentasi yang rasional serta teologis untuk memajukan ideologi mereka yang baru ini.
Setelah jatuhnya Husni Mubarak dari kekuasaan di Mesir awal tahun ini, IG bukannya mengumpulkan senjata dan membangun kembali sayap bersenjatanya, melainkan mengadakan pemilihan internal. Ia meminta anggota-anggota IG mengisi formulir registrasi keanggotaan dan mengadakan rapat-rapat umum yang menentang kekerasan sektarian; mengeluarkan pernyataan bersama dengan Gereja Ortodoks Koptik di Assyut, yang mendukung hidup berdampingan secara damai; serta mendirikan partai politik (Partai Konstruksi dan Pembangunan) untuk ikut dalam pemilihan umum.
Organisasi Al-Jihad Mesir, yang melahirkan Ayman al-Zawahri, pemimpin agung Al-Qaidah sekarang ini, juga memprakarsai proses transformasi yang cukup berhasil. Beberapa faksi partai ini masih menganjurkan taktik bersenjata, termasuk terorisme, sementara faksi-faksi lainnya sangat kritis terhadap Al-Qaidah dan berusaha membentuk partai politik konvensional di Mesir.
Kelompok Pejuang Islam Libya (LIFG), mantan sekutu Al-Qaidah lainnya, juga telah meninggalkan ideologi ini antara 2005 dan 2010 serta bergabung dalam revolusi menentang kediktatoran Kolonel Muammar Qadhafi. Pemimpin LIFG, Abd al-Hakim Belhaj (alias Abu Abdullaj al-Sadiq), sekarang adalah Komandan Dawn Militer di Tripoli dan merupakan ujung tombak serangan terhadap kompleks Bab al-Aziziyah Qadhafi.
Setelah mencapai kemenangan, Belhaj menyerukan ditingkatkannya keamanan, dilindunginya hak milik, diakhirinya balas dendam, dan dibangunnya suatu Libya yang baru. Nada moderat yang disuarakannya konsisten dengan apa yang dilakukan sebagian besar pemimpin LIFG selama enam bulan terakhir ini, baik di Libya bagian timur maupun barat. Secara keseluruhan, Musim Bunga Arab ini merupakan pukulan berat terhadap jihadisme, dan menurunkan rationale jihadisme (bahwa militansi bersenjata merupakan cara paling efektif dan punya legitimasi paling kuat bagi tercapainya perubahan).
Kombinasi efek operasi intelijen, serangan oleh pesawat tak berawak, transformasi di dalam kalangan jihadi, dan Musim Bunga Arab telah menggerogoti kekuatan "sentral" Al-Qaidah. Waralaba-waralaba dan ideologi yang telah berubah itu berarti bahwa beberapa pecahan Al-Qaidah mungkin bakal bertahan karena sudah tertanam kuat di kawasan-kawasan tertentu. Tapi Al-Qaidah sebagai ancaman global telah tergerogoti dengan parah.
*) Omar Ashour, Direktur Program Studi Pascasarjana Timur Tengah pada Institute of Arab and Islamic Studies, University of Exeter, Inggris
Hak cipta: Project Syndicate, 2011