Libya Usulkan Penurunan Produksi Minyak


TEMPO Interaktif, Jakarta:Rencana untuk menurunkan produksi ini diajukan oleh Libya. Libya mengusulkan pengurangan produksi sebesar 1 juta barel per hari, tapi usulan itu belum tentu disetujui anggota OPEC lainnya.

Para menteri perminyakan anggota OPEC hari ini mulai berdatangan ke Kairo, Mesir untuk membahas rencana organisasi itu pada kuartal pertama tahun depan. OPEC akan mulai melakukan pertemuan pada Jumat (10/12).

Menteri Perminyakan Libya Fathi Hamed Ben Shatwan mengatakan, OPEC telah bekerja sangat keras ketika harga minyak melambung. “Sekarang anggota OPEC kembali harus bekerja dengan cara yang sama, ketika harga minyak mulai turun terus,” kata Shatwan.

Menurut dia, 11 anggota OPEC harus menurunkan produksinya kembali di bawah kuota. Anggota OPEC saat ini diperkirakan memproduksi 1-1,5 juta barel per hari di atas kuota.

Negara-negara pengekspor minyak ini pada November menggejot produksi sebanyak 9,5 juta barel per hari atau 700 ribu barel melebihi kuota. Total produksi organisasi tersebut saat ini mencapai 27 juta barel per hari.

Penurunan sebesar 1 juta barel per hari itu untuk saat ini cukup untuk meredam turunnya harga minyak. “Tapi selanjutnya, pada semester kedua tahun depan, bisa saja lebih,” katanya.

Namun, Presiden OPEC Purnomo Yusgiantoro menegaskan, OPEC akan menunda rencana untuk menurunkan produksi sampai gambaran tentang ketersediaan dan permintaan minyak pada kuartal I/2005 sudah lebih jelas.

“OPEC akan melakukannya (menurunkan produksi), tapi kami akan melihat situasinya dulu pada kuartal pertama nanti,” kata Purnomo, yang juga Menteri Pertambangan dan Energi Indonesia, sebelum meninggalkan Jakarta menuju Kairo. “Menurut saya, lebih baik menunggu dulu, karena musim dingin masih berlangsung.”

OPEC yang memasok 40 persen minyak di dunia, selama beberapa bulan terakhir terpaksa menggenjot produksinya sampai melebihi kapasitas produksi untuk menyeimbangkan harga minyak yang meroket. Harga minyak pada Oktober sempat meroket hingga US$ 55,67 per barel, tertinggi sepanjang sejarah di bursa komoditas berjangka New York atau New York Mercantile Exchange.

Harga minyak membumbung tinggi akibat tingginya permintaan di dunia, kekhawatiran dirusaknya fasilitas pabrik pengilangan minyak di Irak, Nigeria, dan Rusia. Badai Ivan yang melanda Mexico, juga berpengaruh terhadap melambungnya harga minyak dunia tersebut.

Sementara itu, harga minyak pada awal pembukaan perdagangan Rabu (8/12) naik. Mnyak mentah ringan untuk kontrak pengiriman Januari naik 48 persen menjadi US$ 41,94 per barel di New York Mercantile Exchange. Sedangkan di London, minyak Brent juga naik US$ 42 sen menjadi US$ 38,69 per barel.

AFP/AP/Grace S. Gandhi

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X