Dibahas, Kematian Ribuan Ikan di Pantai Ancol


TEMPO Interaktif, Jakarta:Berbagai pihak terkait sedang melakukan rapat pembahasan kasus kematian ribuan ikan yang terjadi di Pantai Ancol, Jakarta Utara Selasa (30/11). Rapat tersebut masih berlangsung saat ini (1/12) di kantor Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta, Kuningan, Jakarta Selatan.

Darjamuni, Kepala Suku Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Jakarta Utara menyampaikan, beberapa instansi yang ikut terlibat dalam pembahasan ini antara lain; Dinas dan Suku Dinas BPLHD Jakarta Utara, Dinas dan Suku Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Jakarta Utara, Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Lembaga Ilmu Pengetahuan ndonesia (LIPI).

Berdasarkan informasi yang diperoleh TNR, ribuan ikan ditemukan dalam keadaan mabuk dan mati di pantai Ancol, tepatnya pantai Festival dan Marina. Ikan tersebut ditemukan mengambang dalam radius 300 sampai 400 meter dari tepi pantai. "Kejadian itu terjadi pada pukul 05.00 kemarin," kata Supardiyo, Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Jakarta Utara dalam keterangan persnya.

Menurut Supardiyo, jenis ikan yang ditemukan mati tersebut umumnya ikan yang kecil dan berbentuk pipih. Berbagai jenis ikan yang terdampar dalam kondisi mabuk , terdiri dari ikan Sembilang, Kerapu, Kepiting, Moa, Kerapu, Kakap, Bandeng Belanak, Ayam-Ayam, Udang, dan ikan Pari. "Perbandingan yang mati dan mabuk sekitar 90 banding 10," kata Supardiyo.

Pihak BPDLH, kata Supardiyo, Selasa lalu (30/11) sudah mengambil sampel air, lumpur, dan ikan. Sampel air di ambil di tiga titik pantai pada waktu yang berbeda. Sampel pertama diambil pada pukul 13.00 di depan restoran Simpang Raya, pesisir pantai Ancol. Sampel kedua diambil pada pukul 13.30 di depan pantai Marina, dan sampel terakhir diambil pada pukul 16.50 di depan stasiun Gondala (kereta gantung). Jenis ikan yang diambil menjadi sampel adalah jenis Moa, Sembilang dan Kerapu.

Supardiyo juga memaparkan bahwa para nelayan dan masyarakat umum berebutan untuk mengambil ikan tersebut. Jumlah ikan yang diambil tersebut mencapai 4 sampai 6 karung beras. Masyarakat juga langsung membakar dan mengkonsumsi ikan ikan itu. Sementara ini belum ada keluhan, sakit perut, mual, atau yang lainnya," kata Supardiyo.

Tito Sianipar

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X