Siska Tewas Setelah Ditolak RS Ananda


TEMPO Interaktif, Jakarta:Rumah Sakit Rumah Sakit (RS) Ananda, di Jalan Raya Sultan Agung Km28, Medan Satria dituding menjadi penyebab kematian Siska Yulia, 5 tahun, warga Jalan Kali Mutu Komplek Setia Bina Sarana (SBS) Rt 03/11 Blok B 11, No. 8, Harapan Jaya, Kota Bekasi. Sebab, RS itu menolak merawat korban yang belum memiliki uang kontan Rp 1 juta untuk biaya perawatan.

Peristiwa yang penolakan pengobatan RS Ananda kepada anak dari pasangan suami istri Daswin, 30 tahun, dan Siti Maemunah, 26 tahun itu terjadi pada Jumat (16/7) dini hari.

Menurut cerita Daswin, saat masuk ke RS, kondisi tubuh korban dalam keadaan panas tinggi. Pihak RS juga belum sempat melakukan diagnosa sehingga gejala yang dialami korban belum diketahui.

Oleh pihak RS Ananda, sebelum mendapatkan pengobatan, Daswin harus membayar biaya pengobatan yang dipatok Rp 1 juta saat itu juga. Namun, karena tidak memiliki uang sebesar itu, Darwin meminta kelonggaran waktu pembayaran.
"Saya mau cari pinjaman dulu karena saat itu, belum punya uang," kata Daswin.

Namun, pihak rumah sakit tetap tidak mau kompromi sebab harga memang sudah dipatok dan dibebankan ke pasien.

Daswin yang berkerja sebagai kuli bangunan itu mengisahkan, sebelum anaknya tewas, semenjak Senin (12/7) anaknya mengalami panas tinggi. Selain itu, di
sekujur tubuhnya muncul bintik-bintik kemerahan.

Saat itu, dia mengira anak semata wayangnya hanya menderita campak saja sehingga dibiarkan dengan
harapan akan sembuh dengan sendirinya.

Sampai pada Kamis (15/7), demam tinggi pada tubuh Yulia ternyata tidak kunjung menurun. Bahkan, suhu badannya bertambah naik. Setelah itu, Daswin memutuskan untuk membawa Yulia ke klinik Mandala. Setelah diobati, kondisi Siska bukannya membaik, malah demamnya makin tinggi. Oleh dokter yang merawat, Daswin diminta menghubugi rumah sakit lain.

Akhirnya, Yulia dibawa ke RS Ananda. Sampai di RS sekitar pukul 19.00 WIB yang langsung dibawa ke ruang Unit Gawat Darurat (UGD) dan perawat juga langsung memasukan selang infus ke tangan Siska. Oleh pihak RS Daswin harus
terlebih dulu membayar uang RP 1 Juta supaya anaknya mendapatkan pengobatan segera.

"Saya ke bagian administrasi untuk pendaftaran, saya pilih yang ongkosnya satu juta. Kebetulan, saya tidak bawa uang sebanyak itu. Dan saya minta ditangguhkan pembayarannya," kata dia. Namun pihak rumah sakit menolak.

Menurut Daswin, karena tidak bisa membayar saat itu juga, dan tidak ada kelonggaran dari rumah sakit itu, perawat kembali melepaskan selang infus dari tangan Yulia yang tengah menggigil di UGD. Pasien itu pun digotong
keluar lagi. Pihak RS menyarankan untuk dirawat saja ke RSUD Bekasi yang biayanya murah.

"Anak ini kalau memang harus dirawat, ya memang harus segera dirawat, karena di sini mahal, ya harus cepat dibawa ke RSUD, di sini kita tidak bisa terima," cerita Daswin, menirukan ucapan salah satu staf RS Ananda. Saat itu juga Daswin langsung membawa ke RSUD dengan perasaan sedih karena ditolak.

Yulia akhirnya dibawa ke RSUD Bekasi, di Jalan Pramuka, Kota Bekasi. Sampai di RSUD sekitar sekitar pukul 21.00 WIB. Di sana dia sempat sempat mendapat perawatan. Tapi nyawanya tidak tertolong, dan meninggal di RSUD pada Jumat dini hari.

Ketika peristiwa itu dikonfirmasika ke Wakil Kepala Humas RS Ananda, Dessy membantah pihaknya menolak pasien. Buktinya, kata dia, pertolongan yang dilakukan pihak RS Ananda sudah dilakukan. "Upaya kami sudah cukup manusiawi. Buktinya, kami sudah sempat pasang infus untuk
pertolongan darurat," ungkapnya.

Mengenai biaya yang diberikan ke korban, Dessi mengatakan bahwa RS Ananda telah memiliki harga pengobatan. Pihaknya tidak kompromi karena biaya memang sudah dipatok. "Biaya pendaftaran itu memang dibebankan kepada pasien, kalau tidak membayarnya, biaya untuk infus itu dari mana," kata dia.

Siswanto ? Tempo News Room

Komentar (1)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
0
maaf, tidak menyalahi rs swasta, bagi masyarakat yg kurang mampu apabila yg ingin berobat pergi ke rs yg disediakan pemerintah, walaupun rs pemeritah jumlahnya sedikit/terbatas. rs swasta hanya utk masyarakat yg mampu ( penduduk indonesia 75% yg mampu dan 25% tidak mampu ).
Wajib Baca!
X