Bank Muamalat Minta Tambahan Modal

TEMPO Interaktif, Jakarta:Bank Muamalat Indonesia akan meminta pinjaman kepada pemerintah minimal Rp 200 miliar sebagai tambahan modal tahun depan. Dengan tambahan modal ini, Bank Muammalat diharapkan bisa meningkatkan pembiayaan sebesar Rp 2 triliun pada 2005.

Direktur Utama Bank Muamalat, A. Riawan Amin mengatakan tambahan modal ini diharapkan bisa meningkatkan pembiayaan 10 kali dari modal baru itu. "Sebentar lagi kami ajukan proposalnya kepada menkeu. Jumlahnya berapa yang mau dikasih saja," kata dia dalam acara buka bersama di Muhammadiyah Centre, Jakarta, Rabu (3/11) sore.

Hingga akhir September 2004 ini, Bank Muamalat telah mengucurkan pembiayaan kredit sebesar Rp 3,5 hingga Rp 3,7 triliun. Sementara, lanjut Riawan, target sampai akhir tahun 2004 mencapai Rp 4 triliun. "Kami targetkan pembiayaan naik lagi 50 persen pada 2005 menjadi Rp 6 triliun," kata dia.

Namun, tambahnya, Bank Muamalat akan menemui kesulitan dalam mengucurkan kredit ini kalau tidak ada modal baru. Ia berharap pemerintahan baru bisa memberikan pinjaman kredit kepada bank syariah ini. "Hingga saat ini belum ada syariah yang dikasih modal. Bank konvesional kan triliunan," katanya.

"Kalau pemerintah melihat kelebihan bank syariah, mestinya logikanya akan didorong".

Dia menambahkan, tambahan modal juga akan datang dari Bank Pembangunan Islam atau Islamic Development Bank (IDB). Namun, lembaga ini baru bisa memberikan tambahan modal kalau sudah ada tambahan modal sebelumnya. Ia mengatakan lembaga ini telah berkomitmen memberikan tambahan modal sebesar 35 persen dari calon pemodal. Artinya, kalau pemerintah mau memberikan Rp 200 miliar, IDB bersedia memberikan tambahan 35 persen dari Rp 200 miliar itu.

Hingga saat ini, kepemilikan saham Bank Muamalat adalah IDB sebesar 35,71 persen, Abdul Rohim (25,1 persen), Rizal Ismael (12,03 persen), Abbas Adhar (7,12 persen), Badan Pengelola Dana Ongkos Naik Haji Indonesia (5,34 persen), serta masyarakat lainnya sebesar 14,7 persen.

Riawan mengatakan alternatif tambahan lainnya bisa ditempuh dengan cara menjual saham ke publik. Kemungkinan Bank Muamalat akan melakukan penawaran perdana saham ke publik dua tahun yang akan datang. (yandi mr)