indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Biro Perjalanan Haji Somasi Indonesian Airlines


TEMPO Interaktif, Jakarta:Indonesia Airlines tak bisa menyelesaikan hutangnya. Mereka akan digugat pailit.
Sebelas biro perjalanan haji dan umroh somasi PT Indonesian Airlines Avipatria. Alasan mereka, perusahaan penerbangan itu selalu menunda kewajiban membayar utangnya. “ Masalah ini berbulan-bulan belum ada penyelesaiannya, apalagi diwarnai dengan tindak pidana,” ujar kuasa hukum biro perjalanan, Luthfie Hakim SH, dalam konferensi persnya di Wisma Kodel Jakarta, Senin (12/5).

Ke sebelas biro perjalanan itu yakni PT Cikara Tour & Travel, PT Gema Shafa Marwa, PT Penata Rihlah, PT Giani Citra Utama, PT Citra Usaha Wisata, PT Aril Buana Wisata, PT Rekkamandiri Sejahtera Travelindo, PT Tourindo Gerbang kerta Susila Tour & Travel, PT Safir Amal Imani, PT persada Duta Beliton Tour & travel, dan PT Menara Suci Sejahtera.

Dia menjelaskan utang Indonesia Airlines itu mencapai Rp. 8,5 miliar. Utang berasal dari akomodasi yang dibayarkan oleh ke sebelas biro travel karena jasa penerbangan itu tak berhasil mengangkut jamaah haji ke Saudi Arabia, sesuai dengan kesepakatan. Ini lantaran mereka tak memiliki izin memberangkatkan dan memulangkan jamaah haji tahun lalu. Padahal, seluruh biro travel telah mempercayakan Indonesian Airlines untuk mengurus transportasi 2.168 jamaah.

Pada kesempatan yang sama, koordinator pengurus biro perjalanan Abdul Aziz menerangkan, angka itu adalah biaya membayar tiga jasa penerbangan lain untuk mengangkut 1468 jamaah yang tertunda keberangkatannya beberapa hari. Begitupula dengan ongkos hotel selama nasib mereka terlunta di embarkasi. “Kami sudah membayar jasa Indonesian Airlines, tapi mereka malah membuat jamaah haji terlunta-lunta. Efek dominonya, kami harus membayar seluruh akomodasi sampai jamaah bisa berangkat,” sesal koordinator pengurus biro perjalanan, Abdul Aziz.

Kepada seluruh biro perjalanan, Abdul mengisahkan, Indonesian Airlines berjanji membayar seluruh kerugian itu pada 27 Januari 2003. Tunggu punya tunggu, perusahaan itu tak jua membayar kewajiban mereka. Pada 18 Maret, Direktur Indonesian Airlines Rudy Setopurnomo menerbitkan sejumlah bilyet giro untuk melunasi utang perusahaan kepada sebagian biro perjalanan. Tapi, bank menolak bilyet dengan alasan tak ada dana Indonesian Airlines.

Untuk biro perjalanan lainnya, perusahaan itu juga memberikan tiga cek kontan masing-masing Rp. 1,385 miliar, Rp. 147 juta, dan Rp. 517 juta. Namun, nasibnya sama saja dengan bilyet giro.

Tak hanya sampai di situ, perusahaan itu melakukan negosiasi kembali. Mereka menyerahkan 13 ribu tiket untuk seluruh biro perjalanan dengan rute Jakarta-Surabaya dan Jakarta-Denpasar. Biro perjalanan diharapkan bisa mendapatkan uangnya kembali dari hasil penjualan tiket itu. “Tapi tiket itu juga tak bisa dijual karena Indonesia Airlines grounding (berhenti operasi-red) hingga waktu yang tak ditentukan,” keluh Abdul.

Melihat adanya unsur ‘permainan’ dalam upaya pembayaran utang, seluruh perusahaan perjaanan mengajukan somasi yang berlaku tujuh hari. Jika Indonesian Airlines tak mampu membayar utangnya, Luthfie menegaskan kliennya akan mengadukan Indonesian Airlines kepada kepolisian. “Siapa saja yang akan dituntut, komisaris atau direksi diketahui setelah penyelidikan polisi selesai,” ujar Luthfie. Gugatan pailit juga akan diajukan seiring dengan pengajuan gugatan pidana.

(Sri Wahyuni)

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X