Korban Peledakan Bekerja di Art Shop
TEMPO Interaktif, Jakarta:Hasballah, korban tewas yang juga diduga pelaku peledakan di Rumah Makan Ayam Bulungan, Selasa (2/1) dini hari, bekerja sebagai karyawan Bachtiar Art Shop Antique – Porcelain di Jalan Ciputat Raya Nomor 7 A Jakarta Selatan milik Haji Nurdin.
Joko Sugiharto, Ketua RT 03/RW 08 Kampung Gintung Desa Cirendeh, Ciputat Jakarta Selatan di rumahnya, Selasa (2/1) siang mengatakan Hasballah, yang lahir 10 Mei 1980, tidak tercatat sebagai warga kampung tersebut. Saat ditemukan, KTP Hasballah menunjukkan alamat di Cirendeh tersebut.
“Kami yakin, dia salah satu orang yang tinggal di empat itu. Semuanya orang Aceh,” ujar Ketika memberi keterangan kepada wartawan, ia didampingi Ketua RW, Siswanto, dan Sekretaris RW, Mukidi.
Joko dan warga Kampung Gintung merasa yakin karena pernah mendengar nama tersebut. Ia mendengar nama itu saat tiga hari menjelang Hari Raya Idul Fitri 1422 Hijriyah lalu. Hasballah merupakan salah satu dari lima penghuni Bachtiar Art Shop yang tercatat di Kampung Bintung menyerahkan Zakat Fitrah. “Tapi yang datang waktu itu cuma satu orang saja, namanya Nasrul. Sedangkan Hasballah sendiri tidak ikut,” ujar Joko serus sambil menunjukkan daftar nama warganya.
Mengenai keberadaan Hasballah, Joko mengatakan bahwa dua orang anggota intelijen juga sempat menanyainya. Mereka menanyakan kemungkinan salah satu orang yang diduga pelaku dan kabur, melarikan diri kembali ke kediamannya itu.
“Tapi sejak dua hari lalu sepertinya tutup, barangkali mereka ke rumah Pak Haji Nurdin di Kebon Sirih,” kata dia dengan mengenakan kaos oblong hijau. Hanya saja, ia mengaku tidak mengetahui alamat pasti Haji Nurdin di Kebon Sirih.
Sejauh pengamatan Tempo News Room, rooling door hijau tua Bachtiar Art Shop yang ditempati Hasballah tampak tergembok dan tertutup rapat. Tidak ada tanda-tanda kehidupan penghuninya di dalam bangunan warna krem berlantai tiga itu. Lokasinya cukup strategis, terletak di kawasan rumah toko art shop di pinggir Jalan Ciputat Raya.
Sementara itu, menurut keterangan Siswanto, tempat itu sudah menjadi milik Haji Nurdin sejak tahun 1995. Namun hanya selang beberapa lama – tidak diketahui pastinya – tempat itu dikelola oleh orang lain.
Baru sekitar pertengahan bulan Ramadhan lalu, Haji Nurdin sendiri yang mengelolanya kembali. “Haji Nurdin juga membenarkan ada lima orang karyawannya yang bekerja di situ,” kata dia sambil sesekali menghisap rokoknya.
Selain berjualan barang-barang mebel dan keramik, Siswanto, sambil menunjukkan ke arah dua kios, mengatakan semua penghuninya yang warga Aceh itu juga berjualan rokok. Dua kios kecil itu berada di depan toko. Satu bercat warna hijau dan satunya lagi warna putih.
Meski Bachtiar Art Shop tergolong sukses, kata Siswanto sambil mengingat-ingat, penghuninya banyak dikenal kurang akrab dengan warga setempat. Setiap kali dimintai sumbangan dan iuran bulanan kampung saja tidak pernah memberi. “Tapi setelah mengadukan ke Pak Haji Nurdin, baru mereka mau memberikannya. Itupun waktu tiga hari menjelang Idul Fitri lalu,” tukas dia. (eduardus karel dewanto)