Paranoidnya Polisi Cianjur

TEMPO Interaktif, Cianjur: Gara-gara nama Hambali-yang diduga teroris, polisi Cianjur jadi paranoid. Hambali, 32 tahun, warga Kampung Ciseureuh RT 04/01 Desa Cimaragang Kecamatan Cidaun Kabupaten Cianjur,sekitar 180 kilometer arah selatan dari kota Cianjur,jadi korban. Polis menangkapnya dan menginterogasi selama 16 jam. "Salah tangkap,"gumam Hambali. Pria bertubuh kecil dan berkumis jarang itu tampak duduk lesu, bersender ke dinding rumahnya yang terbuat dari kayu. Hambali jadi trauma. Berkali-kali matanya melirik ke arah luar.

Hambali ditangkap aparat polisi dari gabungan tim antiteror Polda Jabar dan Polres Cianjur serta Polsek-Polsek terdekat, karena beberapa hari sebelumnya kedatangan 5 orang tamu ke rumahnya, 11 Oktober silam.

Kelima tamu Hambali disangka polisi ada kaitan dengan jaringan teroris yang dikembangkan Dr Azahari dan Nurdin Moh. Top. Sayang, fakta tersebut bak langit dan bumi. Polisi berusaha ingin membuktikan ke-5 tamu tadi memiliki kaitan dengan para pelaku bom. Polisi jadi paranoid, karena instruksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menangkap dua bomber asal Malaysia itu dalam waktu 100 hari. Padahal, kelima tamu Hambali adalah saudara-saudaranya dari Kampung Citiis Kecamatan Pagelaran.

Penggerebekan Hambali Ciseureuh juga bikin heboh, warga setempat. Jumat pagi (22/10), sekitar pukul 06.00 WIB, tak kurang dari 20 orang aparat polisi bersenjata laras panjang mengepung sebuah mesjid dan madrasah di Kampung Ciseureuh. Selain itu, rumah Hambali pun disatroni sekitar 4 orang polisi. "Saya tak bisa berbuat apa-apa ketika polisi meminta saya ikut. Melihat moncong senjata, saya sudah gemetaran," ujar ayah dari dua anak itu.

Setelah diinterogasi Hambali membuktikan, bahwa tamunya yang pernah datang itu memang saudara-saudaranya. Setelah itu Hambali dilepas. "Jika berangkat dikawal puluhan polisi, pulangnya saya hanya diantar tukang ojek tetangga saya,"katanya.

Gara-gara paranoid polisi, ketentraman warga Kampung Ciseureuh menjadi terganggu. Kampung yang dihuni 45 KK itu selalu curiga pada tamu yang melewati desa yang berbetasan dengan Kabupaten Garut itu. "Padahal, kami bukan orang-orang yang biasa mencurigai orang lain. Tapi, trauma disatroni petugas bersenjata lengkap, membuat warga di sini menjadi sensitif," ujar Abidin, 49 tahun, Ketua RT 01.

Meskipun tak pernah tahu urusan soal bom, cerita Hambali (salah) ditangkap seakan-akan mengingatkan kembali warga pada sosok yang selama ini dianggap teroris kelas wahid, Hambali alias Encep Nurjaman alias Riduan Isomudin. Untungnya, Hambali yang itu (konon) sudah tertangkap dan sekarang berada di tahanan Amerika Serikat. "Lengkap sudah, di Ciseureuh juga ada Hambali,"Kata ketua RT bercanda.

Deden Abdul Aziz