indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Tentara Pukul Relawan Sipil di Aceh


TEMPO Interaktif, Banda Aceh:Seorang relawan dari Posko Penanggulangan Bencana Alam Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Anggi Teguh Wibowo, dipukul seorang aparat TNI di depan pemancar TVRI, Mata Ie, Banda Aceh.
"Saya dipukul dua kali, sampai bibir kiri robek dengan tiga jahitan," kata Anggi, Senin (10/1).

Saat mengadu, bibir kiri anak muda berusia 23 tahun itu membengkak. Pada ujung bibir kiri atasnya terlihat bekas jahitan. "Sehingga sukar bicara, kepala pusing, dan tak bisa melakukan aktifitas sebagai relawan,"kata Anggi.

Menurut Anggi, peristiwa terjadi pada Ahad (9/1) pukul 10.30 WIB. Ketika itu dia bersama sekitar sepuluh relawan dari Yogyakarta sedang naik Panther pick-up, mengantarkan bahan logistik untuk para pengungsi di Mata Ie. Karena belum mengetahui lokasi, setibanya di depan pemancar TVRI kendaraan berjalan pelan, dan semua relawan memperhatikan dengan seksama lokasi sekitar. Begitu juga dengan Anggi yang duduk di belakang dengan mengenakan kaca mata hitam.

Tanpa disadari, di belakang mereka mengikuti sebuah mobil dinas tentara jenis Katana warna hijau berplat nomer 4250-00. Sesampainya di Mata Ie, sopir mobil tentara membunyikan klakson beberapa kali sambil memberi aba-aba yang belum dimengerti.

Anggi yang mengetahui ada mobil tentara membunyikan klakson, mengamati mobil tersebut sambil bertanya kepada rekan-rekannya. "Mobil tentara membunyikan klakson, ada apa?," kata Anggi kepada rekannya, Willy. Karena diklakson berkali-kali, akhirnya sopor relawan menghentikan laju kendaraannya.

Begitu berhenti, tentara yang menyetir keluar dari mobil. Tanpa bertanya lagi, tentara itu langsung memukul mulut Anggi. Sambil menahan sakit, Anggi sempat bertanya kepada tentara yang memukulnya. "Apa salah saya?"kata Anggi.

Bukan jawaban lisan yang di dapat, melainkan bogem kedua, sehingga bibir kirinya robek. Setelah melakukan pemukulan, tentara itu langsung pergi. Anggi yang berdarah-darah, diselamatkan tim relawan kesehatan dari Republik Yaman. "Di sana bibir saya dijahit,"kata Anggi.

Atas peristiwa yang menimpanya, Anggi sedang mempersiapkan laporan ke Pangdam Iskandar Muda dan Polda NAD. "Laporan sedang disusun, dan Pangdam harus bertanggungjawab,"kata Anggi.

Anggi menyayangkan sikap aparat yang bertindak kasar. "Harusnya mereka menjadi pelindung relawan. Kami sudah mengevakuasi puluhan mayat, tapi diperlakukan begini,"ujarnya. Kini, untuk sementara Anggi tidak melakukan aktifitas kemanusiaannya. Padahal tenaga mudanya masih amat dibutuhkan para korban gempa dan gelombang tsunami.

Ali Anwar/Setri Yasra

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X