Pengusaha Rotan Cirebon Buang Limbah B3 Sembarangan


TEMPO Interaktif, Cirebon: Ratusan pabrik rotan di kabupaten Cirebon terbukti mencemari lingkungan dengan membuang limbah racun berbahaya (B3) berbentuk padat, lumpur dan cair ke tempat pembuangan sampah sementara dan akhir (TPS/TPA). Hal itu adalah hasil penelitian Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kabupaten Cirebon sejak dua bulan terakhir.

Kepala Staf Analisis Masalah Dampal Lingkungan (Amdal) KLH kabupaten Cirebon, Wahyu Suprayogi, didampingi salah seorang staf ahlinya, Deti Yulianti, mengatakan buangan limbah B3 sangat berbahaya bagi penduduk karena langsung dibuang ke tempat umum tanpa disterilisasi terlebih dahulu melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) maupun dengan tungku pembakar (insenelator). "Dari hasil penelitian kami beberapa limbah berbahaya yang ditemukan adalah seng (Zn), timbal (Pb), tembaga (Cu), chrom (Cr), dan cadmium (Cd)," tutur keduanya.

Selain menguji limbah lumpur, KLH juga menguji kualitas air tanah yang hasilnya menunjukkan bahwa kandung zat padat terlarut sangat tinggi. "Bahkan kandungan besi (Fe), kadmium (Cd), dan timbal (Pb), sudah melebihi baku mutu berdasarkan Permen Kesehatan RI No 416/MENKES/PER/IX/1990," kata Wahyu, yang juga menyatakan bahwa hasil penelitian ini sudah dilaporkan ke pihak terkait, termasuk ke Bupati Cirebon.

Sementara itu, Bupati Cirebon Dedi Supardi, mengatakan akan sesegera mungkin menegur pengusaha rotan, baik yang berskala kecil maupun ekspor yang tidak memiliki Instalasi Pengolahan Limbah (IPL) dan Intalasi Pengolahan Air Limba (IPAL) dan yang membuang limbah pabrik ke tempat pembuangan sampah umum. "Saya sangat tidak menginginkan masalah limbah B3 berdampak buruk ke masyarakat di kemudian hari. Nanti bisa-bisa saya dituduh tidak memperhatikan rakyat," tegasnya.

Selanjutnya ia segera meminta agar pengusaha-pengusaha rotan besar untuk membeli dan membuat IPAL. Sedangkan untuk pabrik-pabrik rotan kecil, Dedi berjanji akan membuatkan IPAL dengan biaya dari pemerintah daerah.

Ketika disinggung mengenai insenelator (alat penghancur limbah padat) rotan, diakui Dedi, kabupaten Cirebon belum memilikinya. "Insya Allah pada tahun 2005 nanti alat tersebut akan kita beli," katanya.

Sayangnya, tidak ada seorang pun pengusaha rotan berskala besar yang mau berkomentar mengenai hal ini. Mereka rata-rata menutup rapat-rapat pintu gerbang pabrik, dan tidak menerima wartawan terutama sejak kasus limbah ini mencuat.

Ivansyah - Tempo News Room

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X