Kereta Api Jabotabek akan Tambah 16 Gerbong


TEMPO Interaktif, Jakarta: Kepala Humas PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi Jabotabek, Zainal Abidin menyatakan, pihaknya akan menambah jumlah gerbong yang beroperasi di Jakarta dan sekitarnya sebanyak 16 gerbong. "Penambahan ini akan direalisasikan secepatnya, paling lambat akhir tahun," katanya kepada Tempo News Room di Jakarta, Jumat (30/1).

Menurut Zainal, 16 gerbong yang diberi PT KAI dari Jepang ini diharapkan dapat meningkatkan pelayanan penumpang. Apalagi saat ini, sebanyak 91 gerbong tidak dapat beroperasi karena kelangkaan suku cadang. Penambahan ini, telah dibicarakan dalam rapat kerja PT KAI. Rapat tersebut diadakan beberapa waktu yang lalu. Zainal menambahkan, 16 gerbong tersebut merupakan gerbong bekas keluaran tahun 1976.

Abidin menambahkan, akibat kesulitan mendapatkan suku cadang, 91 dari 358 gerbong kereta api yang melayani penumpang di wilayah daerah operasi (Daops) Jabotabek terancam jadi besi tua. Ke-91 gerbong tersebut ngendon di bengkel KAI Bukit Duri, Manggarai, dan Bogor. 90 persen suku cadang harus diimpor. "Harganya mahal, karena harus dipesan secara khusus," katanya.

Gerbong yang tidak dapat beroperasi tersebut yaitu empat dari 72 gerbong KRL eksekutif, 15 dari 34 KRD (kereta rel disel) dan 72 dari 224 KRL ekonomi. Sedangkan delapan gerbong KRL bisnis dan 20 gerbong KRLI (buatan Madiun) masih beroperasi semua.

Zaenal mengatakan pesanan suku cadang secara khusus harus dilakukan karena negara asal produsen KRL dan KRD tersebut sudah tidak memproduksi suku cadang yang diperlukan. Maklum, katanya KRL dan KRD yang saat ini beroperasi di wilayah Jabotabek adalah keluaran sebelum tahun 1980. Bahkan katanya lagi, KRL eksekutif yang berasal dari hibah Jepang adalah keluaran tahun 1972.

Disamping masalah usia, faktor klasik yang menyebabkan harga suku cadang lebih mahal adalah perbedaan lebar rel di Indonesia dan umumnya negara produsen. Di Indonesia lebar rel adalah 1,06 meter. Sedangkan di luar negeri 1,4 meter. Adapun negara produsen tempat memesan suku cadang tersebut adalah Belgia (Holek) dan Jepang (Reostatic dan Hitachi).

Zaenal menambahkan, kesulitan memperoleh suku cadang itu sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Padahal jumlah gerbong yang rusak makin bertambah karena terus menerus dioperasikan. Kerusakan yang terjadi karena jumlah penumpang yang melebihi daya angkut, sehingga suku cadang yang, misalnya, diperkirakan dapat dipakai lebih dari satu tahun harus diganti sebelum waktunya.

Mawar Kusuma - Tempo News Room

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X