Jakarta Bukan Untuk Orang Miskin
TEMPO Interaktif, Jakarta: Kota Jakarta ternyata memang bukan untuk orang miskin. Pendapat ini dilontarkan Ketua Forum Warga Kota Jakarta (Fakta), Azas Tigor Nainggolan dalam acara dikusi di Jakarta Media Center, Selasa (12/8).
Tigor mencatat, selama tahun 2002 terjadi 21 kali penggusuran terhadap kaum miskin kota Jakarta. Penggusuran ini, kata Tigor, merupakan kekalahan kaum miskin seperti pedagang kaki lima, tukang becak, pedagang asongan dan lain-lain. Menurutnya, terpilihnya kembali Sutiyoso sebagai gubernur adalah kekalahan telak kaum miskin. “Padahal selama dia berkuasa kehidupan kaum miskin sudah memprihatinkan,” ujarnya.
Hal lain yang dicatat Tigor adalah mengenai makin maraknya teror bom di Jakarta. Padahal Presiden Megawati yang mendukung Sutiyoso, menjelaskan Jakarta butuh seorang tentara yang sudah berpengalaman. Namun, kata Tigor, kenyataannya justru lain, Jakarta saat ini bukan lagi tempat aman bagi warganya serta para tamu. “Kita harus bertanya dan menagih janji bahwa Jakarta akan aman di bawah kekuasaan Sutiyoso”, katanya.
Jakarta, menurut Tigor, tidak berpihak pada rakyat kecil. Katanya, pemerintah daerah sering melakukan penggusuran dengan alasan menjaga ketertiban. Penggusuran yang dilakukan baik terhadap pedagang maupun tukang becak sering tidak manusiawi. Akibatnya, sering terjadi bentrok antara warga dan petugas ketertiban.
Tigor menyoroti langkah yang dilakukan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra, yang berpihak rakyat kecil. Ternyata pertumbuhan ekonomi di Thailand cepat pulih dari krisis moneter. “Ya, mungkin sebagai seorang mantan jendral, Sutiyoso tidak perlu malu belajar dari seorang mantan letnan kolonel polisi (Thaksin Shinawatra), membangun ekonomi yang berpihak pada rakyat kecil”, jelasnya. (Dewi Retno Suryani—Tempo News Room)













