Amien Rais tak Setuju Megawati Cuti

TEMPO Interaktif, Jakarta:Ketua MPR, Amien Rais, menyatakan ketidaksetujuannya dengan keinginan Presiden Megawati Soekarnoputri supaya masalah cuti Kepala Negara diatur dalam Undang-Undang Kepresidenan. Apalagi, keinginan seperti itu belum pernah terjadi sejak 57 tahun Indonesia merdeka.

“Dalam kondisi yang lebih kacau dibanding sekarang, justru Presiden Indonesia sebelumnya sama sekali tidak berkeinginan untuk cuti. Sebaliknya, mereka terus berupaya memberikan pengabdiannya yang terbaik buat Indonesia dengan sekuat tenaga,” ujar Amien, usai silaturahmi dengan mahasiswa baru dan civitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang, Minggu (15/9).

Ditambahkan, Megawati patut belajar dari pengalaman presiden sebelumnya dengan cara bekerja lebih keras lagi. Megawati baru bisa cuti bila Indonesia sudah maju seperti Amerika Serikat misalnya, yang presidennya diberi cuti dua minggu dalam setahun.

Keinginan Megawati, menurut Amien, amat tidak cocok di saat kondisi Indonesia masih carut-marut begini. Sekalipun harus diatur oleh Undang-Undang Kepresidenan, keinginan Megawati bukanlah hal terpenting untuk dibahas dan dipenuhi.

”Kondisi Indonesia sekarang amat sangat tidak memungkinkan. Kalaupun Presiden merasa sudah bekerja 24 jam penuh, saya rasa, pengorbanannya itu juga belum cukup. Saya setuju Presiden tak usah cuti. Soal cuti, nanti saja dibahas lagi. Jika masih mau cuti juga, ya, Presiden cukup bercuti sehari dalam seminggu, yakni di hari Ahad (Minggu),” papar Amien.

Kalau dihitung, dengan ‘cuti’ model itu, dalam setahun ada 52 hari Presiden bisa istirahat dan tidur enak. Itu sudah cukup. Lagipula, keinginan cuti bisa menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat yang lagi gamang. Amien menegaskan, “Masyarakat sendiri kayak-nya tidak akan menyetujui (usulan cuti) itu.”

Lalu, Amien menyoal lawatan Megawati ke luar negeri. Kepergian itu dinilai tidak terlalu memberikan arti apa-apa bagi Indonesia, selain cenderung ingin berlibur belaka yang berdampak pada pemborosan dalam pemakaian uang negara. Menurut Amien, ukuran yang konkret kalau Presiden ke luar negeri, salah satunya adalah investor ramai-ramai datang dan menanam modal di Indonesia. Tapi, faktanya tidak seperti itu. “Ya, sudahlah, anggap saja perjalanan ke luar negeri itu sebagi bonus cuti buat Presiden,” kata Amien, enteng.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, K.H. Hasyim Muzadi, bersuara senada. Ia beralasan, cuti belum menjadi budaya Indonesia, terlebih bila belajar dari pengalaman pemimpin Indonesia sebelumnya.

”Orang kita belum biasa melihat Presiden cuti. Kita kan susah membedakan etos kerja orang Indonesia di antara istirahat dan bekerja. Jadi, saya kira, yang patut diteladankan Presiden adalah bagaimana meningkatkan produktivitas kerja,” katanya, di sela-sela seminar bertajuk ‘Budaya Berpolitik Bangsa Indonesia,’ di Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang. (Abdi Purmono—Tempo News Room)