PLN Butuh Investasi Baru Untuk Atasi Krisis Listrik
TEMPO Interaktif, Jakarta:Perusahaan Listrik negara (PLN) membutuhkan tambahan kapasitas pembangkit untuk mengatasi krisis listrik di Jawa-Bali yang saat ini tengah terjadi. “Untuk itu diperlukan sejumlah investasi baru,” kata Dirjen Listrik dan Pengembangan Energi Luluk Sumiarso dalam diskusi masalah kelistrikan di Jakarta, Rabu (4/6).
Luluk mengaku, saat ini sudah ada investor baru yang bersedia menanamkan modalnya di Indonesia. Dan, “Mereka bersedia menggunakan uang mereka sendiri” kata Luluk. Namun, Luluk belum bisa memastikan nilai investasi yang akan ditanamkan.
Menurut Luluk, pembangunan pembangkit baru itu penting untuk menambah kapasitas yang saat ini masih rendah. Namun, ia belum bisa memastikan kapan pelaksanaan pembangunannya. Ia berjanji pembangkit baru akan segera dibangun secepatnya. Selain itu, dalam waktu dekat PLN juga akan menyelesaikan renegosiasi dengan perusahaan listrik swasta. Perusahaan listrik ini akan menyelesaikan dulu proses renegosiasi, sebelum dilanjutkan soal investasi baru.
PLN, kata Luluk, belum menentukan proses tender yang akan digunakan dalam investasi tersebut. Menurut dia, kemungkinan tender akan dilakukan secara terbuka.
Ia menambahkan, untuk menambah kapsitas daya listrik, cara lain yang akan digunakan adalah melalui anak-anak perusahaan PLN. Mereka telah menyatakan kesediaannya untuk mengisi kekurangan daya itu. Menurut Luluk, anak-anak perusahaan ini bisa saja bekerjasama dengan investor-investor baru yang menang tender tadi. Bila mereka menawarkan harga baru yang bisa lebih bagus dari sekarang, cara itu akan ditempuh.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro menambahkan, ke depan cadangan listrik untuk Jawa dan Bali akan lebih diperketat perhatiannya. Kawasan ini akan mengambil dari pembangkit Muara Tawar di Bekasi yang memiliki kapasitas 800 megawatt. Rencananya tahun depan daya ini sudah bisa dimanfaatkan.
Menurut dia, pembangkit itu sengaja dibangun dengan mengunakan turbin gas agar bisa cepat selesai. “Itu pilihan terbaik dari yang pahit-pahit,” kata Purnomo. Namun, masalahnya adalah ketidaktersediaan gas, sehingga pengoperasiannya terpaksa harus menggunakan BBM. Ini mempengaruhi kinerja mesin akibatnya mesin bisa mengalami penuaan dini. (Retno Sulistyowati-TNR)
Komentar (0)
Foto Terbaru
Top Stories
Editor's Choice
- Siswa SMK Ubah Limbah Plastik Jadi BBM
- Kepala Sekolah di Bandung Tersangka Pencabulan
- Suparman Marzuki Terpilih Sebagai Ketua KY
- Polisi Bantah Salahi Prosedur Saat Demonstrasi BBM
- Mulai 1 Juli, Tarif KRL Turun Signifikan
- Mangia Optimistis Italia Juara Euro U-21
- Pilot Merpati Dilatih Simulator Pesawat Cina
Berita Utama Bisnis
- Rapat Paripurna APBN Perubahan Diwarnai Interupsi
- Pekan Depan, Harga BBM Pasti Naik
- Golkar: Jika BBM Naik, Papua Akan Mendapat Berkah
- Soal Kondom Meoong, Ini Kata Ketua Forum Pemred
- Cuaca Buruk, Bandara Adisucipto Ditutup
- Mark Zuckerberg Dicecar Pemilik Saham Facebook
- Tarif Jembatan Tol Bali Belum Tentu Rp 10 Ribu


