Topik
Infografis
INDEF Minta Penjualan Saham Permata Dihentikan
TEMPO Interaktif, Jakarta:Direktur Lembaga Kajian Ekonomi dan Keuangan (INDEF) Iman Sugema meminta pemerintah menghentikan proses penjualan 51 persen saham Bank Permata. Alasannya, berdasarkan analisis lembaga itu rentang harga yang diajukan lima penawar jauh lebih rendah dibanding harga sebenarnya saham Permata.
"Jika memakai harga penawaran tertinggi saja pemerintah akan rugi Rp 600 miliar," kata Iman dalam diskusi yang diadakan oleh Forum Wartawan Keuangan dan Moneter di Jakarta, Jumat (10/9).
Kerugian Rp 600 miliar merupakan perbandingan asumsi penawaran harga tertinggi dalam tender dengan harga saham Permata terendah saat ini.
Lima konsorsium yang dipilih pemerintah sebagai calon pembeli mengajukan harga 1,8 sampai 2,39 kali harga nilai buku. Direktur Utama PT Perusahaan Pengelola Aset Negara Mohammad Syahrial telah menyatakan pemerintah akan memakai harga tertinggi yang diajukan para penawar.
Dalam menghitung nilai buku Permata, Iman memakai rumus nilai buku dengan metoda double discounted cahsflow. Dengan rumus itu yang memakai varibel suku bunga, return of equitas, pertumbuhan saham Permata, risiko, dan rasio keuntungan pemerintah diperoleh harga saham Permata antara 2,6 sampai 4 kali nilai buku.
"Jadi jika tidak ada yang menawar harga di atas 2,6 kali nilai buku, divestasi harus dibatalkan," katanya.
Tanpa memakai rumus itu pun, kata Iman, harga per saham Bank Permata di bursa saat ini sudah mencapai 3,39 kali nilai buku. Menurut Iman, sangat salah jika menentukan nilai bank ditentukan berdasarkan harga penawaran.
"Karena nilai bank sangat tergantung pada fundamental bank itu sendiri dan prospek ekonomi yang akan datang," katanya.
Selain itu, kata Iman, kriteria yang dipakai pemerintah untuk memilih calon pembeli lebih menguntungkan konsorsium asing karena memakai parameter nilai equitas.
Dengan memakai parameter itu, katanya, konsorsium asing sudah pasti akan lolos ke seleksi tahap berikutnya karena punya modal yang besar. "Bank domestik sudah pasti kalah lebih dulu," katanya.
Bagja Hidayat





