indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Presiden dan Perdana Menteri Irak dilantik


TEMPO Interaktif, Baghdad: Presiden Ghazi Al-Yawer dan Perdana Menteri Iyad Allawi tak mampu menyembunyikan kegembiraan. Sepanjang acara pelantikan, keduanya mengumbar senyum tiada habis-habisnya. Sesekali, Allawi melambaikan tangannya kepada peserta yang hadir di auditorium Gedung Pemerintahan Transisi, di Bagdad, Irak. "Ini hari yang sangat bersejarah, karena rakyat Irak kembali mengambil alih pemerintahan," kata Perdana Menteri Iyad Allawi.

Acara pelantikan ini berlangsung pukul 14.00 waktu setempat (sekitar pukul 19.00 waktu Indonesia Barat), setelah paginya dilangsungkan serah terima jabatan dari Paul L Bremer kepada Menteri Kehakiman Midhat al-Mahmood. Setelah mengucapkan sumpah, Presiden Yawer menyampaikan pidatonya. Intinya, dia mengajak rakyat Irak untuk jauh melihat ke depan. "Kini saatnya kita kembali ke kancah dunia internasional," kata Yawer.

Setelah itu, Perdana Menteri Allawi diambil sumpahnya dan mengucapkan pidato politiknya. "Kami telah merasa mampu untuk mengambil alih negeri kami sendiri," ujar Allawi. Selain itu, darah yang selama ini telah tertumpah, menurutnya, tak akan sia-sia. "Semua untuk demokrasi dan kebebasan kita," katanya.

Pelantikan kedua pejabat baru Irak ini berlangsung amat sederhana. Dengan latar belakang 13 bendera Irak
--simbol dari 13 provinsi-- para pejabat negara itu duduk khidmat. Undangan yang hadir di auditorium pun sangat terbatas. Selain anggota kabinet Allawi, tampak pula para bekas anggota pemerintahan transisi, diantaranya Ahmad Chalabi. Sayang, Chalabi tampak murung dan menempati tempat duduk di bagian belakang sendiri.
Bahkan Chalabi pula yang paling pertama meninggalkan tempat, seusai pelantikan.

Kepada TEMPO, Chalabi mengatakan, upacara ini merupakan hari besar bagi Irak. "Irak sekarang punya kesempatan mengatur diri sendiri," katanya. Secara tegas Chalabi menyatakan dukungannya kepada Perdana Menteri dan Presiden transisi. "Saya yakin, semua rakyat Irak pun akan mendukung mereka," ujar bekas Kepala Pemerintahan Transisi Irak ini. Tapi yang lebih penting, Chalabi menyerukan agar rakyat Irak segera bersatu dengan momentum transisi pemerintahan.

Diantara tamu undangan, tampak hadir sekitar delapan duta besar, diantaranya dari Filipina, Korea, dan
Turki. IM Hong-Jae, Duta Besar Korea, merasa optimis dunia bisnis di Irak akan segera berkembang. Dia yakin
pemerintahan baru tersebut akan bekerja semaksimal mungkin untuk menciptakan stabilitas dan keamanan
dalam negeri. Perdana Menteri Allawi pula yang menyatakan bahwa prioritas pertama pemerintahannya, selain menyelenggarakan pemilihan umum, yakni menangkap para teroris pimpinan Musab Zarqawi.

Pemerintahan transisi Irak ini akan bekerja selama kurang lebih tujuh bulan, di bawah koordinasi badan dunia PBB. Selambat-lambatnya 31 januari tahun depan, pemilihan umum harus sudah terselenggara. Sementara itu,
tanggung jawab keamanan tetap tersemat di pundak para serdadu Amerika. Bahkan para staf yang selama ini berkecimpung di hubungan masyarakat (public affairs), masih akan bekerja hingga sekitar September mendatang.

Sementara bagi rakyat Irak, terbentuknya pemerintahan oleh rakyat Irak sendiri merupakan kejadian yang
dinanti-nanti. Menurut Ahmad Talib, bekas teknisi IRaqi Airways, "Allawi dikenal baik oleh rakyat Irak. Pasti kami akan mendukung beliau," katanya. Talib juga yakin, apabila para teroris yang selama ini melakukan pengeboman berhasil ditangkap, "Irak akan tenang dan nyaman."

Qutayaba Nadham, penerjemah lepas yang tinggal di kawasan Kahramana, Bagdad, mengaku optimis atas
kepemimpinan Allawi dan Yawer. "Sudah lama kami rindu (untuk) bisa mengatur negeri sendiri," katanya. Dia juga tak ragu-ragu mengatakan, siapapun yang memimpin, "Rakyat Irak pasti akan mendukung." Yang penting, katanya lagi, dia baik dan mampu memegang teguh amanat rakyat.

Rommy Fibri - Tempo

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X