Usaha Ritel Tumbuh 15 Persen

TEMPO Interaktif, Jakarta:Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memperkirakan sektor usaha ritel tahun ini hanya tumbuh 15 persen dibandingkan tahun lalu.

“Jika kondisi ekonomi terus membaik, pertumbuhan sektor ritel tahun depan bisa mencapai 30 persen,” kata Handaka, Ketua Aprindo di Jakarta

Menurut dia, masalah yang dihadapi sektor ritel saat ini adalah rendahnya daya beli masyarakat. Selain itu, masih sering terganjal birokrasi pemerintah. Berbagai izin yang dibebankan pada usaha ritel menghabiskan pengeluaran yang cukup banyak.

"Beberapa izin menjadi tidak bermasalah kalau diperlukan, namun apabila tiap tahun izin tersebut harus diperpanjang akan menjadi beban yang cukup besar,"kata Handaka.

Menurut Joseph Renyut, Kepala Humas Grup modern, salah satu kelompok usaha yang bergerak di sektor ritel, daya beli masyarakat sangat mempengaruhi perkembangan usaha ritel.

Daya beli yang rendah berpengaruh terhadap besaran penjualan yang diperoleh ritel.

Sehingga, perbaikan ekonomi sektor riil yang terkait dengan daya beli masyarakat diharapkan segera diatasi pemerintah. "Semakin tinggi daya beli masyarakat akan semakin tinggi besaran konsumsinya," katanya.

Saat ini, lanjutnya, kondisi ekonomi makro sudah cukup berhasil dibangun, Namun, ekonomi makro yang tidak didukung dengan pemerataan membuat daya beli masyarakat tidak meningkat.

Berdasarkan survei Aprindo, lanjutnya, jumlah
tenaga kerja yang terlibat dalam Aprindo sekitar 640.000 orang.

Ke depan, tutur Handaka usaha ritel akan dikembangkan dengan memangkas jalur distribusi. "Dengan memangkas jalur distribusi, harapannya harga barang yang jatuh ke tangan ritel dan konsumen lebih murah," ujarnya. yuliawati