Kasus 27 Juli, Saksi Mengaku Diminta Mengerahkan Massa


TEMPO Interaktif, Jakarta:Dalam sidang kasus penyerbuan kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI pro Mega, 27 Juli 1996, di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Kamis (2/10), keterangan para saksi menyebutkan adanya pengerahan massa.

Saksi Sudiro mengaku diminta terdakwa Jonathan Marpaung, mengumpulkan seribu orang. Karena waktu itu baru mengenal terdakwa selama seminggu, saksi mengaku tidak tahu, pengerahan massa ditujukan untuk menyerbu kantor DPP PDI. "Dia (terdakwa, Red) bilang untuk dijadikan simpatisan PDI dalam acara dangdut di Cibubur," kata Sudiro. Lantaran tidak sanggup atas permintaan itu, Sudiro kemudian minta tolong Hendrik -temannya yang juga menjadi saksi dalam kasus ini. Akhirnya, Hendrik berhasil mengumpulkan dengan cepat, karena massa dijanjikan menyaksikan acara dangdut. Sebagian besar massa adalah para pedagang di pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.

Hal, itu dibenarkan saksi Syahrul, pedagang di pasar induk yang juga menjadi saksi. Ia mengaku mau diajak Hendrik, lantaran dijanjikan menonton acara dangdut. "Saya juga dijanjikan uang Rp 15 ribu dan diberi makan. Makanya saya mau ikut," katanya.

Pada 26 Juli 1996, massa berkumpul di Pasar Induk Kramat Jati dan menunggu jemputan truk. Sekitar pukul 18.30 WIB, Hendrik, Syahrul dan massa berangkat. "Tapi, ternyata kita di bawa ke gedung Arhta Graha," kata Syahrul. Tapi, Syahrul mengaku, begitu sampai ia langsung beristirahat karena kelelahan. Sementara, Hendrik mengaku, sempat melihat terdakwa Jonathan Marpaung tengah memberi pengerahan. "Tapi, saya tidak mendengar apa yang dia katakan," kata Hendrik.

Menurut Hendrik dan Syahrul, di Artha Graha mereka bermalam dengan massa lain. Pada 27 Juli 1996, sekitar pukul 05.00 WIB, massa berangkat dengan menumpang beberapa truk. "Ternyata, kami tidak dibawa ke Cibubur, melainkan ke Jalan Diponegoro, dan berhenti di sebuah gedung," kata Syahrul. Di depan gedung -ternyata gedung DPP PDI, yang saat itu dikuasai simpatisan PDI pro Mega, massa melihat aksi pelemparan. Semakin lama, kata Syahrul, situasi tidak terkendali. Saat kondisi chaos, ia terkena lemparan batu yang mengakibatkan dirinya pingsan. "Saya baru sadar di rumah sakit," kata Syahrul yang terpaksa dirawat di rumah sakit karena gegar otak.

Selain Sudiro, Hendrik, dan Syahrul, Jaksa Penuntut Umum (JPU) M. Manik juga menghadirkan tiga saksi lainnya: Pamudja Santoso, Erwin Ardian dan Pangikutan Sitompul. Sidang akan kembali dilanjutkan Kamis (9/10).

Nunuy Nurhayati - Tempo News Room

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
; $foto_slide_judul =

Musik/Film

; $foto_slide_judul =

Musik/Film

Wajib Baca!
X