Gus Dur Kemungkinan Besar Perkuat Syuriah NU


TEMPO Interaktif, Solo: Kembalinya Abdurrahman Wahid ke Nahdatul Ulama untuk menduduki jabatan di Syuriah, sangat terbuka. Selain karena pernah menjabat sebagai Ketua Umum Tanfidz Pengurus Besar NU selama tiga periode, Gus Dur saat ini juga masih menjabat sebagai Wakil Dewan Mustasyar atau penasihat PB NU. Kembalinya Gus Dur diyakini akan memperkuat supremasi syuriah yang selama ini terkesan tidak mampu mengontrol tanfidz. "Dengan catatan Gus Dur juga harus meninggalkan arena politik," ujar Wakil Chatib Syuriah PC NU Klaten, M Jazuli, Rabu (3/11).

Menurut Jazuli yang bersama dengan kaum muda membentuk NU Crisis Center ini, supremasi syuriah memang sangat diperlukan untuk mengontrol dominasi tanfidz. Oleh karena itu selain menggantikan figur kepemimpinan yang memiliki komitmen untuk mengembalikan NU ke khitah 1926, mekanisme organisasi juga harus dibenahi. Selama ini, pengurus Tanfidz dipilih langsung muktamirin seperti syuriah, sehingga pengurus tanfidz merasa sama kuatnya. "Ke depan harus ada perubahan, agar tanfidz yang melenceng dari garis organisasi bisa dipecat," tegasnya.

Dia mengharapkan, dalam muktamar yang bakal diselenggarakan akhir November di Solo, NU akan mengubah mekanisme pemilihan tanfidz. Dengan memperkuat posisi syuriah maka akan menjadi lembaga kontrol. Sedangkan agar syuriah tidak menjadi lembaga yang dominan bahkan cenderung oligarki juga harus dikontrol oleh Dewan Mustasyar.

"Di dalam AD/ART, sebenarnya syuriah memang lebih kuat, tetapi di dalam implementasinya tidak, karena sama-sama dipilih langsung muktamirin. Dalam Musyawarah Besar Warga NU di Cirebon lalu diusulkan rumusan memilih tanfidz bahwa muktamin hanya memilih beberapa calon untuk diusulkan ke syuriah. "Lembaga syuriahlah yang memutuskan, sehingga nantinya dapat dikontrol langsung, kalau salah ya langsung dipecat atau dengan menggelar mukmar luar biasa atas rekomendasi mustasyar," jelas menantu kiai karismatik KH Muslim Rifa'i Imampuro.

Penguatan supremasi syuriah tersebut juga mendapat dukungan dari mantan Ketua PC NU Solo, Dian Nafi’. Hal itu terkait dengan perubahan konstelasi di tubuh NU yang dinilainya dalam dua pusaran besaran, yakni makin demokratisnya organisasi NU serta secara sosiologis makin ditinggalkannya pola-pola pedesaan atau tradisionalitas agraris di tubuh NU. Dengan keadaan ini, menurut dia, NU perlu dipimpin figur yang mampu mengakomodasi berbagai kepentingan, tapi tetap berpegang pada khitah 1926. Pengelola Ponpes Al Mu’ayad Windan ini mengatakan dirinya memang mendengar suara-suara yang menghendaki agar Gus Dur duduk di lembaga syuriah.

Selain mendorong Gus Dur untuk menduduki lembaga Syuriah, sumber-sumber di lingkungan NU menyebutkan Hasyim Muzadi tidak boleh lagi memperpanjang kepemimpinannya di NU. Mereka menyebut figur Mustofa Bisri sebagai orang yang paling tepat menjadi Ketua Umum PB NU menggantikan Hasyim Muzadi. Hanya saja, budayawan ini jauh-jauh hari telah berulang kali menyatakan ketidaksediaannya menjadi Ketua PB NU.

Selain nama Gus Mus, figur yang dianggap tepat menjadi Ketua Tanfidz adalah Prof. Dr Cecep Syarifuddin, yang saat ini juga menjabat salah satu ketua PB NU.

Imron Rosyid - Tempo

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X