Umat Islam Diharapkan Mampu Mewujudkan Solidaritas Sosial
TEMPO Interaktif, Jakarta:Seiring dengan tibanya Idul Fitri, diharapkan umat Islam dapat lebih meningkatkan solidaritasnya sebagai sesama manusia. “Solidaritas terhadap seseorang atau sebuah kelompok jangan sampai mengalahkan pertimbangan rasional dan matang,” kata H. Muslim Nasution, dosen IAIN Syarif Hidayatullah yang bertindak sebagai khatib di Masjid Istiqlal, Minggu (16/12) pagi.
Wujudkan solidaritas sosial itu, menurut Muslim, dapat ditempuh berbagai cara. Baik dalam bentuk materi maupun non materi. Selain membayar zakat, umat Islam juga diharapkan dapat mewujudkan kedamaian bagi sesamanya.
Islam pada hakikatnya adalah agama Rahmatan lil alamin, yakni membahagiakan seluruh alam. Karena itu seorang muslim seyogyanya mampu memposisikan diri sebagai pemberi kebahagiaan kepada lingkungan sekitarnya, menyenangkan mesra dan peduli. Caranya dapat diawali dengan meningkatkan kepedulian kepada orang-orang di sekitar kita.
Muslim menuturkan bahwa teladan Nabi Muhammada SAW telah dengan gamblang menunjukkan bagaimana sikap muslim yang baik. Nabi Muhammad memperlakukan semua masyarakat di Madinah dengan sama dan tidak mengenal kelompok minoritas. “Apalagi memakai istilah PAD (Putra Asli Daerah),” tegas Khotib. Sikap solidaritas kebebasan, persamaan dan keadilan menjadi pilar utama Rasulullah dan para sahabatnya dalam membangun masyarakat, imbuhnya lagi.
Rasa solidaritas sosial tidak mengenal batas wilayah, agama dan negara. Rasa solidaritas itu juga sepatutnya kita sampaikan bagi saudara-saudara kita di Afganistan yang sedang berperang. Untuk itu seharusnya kebijakan pemerintah mengirimkan bantuan kemanusiaan mendapat dukungan umat Islam Indonesia. Sikap solidaritas seharusnya tidak dikalahkan oleh sikap-sikap yang emosional. “Sikap emosional karena alasan solidaritas jangan sampai lepas tanpa kendali, ujarnya mengingatkan.
Masyarakat seyogyanya menyerahkan sepenuhnya kebijakan akhir kepada pemimpin negara untuk menentukan sikap terbaik yang harus diambil. Dengan memberikan kepercayaan itu diharapkan Indonesia terhindar dari prilaku radikal, ekstrim, tidak toleran dan terkesan eksklusif dalam kehidupan beragama. Memberi kepercayaan, kepada para pemimpin harus dilakukan tanpa harus menghilangkan sikap kritis dan idealisme.
Dalam kutbahnya, dia juga menceritakan kemurahan dan perhatian nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin umat. Beliau memiliki kemurahan yang sangat tinggi sehinga hartanya tidak sampai menumpuk hingga batas nisab dan haul sebagai persyaratan wajib zakat maal. Sebagai pemimpin umat dan negara, Rasulullah tetap menjadi seorang yang sangat sederhana.
Teladan rasul yang tidak pernah memanfaatkan amanah dan jabatannya untuk kepentingan pribadi, keluarga dan golongannya mencerminkan kesadaran dirinya sebagai pengayom dan pemegang amanah. “Istilah aji mumpung sebagaimana sering muncul dalam masyarakat kita betul-betul tidak ditemukan dalam kepemimpinan Rasululullah”, jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, panitia Masjid Istiqlal mengumumkan perolehan Zakat Fitrah dan maal serta sedekah dan fidyah yang diperoleh masjid pada tahun ini. Zakat fitrah yang terkumpul dalam bentuk uang adalah Rp 51,8 juta dan 900 Kg beras. Sedangkan zakat mal yang diperoleh sebesar Rp. 101.986.000. Masjid juga menerima sedekah sebanyak Rp 8.894820 dan 2,5 ton beras selama bulan ramadan. Untuk fidyah mencapai Rp 4,145 juta. Selain zakat fitrah dan sedekah yang mengalami peningkatan cukup besar, perolehan lainnya mengalami penurunan. (dara meutia uning-tempo news room)