Agenda Global untuk 7 Miliar Anak Manusia
Selasa, 04 Oktober 2011 | 09:32 WIB
TEMPO.CO, Akhir bulan ini seorang bayi bakal lahir--warga planet bumi yang ketujuh miliar. Kita tidak akan pernah tahu dalam keadaan apa ia dilahirkan. Namun kita tahu bayi ini akan memasuki dunia yang mengalami perubahan besar dan tidak bisa diprediksi--di bidang lingkungan, ekonomi, geopolitik, teknologi, dan demografi.
Populasi dunia sudah meningkat tiga kali lipat sejak Perserikatan Bangsa-Bangsa terbentuk pada 1945. Dan jumlah ini terus bertambah bersamaan dengan meningkatnya tekanan pada ketersediaan lahan, pangan, dan air. Ekonomi global juga menambah tekanan yang ada: makin meningkatnya angka pengangguran, makin melebarnya ketidaksetaraan sosial, dan munculnya kekuatan-kekuatan ekonomi baru.
Semua tren ini mengaitkan nasib dan masa depan 7 miliar manusia dalam situasi yang tidak pernah dialami dunia sebelumnya. Tidak ada negara yang bisa mengatasi tantangan-tantangan abad ke-21 ini sendirian. Kerja sama internasional merupakan kebutuhan bersama semua umat manusia.
Sidang Majelis Umum PBB ke-66 merupakan peluang baru lagi bagi negara-negara di dunia untuk menyingkirkan kepentingan-kepentingan sempit jangka pendek dan mengikatkan diri pada upaya kerja sama mengatasi persoalan-persoalan mendesak jangka panjang umat manusia. Ketika semua negara dihadapkan pada tantangannya masing-masing, kita perlu menempa agenda bersama yang bisa memberi jaminan bahwa bayi ketujuh miliar itu serta generasi-generasi pada masa datang tumbuh di suatu dunia yang bercirikan perdamaian, kesejahteraan, kebebasan, dan keadilan yang berkesinambungan.
Untuk membantu terciptanya masa depan yang demikian, saya akan mencurahkan masa jabatan saya yang kedua sebagai sekretaris jenderal pada lima persoalan global yang mendesak--lima peluang untuk memberi bentuk kepada dunia di masa depan dengan keputusan-keputusan yang kita ambil hari ini.
Persoalan yang pertama dan paling mendesak dari lima persoalan ini adalah pembangunan yang berkesinambungan. Kita semua mesti memahami bahwa menyelamatkan planet bumi, mengangkat rakyat kita dari jurang kemiskinan, serta memajukan pertumbuhan ekonomi merupakan perjuangan yang satu dan sama. Kita mesti menghubungkan titik-titik antara perubahan iklim, kelangkaan air, kekurangan energi, kesehatan global, keamanan pangan, dan pemberdayaan wanita menjadi satu. Solusi satu persoalan mesti menjadi solusi untuk semua.
Dalam lima tahun ke depan, kita perlu menciptakan suatu visi ekonomi yang baru untuk terwujudnya pembangunan yang berkesinambungan dan menempa konsensus global mengenai kesepakatan yang mengikat tentang perubahan iklim. Memajukan pertumbuhan ekonomi, mewujudkan Millennium Development Goals, dan mengatasi perubahan iklim, semua bakal bergantung pada terciptanya suatu sistem energi yang baru untuk abad ke-21 serta yang mencakup semua orang di muka bumi.
Pencegahan sebagai kerangka kerja sama internasional merupakan peluang kedua. Tahun ini anggaran yang tersedia bagi PBB untuk menjaga perdamaian di dunia bakal mencapai US$ 8 miliar. Bayangkan apa yang kita bisa hemat dengan menghindarkan diri dari konflik--dengan mengirim misi mediasi politik, misalnya, bukan dengan mengirim pasukan. Kita tahu bagaimana melakukan ini. Apa yang telah kita lakukan membuktikannya--di Guinea, Kenya, dan Kirgistan.
Persoalan ketiga yang mendesak adalah membangun dunia yang lebih aman dan lebih kokoh. Dalam upaya ini, kita mesti berani berdiri tegas menegakkan demokrasi, hak asasi manusia, dan perdamaian. Tahun ini merupakan salah satu tahun pencapaian yang berarti dalam memulihkan dan memantapkan perdamaian--di Pantai Gading, Darfur, Mesir, dan kawasan-kawasan lainnya. Namun kebencian dan pertumpahan darah yang masih berlangsung menghambat jalan menuju tercapainya visi perdamaian yang kita idamkan.
Di Timur Tengah, kita mesti mendobrak kebuntuan di kawasan itu. Palestina berhak memiliki suatu negara. Israel perlu keamanan. Keduanya menginginkan perdamaian, penyelesaian lewat negosiasi bisa menghasilkan semua ini, dan PBB merupakan ajang untuk tercapainya perdamaian ini.
Begitu juga, kita akan terus melanjutkan upaya memajukan pemerintahan yang demokratis di Irak, Afganistan, Republik Demokratis Kongo, dan Sierra Leone. Dan, atas nama semua umat manusia, kita akan terus maju mendorong perlucutan dan non-proliferasi senjata nuklir demi terwujudnya suatu dunia yang bebas dari senjata nuklir.
Peluang besar keempat terletak pada dukungan kepada negara-negara dalam transisi. Apa yang terjadi di Afrika Utara dan Timur Tengah memberi inspirasi kepada rakyat di seantero dunia. Marilah kita membantu menjadikan Musim Bunga Arab sebagai musim yang memberikan harapan bagi semua.
Di Libya, kita telah mengirim misi pendukung PBB yang baru untuk membantu otoritas transisi negeri itu membentuk pemerintahan dan tertib hukum yang baru, sesuai dengan aspirasi rakyat Libya. Suriah merupakan keprihatinan kita bersama. Selama enam bulan ini, kita menyaksikan eskalasi kekerasan dan represi. Pemerintah telah berulang kali berikrar akan mengadakan reformasi dan mendengarkan suara rakyat. Ia belum melakukan semua itu. Momen untuk mengambil tindakan adalah sekarang. Kekerasan mesti dihentikan.
Peluang yang terakhir tapi bukan yang tidak penting adalah persoalan mendesak bekerja dengan dan untuk kaum wanita serta generasi muda. Populasi wanita lebih dari separuh populasi dunia dan potensinya belum banyak diwujudkan di dunia. Kita perlu keikutsertaan mereka sepenuhnya--dalam pemerintahan, bisnis, dan masyarakat madani. PBB telah menempatkan prioritas yang tinggi pada upaya memajukan wanita di semua tingkatan organisasi PBB. Tahun ini, untuk pertama kalinya, UN Women telah bergerak memajukan kepentingan-kepentingan dan hak-hak wanita di seluruh dunia.
Tujuh miliar manusia sekarang meletakkan harapan pada PBB untuk mencarikan solusi mengatasi tantangan-tantangan besar yang dihadapi dunia saat ini. Mereka terdiri atas rakyat dari berbagai agama dan latar belakang, tapi mereka memiliki mimpi dan aspirasi yang sama. Masa depan global kita bergantung pada menyatukan bakat-bakat individu ini dengan hak-hak universal dalam perjuangan bersama. Marilah kita mulai agenda bersama ini. * ) Ban Ki-moon, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa
Hak cipta: Project Syndicate, 2011