indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Hartini Soekarno Meninggal Dunia


TEMPO Interaktif, Jakarta:Isteri Presiden Pertama RI Soekarno, Hartini Soekarno, meninggal dunia di Rumah Sakit MMC Jakarta, Selasa (12/3) pukul 01.40 WIB akibat serangan jantung yang telah diidapnya sejak lama. "Ibu memang sudah sepuh dan sudah bolak-balik masuk rumah sakit untuk perawatan penyakit jantungnya," kata menantu Hartini Soekarno, Freddy Tobing kepada Antara.
Menurut dia, Senin (11/3) malam Hartini merasakan sesak nafas yang diduga disertai serangan jantung. Keluarganya kemudian membawa ke ke dokter pribadinya, Prof Nurul untuk mengecek kesehatannya. Dokter menyarankan agar Hartini segera dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Hasil pemeriksaan rumah sakit, Hartini Soekarno disarankan untuk dirawat dan oleh pihak keluarga menyetujui dirawat di Rumah Sakit MMC. "Sampai jam 15.00, Senin, Ibu masih sadar. Sesudah jam itu langsung koma hingga akhirnya meninggal dunia Selasa jam 01.40 WIB," kata Freddy.

Dikatakan, Presiden Megawati Soekarnoputri sekitar jam 24.00 (Senin) masih sempat menjenguk Hartini Soekarno di rumah sakit, tapi Hartini sudah dalam kondisi tidak sadar. Menurut rencana, jenazah akan dikebumikan Selasa (12/3) pukul 13.00 WIB di TPU Karet Bivak dan diberangkatkan dari rumah duka Jl. Proklamasi No 62 Jakarta Pusat.

"Ibu Presiden Megawati Soekarnoputri menurut rencana jam 12.00 akan melepas kepergian Ibu Hartini di rumah duka," kata Freddy. Hadir melayat di rumah duka sejumlah tokoh dan pejuang kemerdekaan, antara lain Roeslan Abdulgani.

Hartini Soekarno meninggal dalam usia 78 tahun. Ia dilahirkan di Ponorogo, Jatim tanggal 20 September 1924 dan sempat mengenyam pendidikan HIS, SD di Malang dan Bandung, serta SMP dan SMA juga di Bandung.

Hartini menikah dengan Presiden Soekarno di Istana Cipanas, Bogor tanggal 7 Juli 1953. Hasil perkawinannya dengan Soekarno, ia dikaruniai dua putra, yaitu Taufan dan Bayu. Taufan dan Bayu tidak lama mengenyam kasih sayang sang ayah, sebab pada saat Bung Karno meninggal pada 21 Juni 1970, Taufan masih berada di SMP. Sementara Bayu waktu itu masih di SD. Taufan meninggal akibat kanker usus saat menimba ilmu di Amerika Serikat tahun 1986. (Erdian)

Komentar (2)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
0
DARI SEMUA PERJUANGANYA BUNG KARNO DAN SEMUA KARAKTER BELIAU MUNGKIN SIAPAPUN JUGA TOKOH YANG LAIN TIDAK AKAN BISA MENGIKUTI JEJAK DAN SIPAT BELIAU YANG BEGITU PENUH DENGAN RASA TANGGUNG JAWAB KEPADA BANGSA DAN NEGARA WALAUPUN BELIAU HARUS BERKORBAN.DAN JASA2NYA BELIAU TIDAK AKAN TEBAYAR OLEH TOKOH SIAPAPUN JUGA.KALAU BELIAU DULU UNTUK KESEJAHTERAAN BANGSA DAN NEGARA,TAROHANYA NYAWA,TAPI KALAU TOKOH2 SEKARANG HANYA MEMENTINGKAN DIRINYA SENDIRI DAN TARUHANYA KAYA ORANG MAIN JUDI DAN TETAPI ITUPUN JUGA TIDAK SEMUA BEGITU,YANG BEGITU HANYA OKNUM TOKOH2 YANG IJAZAHNYA ASPAL.
0
0
SAYA SANGAT BANGGA DENGAN SEMUA PENGORBANAN JERIH PAYAH BUNG KARNO DARI AWAL KEMERDEKAAN SAMPAI BELIAU MENINGGAL DUNIA,TAPI APA YANG BELIAU DAPATKAN? MALAH PENGHINAAN DAN EJEKAN YANG SANGAT LUAR BIASA MENYAKITKAN HATI.SAMPAI2 WAKTU ITU ANAK2NYA BELIAU TIDAK BOLEH BERSEKOLAH,ITU YANG LEBIH LAGI MENYAKITKAN.
Wajib Baca!
X