PHRI: Tingkat Hunian Hotel Tak Dipengaruhi Bom Kuningan


TEMPO Interaktif, Jakarta: Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Yanti Sukamdani Sardjoprakoso menyatakan bahwa tingkat hunian hotel bertaraf internasional di Jakarta relatif tidak terganggu dengan adanya bom Kuningan. Memang, terjadi penurunan tingkat hunian, yaitu dari 60 persen menjadi 40 persen, tapi hal itu tidak semata-mata disebabkan oleh bom, melainkan adanya akhir minggu panjang (long weekend). Hal itu dijelaskan Yanti kepada wartawan saat konferensi pers di Media Center Bom Kuningan, Hotel Sari Pan Pasific Jakarta, Selasa (14/9). "Jadi wisatawan cenderung berkunjung ke daerah lain. Buktinya di Surabaya hunian hotel meningkat," paparnya.

Demikian juga tingkat hunian hotel di berbagai daerah seperti Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, menurut Yanti juga tidak dipengaruhi oleh ledakan di Jakarta. Bahkan di Bali, tingkat huniannya malah naik.

Secara umum, Yanti menyimpulkan belum ada pengaruh signifikan dari tragedi bom Kuningan terhadap sektor perhotelan di Indonesia. "Salah satu indikasinya adalah dari hotel jumlah kamar 400, jumlah yang keluar sekitar 20, dan itu normal," ujarnya.

Bagaimanapun juga, Yanti mengatakan PHRI terus mengupayakan langkah-langkah meningkatkan jumlah hunian hotel. Langkah-langkah tersebut, jelasnya, adalah dengan bekerja sama dengan Yayasan Keselamatan Masyarakat Indonesia dalam usaha peningkatan keamanan dan keselamatan. "Sesuai dengan rekomendasi Sidang Umum WHO 31 September 1997 di Buenos Aires, Argentina, kami mengadakan program yang di luar negeri terkenal dengan nama program 911," paparnya. Yanti juga menghimbau agar seluruh hotel dan rumah makan di Indonesia dapat meningkatkan layanan keamanannya.

Selain itu PHRI juga telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Polri. MoU tersebut sebagai bentuk kerjasama PHRI dengan Polri dalam hal pengadaan perangkat keras (hardware) seperti peralatan keamanan, dan perangkat lunak (software) seperti bantuan pelatihan terhadap tenaga keamanan hotel.

Yanti yang juga menjabat sebagai ketua Asosiasi Perhotelan dan Restoran negara-negara Asia (Asian Hotel and Restourant Association/ AHRA) mengungkapkan, Asosiasi perhotelan di negara-negara lain di Asia mendukung dan bersedia bekerjasama untuk meningkatkan tingkat hunian hotel di Indonesia. "Kebetulan pada saat peristiwa itu (bom Kuningan) saya sedang membuka kongres di Bangkok. Teman-teman langsung menyatakan simpatinya dan bersedia membantu agar warga negaranya tetap berkunjung ke Indonesia," ujarnya.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama Sekretaris Jendral Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (ASITA) Yekti P. Suradji mengatakan, belum ada dampak dari peringatan perjalanan (travel warning) terhadap tingkat perjalanan wisatawan Amerika ke Indonesia. "Sampai saat ini belum ada pembatalan terhadap kunjungan ke Indonesia," katanya.

Rina Rachmawati - Tempo News Room

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X