Pelajaran Tak Terpetik dari Nuklir *)
Senin, 03 Oktober 2011 | 08:04 WIB
TEMPO.CO, Banyak negara di dunia awal Agustus yang lalu merayakan ulang tahun ke-50 dibangunnya Tembok Berlin. Tapi, sementara lambang buruk Perang Dingin itu sudah benar-benar dilempar ke keranjang sampah sejarah, 1 September yang baru lalu menandai ulang tahun ke-50 suatu peristiwa yang gemanya terasa lebih langsung menyentuh dunia saat ini.
Sampai 1961, sekitar 200 bom nuklir telah diledakkan, sebagian besar di ruang atmosfir, kecuali dua di Hiroshima dan Nagasaki di Jepang. Tiga tahun sebelumnya, pada Oktober 1958, uji coba nuklir berhenti setelah Amerika Serikat, Uni Sovyet, dan Inggris sepakat mengenai moratorium uji coba. Selama periode ini, orang bisa mendapat kesan, walaupun kesan ini bisa menipu, bahwa uji coba nuklir sudah berhenti sama sekali.
Ternyata moratorium itu dari semula sangat rapuh, ketika negara-negara mapan nuklir mendesak dimulainya lagi uji coba. Seperti detik-detik sebelum terjadi gempa bumi, ketegangan politik bergemuruh di balik layar. Gemuruh ini mencapai puncaknya dengan dibangunnya Tembok Berlin pada Agustus 1961. Kemudian, pada 1 September, Uni Sovyet mengabaikan moratorium, yang tidak lama sesudah itu diikuti pula oleh AS.
Apa yang terjadi sesudah itu benar-benar gila uji coba nuklir. Lebih dari 250 uji coba dilakukan dalam waktu 16 bulan setelah gagalnya upaya untuk memasukkan kembali jin nuklir itu ke dalam botolnya – lebih banyak uji coba daripada dalam waktu 16 tahun sebelumnya. Satu ledakan uji coba memecahkan rekor sebagai ledakan nuklir paling besar yang pernah dilakukan manusia sampai saat itu: bom Tsar Sovyet, yang diledakkan pada 30 Oktober 1961, setara dengan 4.000 bom Hiroshima. Bukan kebetulan bahwa setahun kemudian, pada Oktober 1962, dunia berada di tepi jurang perang nuklir dengan terjadinya Krisis Misil Kuba.
Sementara maraknya uji coba nuklir itu meracuni iklim politik, ia juga secara harfiah meracuni atmosfir di atas dan lingkungan di muka Bumi. Penelitian Lebih dari 180 negara, 90% dari jumlah negara di dunia, telah menandatanganinya dan mengikatkan diri mereka pada upaya membebaskan planet Bumi dari ledakan-ledakan nuklir lagi. Baby Tooth Study, yang dilakukan ahli fisika Amerika Louise Reiss, yang meninggal dunia awal tahun ini, membuktikan pada 1960an bahwa debu radioaktif dari uji coba nuklir telah masuk ke dalam rantai makanan – dan dengan demikian ke dalam bayi-bayi anak manusia – di seantero AS. Sebagian isotof tetap beredar setelah puluhan ribu tahun. Plutonium-239 dari uji coba yang dilakukan pad akhir Zaman Batu, misalnya, pada saat ini bakal berkurang cuma seperlima kemampuan radioaktifnya.
Sayangnya, pelajaran yang bisa dipetik dari semua ini tidak dihiraukan. Yang menang akhirnya lobi senjata nuklir. Mental Perang Dingin yang tidak percaya satu sama lain itu akhirnya memakan korban. Masing-pihak pihak menganggap senjata nuklir sebagai penjamin keamanan di tangan mereka, tapi sebagai ancaman terhadap mereka di tangan pihak lainnya. Ketidakmampuan atau tidak bersedianya kedua pihak untuk menempatkan dirinya dalam kedudukan pihak lainnya -- prasyarat bagi tercapainya kompromi –menyebabkan mereka terjebak dalam perlombaan senjata yang tidak henti-hentinya. Ledakan-ledakan nuklir terus dilakukan – walaupun di bawah tanah – dan jumlah senjata nuklir terus meningkat.
Kini, 50 tahun dan 1.500 ledakan nuklir kemudian, kita punya peluang historis untuk belajar dari kegagalan masa lalu. Traktat Larangan Menyeluruh Uji Coba Nuklir (CTBT) melarang semua ledakan nuklir, di manapun oleh siapapun. Ia merupakan norma yang kuat– uji coba boleh dikatakan berhenti sama sekali pada 1996 ketika Traktat ini terbuka untuk diadopsi oleh negara-negara di dunia. Lebih dari 180 negara, 90% dari jumlah negara di dunia, telah menandatanganinya dan mengikatkan diri mereka pada upaya membebaskan planet Bumi dari ledakan-ledakan nuklir lagi.
Dibandingkan dengan 500 ledakan nuklir yang terjadi setiap dekade pra-CTBT, dalam sepuluh tahun terakhir hanya ada dua uji coba, kedua-duanya dilakukan oleh Korea Utara. Sementara dua uji coba ini masih dianggap lewat batas, CTBT jelas telah turut memaksa jin nuklir itu kembali ke dalam botolnya – dan menjaganya jangan keluar lagi.
Tapi Traktat ini belum berlaku kuat. Sembilan negara masih harus meratifikasinya dulu. Sampai saat itu, uji coba nuklir tidak dilarang, dan tidak adanya uji coba ini tergantung pada moratorium yang disepakati. Sayangnya, sejarah menunjukkan betapa tidak bisa diandalkannya moratorium itu.
Akibatnya, kita bisa menyaksikan lagi ledakan-ledakan baru, persaingan diproduksinya lagi senjata nuklir dalam ukuran megaton, serta countdown yang fatal lagi antara negara-negara nuklir yang jumlahnya telah meningkat. Baru setelah terjadinya Krisis Misil Kuba – ketika dunia berada paling dekat ke tepi jurang kiamat – Presiden AS John F. Kennedy dan Perdana Menteri Uni Sovyet Nikita AS Khrushchev memahami risiko persaingan nuklir yang tidak terkendali dan pentingnya larangan uji coba untuk menghentikan persaingan itu. Baru setelah itu mereka benar-benar mencoba mencapai kesepakatan mengenai larangan menyeluruh uji coba nuklir – namun gagal.
Berapa banyak lagi peluang yang harus kita peroleh untuk belajar dari kegagalan di masa lalu? *) Tibor Tóth, Sekretaris Eksekutif Komisi Persiapan Organisasi Traktat Larangan Menyeluruh Uji Coba Nuklir (CTBT)
Hak cipta: Project Syndicate, 2011.