Alex Manuputty Yakin Tidak akan Ditangkap


TEMPO Interaktif, Jakarta: Ketua Eksekutif Front Kedaulatan Maluku (FKM) Alexander Hermanus Manuputty menegaskan, pihak berwenang Indonesia tidak akan mungkin menangkap dirinya. "Saya tidak mungkin ditangkap," kata Manuputty ketika dihubungi Tempo News Room melalui telepon genggamnya, Senin (12/1) sore atau Minggu dinihari waktu Los Angeles (LA). Pasalnya, lanjut dia, dirinya dilindungi oleh pasal 14 Deklarasi Internasional Hak Asasi Manusia yang menyebutkan bahwa setiap orang berhak mencari suaka politik ke negara lain.

Sebelumnya, Manuputty mengakui dirinya kabur dari Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta. Dia meninggalkan Indonesia, menggunakan pesawat Garuda Indonesia, 21 November 2003, dan transit di sebuah negara yang tidak mau disebutkan. Perjalanan dilanjutkan dengan penerbangan langsung ke LA dan tiba keesokan harinya, siang waktu setempat.

Lebih lanjut Manuputty mengungkapkan, dirinya juga tidak takut dengan quiet diplomacy yang sedang dilakukan Pemerintah Indonesia untuk membawa pulang kembali dirinya. Dia menilai, sejauh ini belum ada indikasi bahwa dirinya sedang diintai oleh aparat keamanan Indonesia. "Itu hanya retorika saja," tegas dia.

Dia menambahkan, pihaknya Rabu (13/1) mendatang, akan mengirim surat ke sembilan negara yang mendukung perjuangan pihaknya dalam mengembalikan kedaulatan Republik Maluku Selatan (RMS). "Intinya kami meminta mereka membuka dialog kembali lewat PBB untuk mengembalikan kedaulatan RMS," jelas Manuputty.

Manuputty menjelaskan, pada 15 Mei 1971, kesembilan negara telah merekomendasikan masalah RMS di PBB. Mereka juga telah menginstruksikan kepada wakil Indonesia dan RMS untuk berdialog, namun gagal. RMS sendiri memproklamirkan kemerdekaannya 25 April 1950.

Selain itu, dalam suratnya, dia juga akan melampirkan Komunike Tonga, 18 Januari 2003, yang mengakui RMS sebagai wadah perjuangan rakyat Maluku Selatan. Dikatakannya pula, lampiran lainnya berupa sejumlah surat yang sudah pernah dikirimkan kepada Presiden Megawati Sukarnoputeri dan mantan Presiden Abdurrahman Wahid. "Saya belum bisa mengatakan sampai surat tersebut sudah mereka terima," kata dia, yang mengelak ketika diminta menyebutkan kesembilan negara itu.

Manuputty menerangkan, dirinya telah menyewa seorang pengacara berkewarganegaran Amerika Serikat untuk membantu dirinya mengajukan gugatan tentang pelanggaran hak asasi manusia kepada pihak Human Rights International (HRI). "Cepat atau lambat kita akan bertemu di meja perundingan HRI," tegas dia dengan bersemangat.

Dia menerangkan, setiap minggu, FKM di AS melakukan rapat mingguan. Saat ini FKM memiliki cabang di LA, New York, California, Seattle, dan Washington DC. Di luar negeri, perwakilan FKM terdapat di Jerman, Belanda, dan Australia. Pertemuan tahunan terakhir, kata Manuputty, digelar di California, Agustus 2003. "Kita tidak akan pernah menggunakan senjata," tegas Manuputty ketika ditanya kemungkinan menggunakan kekerasan untuk mewujudkan cita-citanya.

Faisal - Tempo News Room

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
; $foto_slide_judul =

Musik/Film

; $foto_slide_judul =

Musik/Film

Wajib Baca!
X