Kebakaran Hutan Diprediksi Menurun

TEMPO Interaktif, Palembang:Departemen Kehutanan memperkirakan hingga akhir tahun ini jumlah kebakaran hutan di Indonesia akan jauh menurun dibandingkan tahun lalu. Meskipun begitu, Departemen tetap mewaspadai sekitar lima provinsi yang dianggap sebagai wilayah rawan kebakaran hutan.

Kepala Sub Direktorat Deteksi dan Evaluasi Kebakaran Hutan Departemen Kehutanan Wilistra Danny menyatakan pihaknya menganalisa hingga bulan Agustus ini intensitas kebakaran hutan dan lahan jauh menurun dibandingkan tahun lalu.

“Analisa kami menunjukkan kebakaran hutan sudah jauh menurun,” kata Wilistra, disela-sela acara “Sosialisasi Penanggulangan Kebakaran Hutan di Provinsi Sumatera Selatan”, di Palembang, Kamis (28/7). Namun dia mengaku tidak bisa menyebutkan presentase atau jumlah penurunan secara pasti. “Saya harus cek dulu datanya,” ujarnya.

Menurut Wilistra, setiap tahunnya tingkat kerawanan kebakaran hutan terjadi sepanjang bulan Juni hingga September. Sepanjang rentang waktu tersebut, lanjutnya, jumlah kebakaran hutan menunjukkan penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ia mencontohkan, dari bulan Juni hingga Juli lalu kebakaran hanya terjadi di provinsi Riau, Kalimantan Barat, dan Kaliman Tengah.

Sementara itu sekitar lima provinsi berdasarkan analisa Departemen menjadi wilayah rawan kebakaran hutan. Daerah tersebut tersebar di pulau Sumatera dan Kalimantan, yaitu Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan sebagian Sulawesi.

Menurut Wilistra penetapan provinsi sebagai wilayah rawan kebakaran itu tidak bersifat permanen. “Itu hanya berdasarkan pada pengalaman masa lalu, pola titik api (hot spot), cuaca, dan pola pemanfaatan lahan,” ujarnya.

Memasuki semester kedua tahun ini, tutur Wilistra, diperkirakan Indonesia sudah memasuki musim penghujan. “Hampir semua daerah kondisi cuacanya normal, dengan turunnya hujan,” ujarnya. Sehingga secara akumulatif sepanjang tahun ini tidak akan terjadi kebakaran hutan. “Hanya ditemui beberapa titik api saja,” tambahnya.

Selain kondisi cuaca yang mendukung, penyebab lain minimnya kebakaran hutan ini adalah sistem penanggulangan kebakaran yang mulai bekerja di masing-masing wilayah.

Wilistra menyatakan pihaknya dan pemerintah daerah di setiap provinsi secara terus menerus bekerja sama dengan pengelola hutan dan lahan untuk mengantisipasi kebakaran. Selain itu, sosialisasi di masyarakat atas dampak kebakaran hutan terus dilakukan. “Mudah-mudahan munculnya kesadaran akan pentingnya hutan dan sistem penanganan terpadu akan meminimalisir timbulnya kebakaran,” katanya.

Yura Syahrul - Tempo News Room