TNI 'Pelajari' Suap Pembelian Tank Scorpion
Grafis Terkait
TEMPO Interaktif, Jakarta: Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto kemarin mengaku akan mempelajari dugaan suap dalam pembelian tank Scorpion pada 1994. Dalam kasus ini, Alvis, produsen tank canggih dari Inggris itu, dituduh memberi uang pelicin kepada putri mantan presiden Soeharto, Nyonya Siti Hardijanti Rukmana (Tutut).
Sutarto mengaku belum mengetahui masalah ini. "Zaman tahun 1990-an itu saya masih kroco, jadi belum tahu. Akan saya dalami dulu (masalahnya)," katanya. Waktu itu, Sutarto menjadi Asisten Operasi Kodam Jaya.
Ihwal dugaan suap itu dilansir harian Inggris The Guardian dalam lima hari terakhir. Mengutip dokumen kesaksian eksekutif Alvis, Guardian menulis, perusahaan itu menyetorkan 16,5 juta pound sterling (sekarang sekitar Rp 291 miliar) kepada Tutut. Ini dilakukan untuk memuluskan transaksi penjualan 100 unit Scorpion, salah satu produk Alvis, senilai 160 juta pound sterling (sekarang sekitar Rp 2,8 triliun).
"Madame Tutut," demikian eksekutif Alvis, Nick Prest, memanggil mantan Menteri Sosial itu, datang ke London pertama kali pada Februari 1994. Ia bertemu dengan Prest dan dua petinggi Alvis, Trevor Harrison dan Lionel Steele. Tutut mengaku mewakili perusahaan Global Select. "Tutut mendorong kami menjadikan dia dan rekan bisnisnya sebagai perusahaan konsultan (dalam penjualan)," kata Prest.
Alvis menandatangani perjanjian dengan Tutut pada 4 Mei 1994 dan menjanjikan komisi untuk putri tertua Soeharto itu atas "bantuannya pada penjualan tank Scorpion". Tutut kembali datang ke Inggris dua bulan kemudian (Juli 1994) dan mengunjungi pabrik Alvis di Coventry. Ia mengajak Letnan Jenderal Hartono dan Letnan Jenderal H.B.L. Mantiri untuk "meyakinkan militer agar membeli Scorpion".
Rini Soewondho, pemilik PT Surya Kepanjen, mitra lokal Alvis di Jakarta, bersaksi, pencairan anggaran saat itu hanya bisa dilakukan jika didukung Presiden Soeharto. Untuk itu, kata dia, biasanya diperlukan dukungan dari lingkaran dalam Cendana.
Akhirnya, Alvis mendapatkan kontrak pembelian 50 tank Scorpion dengan harga 1,6 juta pound per unit. Pembelian pertama ini disetujui pemerintah Inggris setelah berbagai upaya lobi dilakukan Alvis. Izin ekspor keluar pada Maret 1995.
Alvis kembali mendekati Tutut untuk mendapatkan kontrak penjualan yang lebih besar. Kesepakatan pembayarannya ditandatangani dengan perusahaan baru Tutut, Basque, yang berbasis di luar negeri.
Muncul masalah baru karena Korea menawarkan barang yang sama dengan termin kredit yang sangat mudah dan murah. "Kami tidak mungkin memenangi persaingan dengan Korea.... Madame Tutut adalah cara untuk kembali memenanginya," demikian dokumen itu. Meski tank pertama yang dibeli tidak berfungsi normal, Indonesia bersedia mengeluarkan dana 80 juta pound sterling tambahan untuk membeli 50 Scorpion baru.
Dokumen itu juga menunjukkan, penyuapan dilakukan Alvis di setiap tingkatan untuk memastikan mulusnya penjualan. Rini Soewondho, misalnya, bersaksi, "Menteri Pertahanan memerintahkan agar setiap pembelian peralatan pertahanan dari perusahaan asing harus melalui agen milik pensiunan tentara atau keluarganya."
Rini juga bersaksi bahwa ia dan saudaranya, Didie, putra Brigjen Soewondho, pun menjaga kedekatan dengan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat Letjen Sahala. Namun, sang Jenderal ternyata meminta bagian tersendiri dengan melibatkan PT Truba yang disebutkan "perusahaan milik ABRI".
Tutut, melalui pengacaranya, Elsa Syarief, menolak berkomentar. Menurut Elsa, tuduhan itu dikeluarkan oleh pihak-pihak yang bersengketa di pengadilan. "Jadi," katanya, "itu tidak ada kaitannya dengan Mbak (Tutut)."
Baik Jenderal Hartono, Mantiri, maupun Rini Soewondho belum bisa dimintai konfirmasi. Sumber Tempo yang dekat dengan Tutut menyatakan, Hartono dan mantan Panglima ABRI Jenderal (Purn.) Faisal Tanjung lebih mengetahui masalah ini.
Menurut sumber, TNI AD memilih Scorpion karena perusahaan pemasoknya gencar mendekati Hartono. Padahal Faisal lebih suka jika Angkatan Darat menggunakan tank Korea.
l dimas /bina b/istiqomatul/budi s
Komentar (0)
Berita Terkait
Top Stories
Foto Terbaru
Editor's Choice
- Farhat Jadi Tersangka, Ahok Sudah Lupa
- Safari 'Pencitraan' 2014, Gita Wirjawan Menjawab
- Jurus Sukses UN SMAK 1 BPK Penabur Jakarta
- Ini Syarat Menjadi Manajer Manchester City
- Orang Cerdas Tak Mampu Lihat Gerakan Besar?
- Robot Pintar Ini Digerakkan oleh Ponsel
- X-Wing, Pesawat Luar Angkasa Star Wars, Mendarat di New York














